Tag Archives: Public Health

Saat George melarang ‘pegi-pegi’

Siapa George?

Dia bukan mantan presiden Amerika tapi dia mungkin bisa melarang kamu pegi-pegi (bepergian) kemana-mana.

Trus kenapa?

Ya George adalah nama aplikasi berbasis mobile. Dan George merupakan salah satu bagian dari teknologi 2.0 dimana saat ini ngetren kami mengatakannya sebagai PH 2.0 aka Public Health 2 point 0. Aplikasi mobile berbasis iOS dan Android yang bernama “George”. George bukan George Bush atau yang lain.

Aplikasi ini sejatinya merupakan sebuah aplikasi travel warning juga early warning yang memberi kita sebuah peringatan yang bisa dikatakan sebuah bentuk preventif saat kita ingin bepergian ke sebuah negara atau wilayah. Tidak cukup itu saja, dengan mengetahui posisi kita (dibantu gps location di hape kita) George memberikan data mengenai tingkat kerawanan penyakit suatu daerah.

Tingkat kerawanan penyakit/infeksi dalam satu daerah diklasifikasikan menjadi warna Biru, Kuning dan Merah. Zoning warna tersebut sangat membantu karena disertai dengan referensi penyakit yang ada dan pencegahannya.

Data yang didapat ini saya yakin dari sebuah “Big Data” entah itu dari data early warning CDC atau laporan kasus infeksi beberapa center termasuk hasil ekstraksi data besar dari beberapa daerah. Apapun itu sepertinya data akan semakin bertambah setiap kali orang mengunduh dan menginstall aplikasi ini di gawai mereka. Karena kita dapat berpartisipasi dengan mengisi data imunisasi dan vaksinasi pribadi kita. Sehingga bukan tidak mungkin data ini digunakan sebagai informasi tingkat kerawanan infeksi atau kemungkinan terjadinya KLB dan Wadah. Masih ingat kan KLB Difteri di Indonesia yang berbuah ORI.

Disaat kita sedang debat kusir soal politik pilkada dan ekses negatif lainnya, disaat itulah negara lain sudah memikirkan sebuah bentuk kemanusiaan yang berkemajuan dengan teknologi 2.0 nya. Khususnya di bidang kesehatan.

Ini saya sertakan juga Screenhot Video aplikasi “George”. Segera meluncur gih ke App Store atau ke Google Play.

p.s: makasih Prof. Tjandra Yoga Aditama sudah sharing di status Facebook tadi. Ini melengkapi penjelasan beliau.

Bagaimana bisa RUANG GERAK ROKOK terbatas?

Image

Beberapa waktu yang lalu tepatnya hari rabu tanggal 9 Januari 2013 salah satu teman di Kementrian Kesehatan memposting pemberitahuan tentang Terbitnya Peraturan Pemerintah No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Sontak saya kaget.

Kekagetan saya bukan karena “surprise” karena akhirnya PP ini disahkan, tetapi lebih karena kenapa baru sekarang? Sewaktu saya masih di bangku perkuliahan dulu draft mengenai Peraturan Pemerintah ini menjadi pertentangan bak lingkaran setan. Tapi buang saja pendapat saya barusan, Toh pada akhirnya kemarin Presiden SBY sudah menekennya. 24 Desember kemarin SBY “diam-diam” sudah menekennya. Pemberlakuan PP ini berlaku efektif 18 Bulan lagi. Berarti juga 18 bulan lagi masih ada persiapan untuk melakukan langkah antisipatif entah di pihak yang pro maupun kontra.

Butuh setidaknya 3 tahun bagi pemerintah untuk menimbang-nimbang desakan para aktivis anti rokok untuk meneken Peraturan Pemerintah. Seperti pernyataan Ketua Umum Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Prijo Sidipratomo yang dikutip jadi Jawa Pos kemarin bahwa walaupun tertatih-tatih, akhirnya Indonesia masuk ke negara yang beradap karena sudah mempunyai Peraturan Pemerintah yang mengatur pengendalian rokok.

Beberapa salinan penting mengenai PP No.109 tahun 2012 adalah bahwa produk tembakau wajib mencantumkan peringatan kesehatan, informasi mengenai kadar nikotin dan tar sesuai hasil pengujian, dilarang memuat kata-kata promotif rokok.

Melihat angka total produksi rokok 2010-2012 dari 249,1 miliar batang menjadi 263 miliar batang pada tahun kemarin. Memang Pemerintah harus rela dan berani untuk mengambil kebijakan non populis macam ini.

Untuk lebih jelas mengenai Peraturan Pemerintah ini bisa didownload disini

Saya jadi bergumam, semoga saja saya tahun ini melihat bungkus rokok sudah memuat gambar-gambar yang menyeramkan seperti di posting blog saya sebelumnya yang memuat kebijakan mengenai bungkus rokok di Australia. Dan saya tidak lagi menjumpai baliho besar di jalan raya yang dikuasai media media provokatif industri rokok.

Semoga…

 

Regulasi Bungkus Rokok?

Kali ini saya iseng nulis tentang persoalan bungkus rokok di Australia. Kenapa? ya, mungkin kalau anda googling atau yang pernah kesana pasti akan tahu kalau disana regulasi tentang bungkus rokok ini diatur ketat. Saking ketatnya bahkan bisa disebut SERAM. Bagaimana seramnya anda bisa melihat digambar ini.

280718-roxon-with-cigarette-packSalah satu unsur yang medorong perubahan termasuk perubahan di dunia kesehatan masyarakat adalah regulasi atau kebijakan pemerintah. Negeri Kangguru itu memberlakukan peraturan bahwa rokok yang dijual harus dibungkus dalam kemasan seragam yang diatur oleh pemerintah.

Di sana kebijakan macam itu bisa tegak karena memang pemerintah sudah tahu benar bahwa setiap tahunnya ada sekitar USD 33 Miliar yang dikeluarkan ‘percuma’ untuk mengobati penyakit akibat rokok, seperti yang dirilis Bloomberg. Di Australia sana sekitar 900.000 jiwa “terbunuh” karena rokok selama 6 dekade terakhir. Jumlah yang fantastis jika di Indonesia bisa lebih tentunya. Karena di sini regulasi dan kesadaran masih rendah.

Low Regulation, Low Impact…

Belajar lagi soal regulasi bungkus rokok. Di Australia kebijakan mengenai bungkus rokok tersebut diatur secara sentralistik oleh Kementrian Kesehatan. Artinya yang berhak mengeluarkan bungkus rokok HANYA Kementrian Kesehatan. Jadi lagi-lagi intervensinya sangat jelas, dan tentu saja membantu kampanye PERANG BESAR terhadap industri Rokok. Secara langsung ikut menyelamatkan generasi mendatang. Efek yang mungkin timbul dari kebijakan di Australia yang bisa diadopsi di Indonesia adalah turunnya pemalsuan terhadap produk dan merek rokok yang menurunkan pendapatan pajak cukai rokok (rokok gelap).

Ilustrasi dan pemaparan singkat diatas bisa kita tarik garis merah yaitu, Perang terhadap rokok dan kampanye besar dewasa ini tidak bisa tanpa advokasi regulasi. Tapi memang dasar Indonesia adalah market sekaligus produsen yang menggiurkan bagi industri rokok jadi regulasi tersebut masih perlu dilakukan dengan lebih terorganisir dan rapi.

Dua hal yang bisa dicontoh dengan penguatan disana sini soal bungkus rokok adalah. Pertama, merubah brand identity (Bungkus produk) sehingga bisa menciptakan bahkan merubah ROKOK yang mempunyai positioning positif (Merokok itu Jantan) menjadi re-positioning baru (Misal: Merokok itu SERAM). Kedua, Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan bisa memonopoli bungkus rokok seperti yang dilakukan di Australia.

Tentunya ilustrasi saya tidak akan mudah jika political will di tinggat atas mandul dan manuver industri rokok yang lebih gesit daripada aktivis anti rokok. Heheheh..

No Regulation, No Impact!

“Sanitation is more important than independence“

“Sanitation is more important than independence“

Ungkapan tersebut tidak main-main dilontarkan oleh seorang Mahatma Gandhi, 1925. Ya kalau diartikan bahwa Sanitasi (Kebersihan) lebih utama daripada sebuah kemerdekaan. Kenapa?

Menurut saya sangat beralasan Gandhi 87 tahun yang lalu melontarkan itu. jika kita pikirkan lebih dalam bahwa masalah Sanitasi memiliki hubungan yang kuat tidak hanya pada kebersihan pribadi (Self Hygiene) tetapi juga tentang martabat manusia dan kesejahteraan masyarakat bahkan pendidikan. Gandhi membuat kebersihan dan sanitasi merupakan bagian integral dari cara hidupnya. Bahkan pada tahun yang sama dia memimpikan sanitasi total untuk semua (India).

Sanitasi adalah salah satu cara termudah dan pertama menyelamatkan masyarakat dari berbagai ancaman penyakit menular (mewabah). Hal ini menyangkut juga tentang sebuah local wisdom yang nantinya menjadi sebuah kebiasaan. Nah cara pandang kebiasaan itu bisa berbeda-beda di masyarakat.

Dengan sanitasi juga kehidupan anak di dunia bisa diselamatkan setiap 20 detiknya, jika air minum didapat dengan cara yang aman dan sanitasi dasar yang tersedia sangat baik. Bayangkan! Peningkatan kualitas sanitasi ini juga bisa mengurangi 80% dari semua penyakit. Terlebih lagi itu bisa menyelamatkan nyawa manusia per tahun lebih banyak daripada kematian karena perang.

Perbaikan kesehatan tentang Sanitasi dan kualitasnya akan memungkinkan sebuah masyarakat dengan gaya hidup yang lebih bermartabat, generasi yang berkualitas. Dan tidak lupa Quality of Life akan lebih baik.

Buang air besar dan kecil juga merupakan kebutuhan dasar manusia seperti halnya makan, minum, tidur atau bernapas. Setiap manusia harus mampu memenuhi kebutuhan dasar yang bermartabat. Sudah saatnya kita menyadari potensi sanitasi yang berkualitas bagi pembangunan manusia. Sudahkah anda menjadi bagian dari kampanye besar untuk kualitas Sanitasi yang lebih baik? Dimulai dari diri sendiri, dari yang terdekat, dari keluarga!

Dan Akhirnya saya menyampaikan Selamat Hari Toilet Sedunia (World Toilet Day) 2012. 19 November 2012.

Social Media sebagai backbone Riset??

Menurut salah satu riset yang menggunakan media jejaring sosial (Facebook) yang berjudul Analisis Potensi Penyebaran Informasi Kesehatan Melalui Jejaring Sosial (Studi Kasus Pada Forum Jejaring Peduli AIDS), maka didapat suatu hasil analisis sebagai berikut yang dapat dibaca dari hasil abstraknya:

Diprediksikan pada tahun 2015 terjadi peningkatan dari 924 000 kasus ke kasus dengan prevalensi 0,49%, dan meningkat tajam menjadi 2.117.000 kasus pada tahun 2025 dengan prevalensi 1,00%. Peningkatan ini dapat dicegah sampai kurang dari setengah bahwa ketika target akses universal dapat dicapai pada tahun 2014. Untuk pencegahan, FJPA menggunakan Facebook sebagai media penyampaian informasi. Upaya ini menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Perkembangan ini menjadi menarik untuk mempelajari, bagaimana efektivitas Facebook Jaringan Media Sosial dalam proses difusi informasi yang berkaitan dengan HIV/AIDS? Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah content analysis. Pengamatan dilakukan pada tahun 2010, sejak awal pembukaan account di Facebook pada 18 Maret 2010 sampai dengan tanggal 31 Desember 2010. Hasilnya menunjukkan peningkatan tajam dalam keanggotaan FJPA di Facebook yang mencapai 2.821 anggota pada tahun 2010. Keanggotaan telah melampaui batas-batas negara, termasuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir sama, usia didominasi. FJPA halaman di Facebook sepuluh bulan terakhir telah diakses 4.278 kali, puncak interaksi dalam bulan pertama (Maret 2010) 430 interaksi, dan enam bulan berikutnya interaksi 77–132 per bulan, dan mencapai puncaknya kembali pada bulan Desember 309. Posting entri yang terdiri dari 126 wall post, link 31, dan 35 catatan. Berdasarkan fakta hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Jaringan Media Sosial melalui Internet sangat efektif sebagai media difusi informasi yang melampaui wilayah geografi s dan administratif. Jaringan Sosial juga merupakan media yang efektif untuk penyebaran informasi untuk menargetkan remaja dan usia. Rekomendasi ini; Media Jaringan Sosial sebagai media perlu upaya difusi lebih intensivef memproses informasi kesehatan, terutama dengan tujuan usia produktif; review ini juga perlu dikembangkan untuk melihat efektivitas media jejaring sosial. Seperti Twitter, Koprol, Blog, dan sebagainya.

Nah, kawan suatu keniscayaan adalah sarana sosial media dapat dijadikan backbone suatu riset terutama dengan menggunakan metode content analysis.  Seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan di US dengan konsep Public Health 2.0 nah mungkin tidak ada salahnya peneliti riset partisipatory di bidang Kesehatan Masyarakat mulai memikirkan pemanfaatan jejaring Sosial Media, Wiki, Blog dan lainnya untuk backbone pendukung riset.

Peneliti juga harus jeli karena terjadi pergeseran era. Dan era web 2.0 adalah salah satu bukti bahwa jejaring sosial media adalah media sharing dan advokasi alternatif yang sukses. Kemudian belum lagi era segmentasi baru yang menempatkan Netizen sebagai tokoh segmentasi penting yang berpengaruh saat ini. Netizen itu apa? silahkan buka artikel saya sebelum ini.

Seperti yang dilakukan Peneliti dari LitbangKes Depkes dan Dosen FKM Unair (Agung Dwi Laksono dan Ratna Dwi Wulandari) yang melakukan ANALISIS POTENSI PENYEBARAN INFORMASI KESEHATAN MELALUI JEJARING SOSIAL. Dan setelah dilakukan penelitian maka dapat disimpulkan berdasarkan fakta hasil kajian dapat diambil kesimpulan bahwa Media Jejaring Sosial melalui internet sangat efektif sebagai sebuah media difusi informasi yang melampaui kendala geografis maupun administratif wilayah. Media Jejaring Sosial juga efektif untuk penyebaran informasi dengan sasaran remaja dan usia produktif.

Welcome to Public Health 2.0: Exploring innovative and participatory technologies!

Sebuah alasan

Cukup beralasan jika pada tanggal 23 September tahun lalu School of Public Health Toronto mengadakan The Public Health 2.0 Conference. Cara ini saya pandang sebagai langkah cerdas para pegiat kesehatan masyarakat disana memetakan geliat perkembangan dunia yang sekarang tanpa batas.Kenapa?

Dalam perkembangannya dunia public health  yang old-school harus dipaksa masuk kedalam era global. Sehingga keberadaan nya yang saya sebut old-school sudah sepantasnya berubah dalam pergerakannya. Cara yang mungkin saya kategorikan sebagai old-school adalah kampanye dan advokasi memakai cara yang konvensional (baku) misalnya penyuluhan langsung, media audio visual, dan advokasi melalui jalur baku legislatif. Itu semua menurut saya salah langkah baku atau dibilang “basic”.

Nah, bagaimana munculnya era yang dinamakan PUBLIC HEALTH 2.0 adalah dimulainya pergeseran dalam  penggunaan media web. Web yang dimaksud adalah web generasi kedua (Web 2.0). Web 2.0, adalah sebuah istilah yang dicetuskan pertama kali oleh O’Reilly Media pada tahun 2003, dan dipopulerkan pada konferensi web 2.0 pertama di tahun 2004, merujuk pada generasi yang dirasakan sebagai generasi kedua layanan berbasis web—seperti situs jaringan sosial, wiki, perangkat komunikasi, dan folksonomi—yang menekankan pada kolaborasi online dan berbagi antar pengguna. O’Reilly Media, dengan kolaborasinya bersama MediaLive International, menggunakan istilah ini sebagai judul untuk sejumlah seri konferensi, dan sejak 2004 beberapa pengembang dan pemasar telah mengadopsi ungkapan ini.

Walaupun kelihatannya istilah ini menunjukkan versi baru daripada web, istilah ini tidak mengacu kepada pembaruan kepada spesifikasi teknis World Wide Web, tetapi lebih kepada bagaimana cara si-pengembang sistem di dalam menggunakan platform web. Mengacu pada Tim Oreilly, istilah Web 2.0 didefinisikan sebagai berikut:

Web 2.0 adalah sebuah revolusi bisnis di dalam industri komputer yang terjadi akibat pergerakan ke internet sebagai platform, dan suatu usaha untuk mengerti aturan-aturan agar sukses di platform tersebut.

Sejalan dengan Tim Oreilly maka Kumanan Wilson, MD MSC and Jennifer Keelan, PhD membuat definisi tentang Public Health 2.0 sebagai berikut

“Although troubling to many in public health, the use of the Internet for these purposes simply cannot be ignored. Web 2.0 is here to stay and will almost certainly influence health behaviors. Health is a logical area in which individuals will want to seek opinions from others and communicate their experiences. In this new era, public health officials need to learn how to more effectively listen to these messages and, simultaneously, develop more lively and engaging messages themselves to communicate with the public.”

Mencermati Pernyataan Kumanan Wilson diatas tentang konsep dasar penggunaan web generasi 2.0 dengan intregrasi ke dalam dunia kesehatan masyarakat adalah suatu gagasan yang brilian dalam mengikuti perubahan besar-besar dalam era komunikasi massa modern.

Saya berusaha membuat definisi singkat yang mengkaitkan beberapa pernyataan diatas sebagai berikut

Public Health 2.0 adalah suatu istilah yang diberikan untuk sebuah gerakan dalam kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mempermudah akses masyarakat umum dalam memperoleh pengetahuan dan informasi tentang kesehatan masyarakat dengan kolaborasi jejaring sosial media dan blogger sehingga lebih user-driven.

Netizen sebagai Tokoh Utama

Saya masih ingat betul sewaktu  mengamati pergeseran segmentasi pasar yang disampaikan oleh Hermawan Kartajaya yang merubah segmentasi jadul Senior, Men and Citizen menjadi Youth, Woman and Netizen. Mungkin kawan-kawan masih ingat sewaktu kuliah dulu tentang siapa pengambil keputusan di dalam keluarga yang berpengaruh pada pengambilan keputusan? Kalau sudah lupa tolong dibuka lagi. Ya itu menjadi penting dalam pembahasan kali ini.

Tidak usah lama saya menjelaskan soal apa kaitannya segmentasi pasar dalam era baru. Saya mengambil satu segmen  penting dalam ulasan mengenai Public Health 2.0 yaitu  NETIZEN.

Apa itu Netizen ?

Kata Netizen Pertama kali di buat oleh Michael Hauben Pada tahun 1992 ia menciptakan istilah netizen untuk menggambarkan pengguna internet yang memiliki rasa tanggung jawab sebagai warga  internet. Atau netizen merupakan istilah yang dibentuk dari kata Net (internet) dan Citizen (warga). Jika di satukan, artinya kurang lebih “warga internet” atau “penduduk dunia internet”  Sederhananya, netizen adalah pengguna internet yang berpartisipasi aktif (berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, berkolaborasi) dalam media internet.

Siapakah Netizen itu?

Netizen adalah semua orang yang mengakses dan menggunakan internet. Semua orang yang menggunakan Internet bisa di sebut Netizen mulai yang hanya menggunakan Mobile Internet, komputer rumah yang terkonek internet,mahasiswa yang doyan nongkrong berlama-lama di kampus hanya karena FB-an, ibu-ibu yang ngrumpi di twitter atau aktivis yang doyan blogging.

Ketika sedang offline, Netizen tidak berbeda dengan citizen (warga) lainnya. Mungkin ada beberapa perilaku unik yang membedakan seorang netizen dengan citizen seperti kebutuhan aktualisasi diri yang tinggi terhadap pengoptimalan mobile technology. Dan mungkin bersifat addict.

Mengapa Netizen di katakan Penting dalam Public Health 2.0  ?

Netizen menjadi sangat valuable dan berpengaruh karena mereka mereka sangat aktif menyuarakan pendapatnya lewat Sosial Media. Netizen menyuarakan hal-hal yang sejalan dengan nilai yang dianutnya. Netizen tidak dibayar atau dikomando, melainkan berpartisipasi aktif dengan suka cita. Netizen dengan senang hati akan mengulas apapun yang menjadi perhatian personalnya.

Contoh terkini mengenai pengaruh netizen Indonesia di ranah global adalah topik-topik lokal yang menembus trending topic di twitter. Masih juga ingat soal Cicak vs. Buaya yang gerakannya mendukung KPK melalui fans page Facebook. Atau soal kasus Prita dengan RS Omni yang masuk ranah hokum.

Di twitter, kebanyakan dari para influncer yang memiliki follower yang banyak mereka sangat mampu membuat suatu topik menjadi trending topic di twitter. Begitu juga blogger, seorang blogger yang blognya dibaca oleh 5000 orang setiap harinya memiliki ‘channel’ untuk mempengaruhi 5000 pembaca tersebut. Sebagian  pembaca yang terinspirasi dan akan dapat mendiskusikan tulisan yang diterbitkan di blog tersebut di channel social media yang lain atau bahkan merekomendasikan tulisan tersebut kepada ‘follower’ yang mengikutinya melalui twitter atau blog sang pembaca.Begitu hebatnya sosial media saat ini sehingga mampu membuat opini public dan secara masif mampu mempengaruhi policy maker.

 

Era Public Health 2.0 Indonesia Semakin dekat

Indonesia merupakan negara dengan  jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China (1,346 juta jiwa), India (1,198 juta jiwa), dan Amerika Serikat (315 juta jiwa). Sensus yang dilakukan oleh BPS pada tahun 2010 menyebutkan bahwa  populasi penduduk Indonesia tahun  diperkirakan mencapai 237,6 juta jiwa, bertambah 32,5 juta jiwa dibandingkan dengan hasil sensus penduduk yang terakhir dilakukan oleh BPS tahun 2000 yaitu sebesar 205,1 juta jiwa.

Hal yang juga sangat menggembirakan adalah angka penetrasi penggunaan internet oleh rumah tangga di Indonesia secara umum yang mencapai 27% di perkotaan dan 8% di daerah pedesaan. Di daerah perkotaan (urban) angka penetrasi penggunaan internet oleh rumah tangga paling tinggi berada di Yogyakarta (50%), Bukit Tinggi (49%), Makassar (42%), Manado (41%), dan Padang (37%). Sedangkan di kawasan pedesaan (rural), penetrasi internet paling tinggi berada di kabupaten Minahasa (18%), Kabupaten Bantul (15%), Kabupaten Kutai Kartanegara (12%), Kota Prabumilih (11,5%), dan Kabupaten Gresik (11%).  Dengan semakin tingginya penggunaan internet di Indonesia dan dukungan pemerintah untuk memberikan akses internet di seluruh desa di Indonesia yang diperkirakan akan terealisasikan di tahun 2011, hal ini akan memiliki implikasi besar terhadap perubahan sikap, kebiasaan, dan perilaku masyarakat termasuk juga dalam bidang kesehatan masyarakat.

Netizen (pengguna internet) sebagai penentu dalam meraih heart share. Heart share yang dimaksud disini adalah emotional (emosi) target market (Sasaran media promosi kesehatan) yang menjatuhkan pilihannya lebih dari daya nalar pikiran dan mempunyai kekuatan bertahan terhadap apa yang dipilih secara emosional. Netizen bias berdaya sebagai penentu dalam Public Health 2.0 dengan didukung olek akses teknologi dan jaringan. Soal yang satu  ini di Indonesia perkembangannya dapat diapresiasi lebih.

Akses, dapat dipandang sebagai kata kunci. Entah itu akses terhadap jaringan itu sendiri atau terhadap sarana pendukungnya.

Ya sekali lagi adalah akses. Sebagai Negara berkembang yang mempunyai pergerakan yang dinamis di dalam social media dan network berikut segala yang ada didalamnya Indonesia adalah pasar yang potensial untuk menjadi ajang besar dalam gerakan ini.

Kita mengingat kembali bahwa jumlah pengguna Facebook sudah mencapai 33 juta lebih, jumlah ini melebihi Inggris. Sedangkan pengguna Twitter menurut data terbaru dilaporkan ComScore, lembaga riset dan pemasaran di internet, Indonesia menempati peringkat pertama soal penetrasi di Twitter. Dari populasi pengguna internet di Indonesia, sebanyak 20,8 persennya adalah pengguna Twitter.
Soal penetrasi, Indonesia bahkan mengalahkan Amerika Serikat dan Jepang sebagai negara yang semula ramai ‘berkicau’ di situs mikroblogging terpopuler tersebut.


Nah setali tiga uang, Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian para aktivis kesehatan masyarakat dan semua elemen yang giat menjadikan kesehatan masyarakat sebagai domain pergerakan untuk menjadikan sarana web sebagai ajang pembentukan isu, opini, sarana edukasi, pemberdayaan, pencarian dukungan stakeholder, bahkan sarana perlawanan (mungkin).

Web dengan konsep 2.0 menjadi penting untuk dicermati karena dari konsep web 1.0 yang hanya menjadikan masyarakat sebagai sasaran pasif (reading) merubah menjadi konsep yang sangat memberdayakan yaitu writing, sharing, opinion, dan pembentukan communities.

Dari konsep Web 2.0 tersebut ada 10 elemen utama yang menjadikan 2.0 menjadi sebuah ide yang cemerlang bagi sebuah tools baru bagi dunia kesehatan masyarakat yaitu Blog, Wikis, Collaborative writing, user review, GIS, Microblogging (Twitter), Photo and Video Sharing, Social bookmarking, social & Professional Network, Virtual works.

Media diatas jika dimanfaatkan dengan optimal maka dunia kesehatan masyarakat akan bisa mengikuti perkembangan era komunikasi massa yang keberadaannya sangat dinamis. Memang disatu sisi konsep ini tidak bisa dipukul rata karena faktanya pemerataan informasi dan komunikasi di Indonesia masih timpang dan belum merata. Masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk memperbaiki secara terus menerus pemerataan informasi dan komunikasi di seluruh wilayah. Tentu saja secara sinergi disertai dengan peningkatan edukasi masyarakat.

Tetapi melihat double burden (beban ganda) di Indonesia juga menjangkiti sektor lain termasuk edukasi, informasi dan komunikasi maka gerakan ini tetap harus dilakukan untuk mengikuti perkembangan era komunikasi sosial dengan tetap berusaha mendongkrak masyarakat yang terpinggirkan di wilayah lainnya.