Category Archives: sosok

Mengapa saya menulis tentang Wiwik Dwiwindarti?

Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fuanha.”

Hari ini saya berangkat ke kampus memakai jas hujan karena setengah perjalanan mendadak mendung disertai gerimis. Pekat mendung hari ini. Sesampainya di kampus, saya buka laptop karena hendak melanjutkan beberapa tulisan blog sisa tadi pagi, barangkali ‘nanggung’ kalau tidak diselesaikan.

Notifikasi jejaring sosial saya berkedip yang mengarapkan saya ke Grup Alumni SMA 2 Lamongan, Grup yang sangat jarang ramai kalau tidak ada event atau kabar seputar kehidupan kami bersekolah dulu. Dan benar adanya notifikasi dari teman sudah lumayan padat dikomentari oleh anggota grup. Tetapi, isi dari berita membuat dahi saya tegang sejenak.

Info dari mbak Tetty Surya Syamsa
..
Innalillahi wainna ilaihi rooji’un, telah meninggal dunia ibu wiwik dwi windarti karena serangan jantung. mdh2an slrh amalnya di trima Allah Swt, kluarga yg ditinggalkn diberi kesabaran, aamin…

Demikian kabarnya…

Mata saya menerawang jauh, seakan tidak membenarkan kabar itu. Dan berharap kabar  itu hanyalah HOAX seperti yang kerap saya temui di lini masa khas sosial media saat ini. Rupanya berita itu dibenarkan oleh senior dan teman-teman lainnya.

Ya, salah satu guru kami sudah dipanggil Alloh SWT kembali ke haribaan.

Bu Wiwik, kami mengenal namanya. Ada beberapa nama Wiwik di sekolah kami dulu. Kami melabeli dengan nama belakang BK (Bimbingan Konseling). Bu Wiwik BK. Saat kami sekolah dulu Bu Wiwik berperan menjadi guru BK kami. Lebih banyak berperan melerai anak-anak yang ‘kurang’ ajar tawuran, anak-anak yang terlibat percintaan kelas wahid hingga membuat malas belajar dan yang terpenting mengarahkan kami semua untuk memilih jurusan IPA, IPS atau Bahasa serta kelanjutan studi kami selepas SMA. Itu yang kukenal dulu sewaktu menjadi muridnya. Selebihnya beliau juga mengajar mata pelajaran PPKn.

Hubungan saya lebih kepada kebutuhan saya untuk studi lanjut kala itu. Saya memang masuk kelas IPA, tetapi sempat galau juga karena memilih antara ITS dan Unair kala itu bukan barang mudah. Informasi yang kami peroleh tentang prodi di ITS dan Unair sangat minim. Ruang BK adalah satu-satu sumber informasi yang paling dekat, disamping informasi dari senior di Seksi 5 OSSMADALA. Dan pada akhirnya saya lebih memilih Unair yang membawa saya juga berperan sebagai pendidik sekarang.

Barangkali kesan yang ditinggalkan setiap siswa berbeda-beda. Tetapi sosok Bu Wiwik yang terlihat di mata saya adalah sosok ibu peri yang murah hati. Sedikit judes kalau tahu siswa-siswinya “bandel” tapi hati cowok yang gahar akan berubah menjadi “pink” setelah dinasehati. Siapa yang pernah ngobrol dengan beliau pasti tahu gimana nyamannya berbicara dengan Bu Wiwik. Kalian setuju?

Pada satu kesimpulan yang sangat sederhana dan menggambarkan bagaimana Bu Wiwik adalah beliau adalah seorang yang penyayang sepanjang hayat.

Kesimpulan tak banyak cakap tadi, tidak keluar dari pikiran saya tanpa sebab. Sebelas April kemarin saya sempat mengomentari foto beliau di beranda Facebook nya.

Screen Shot 2017-04-17 at 10.19.59 AM

Selalu ‘welcome’ dengan mantan muridnya. Bagi kami tidak ada mantan guru, itupun terlihat dari banyaknya mantan muridnya yang masih berkomunikasi dan bahkan curhat dengan beliau. Sebuah tanda sayang yang tulus antara murid dan guru. Hubungan itu melampaui sekat-sekat tirai pedagogik.

Saya masih ingat juga beberapa kali tahun lalu sempat interaksi melalui SMS tentang kegalauan Bu Wiwik tentang studi buah hatinya. Dan semoga setelah beliau tiada kegalauan ini sudah terjawab dengan berita baik. Karena saya sedikit menyesal sekarang karena tidak menanyakan kembali padanya perihal keluh kesahnya yang dulu.

Saat mendengar kabar Bu Wiwik meninggalkan muridnya selamanya karena serangan Jantung, saya lagi-lagi tidak percaya. Bagaimana bisa Bu Wiwik yang selalu tampil dengan senyuman bisa! Apa karena terlalu memikirkan murid-muridnya? Hhhmm, gumamku demikian. Tentu itu kalimat konyol dariku.

Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan kembali pada-Nya. Selamat jalan Bu Wiwik. mengapa dirimu penting untuk kutulis disini, karena darimulah saya jadi banyak belajar bahwa menjadi seorang pendidik butuh ketulusan.

Mulyorejo, 17 April 2017.

Mengapa saya menulis tentang Makmunudin Anwari?

Kematian memang mendekatai siapa saja, dan jika sudah waktunya tak seorangpun dapat merayu. Begitu juga waktunya yang tak bisa dipastikan bahkan ditebak.

Wafatnya seorang legenda sangatlah berbeda dengan kematian biasa. Berbagai inspirasi dan kenangan yang mungkin bisa dikategorikan manis ataupun pahit membuncah selalu di setiap ingatan banyak insan. Legenda merupakan warisan, walaupun itu terbesit dalam kenangan kita yang masih diberi umur sampai saat ini.

Pak Anwari. Makmunudin Anwari begitulah nama panjang beliau. Aku biasanya memanggil beliau dengan panggilan Bapak atau Pak Anwari. Beliau adalah guruku saat aku mengenyam pendidikan SMA. Beliau seorang guru yang eksentrik, inspiratif dan terkesan “nyleneh” di jamannya. Guru Bahasa Indonesia dan Sastra. Memang orang Sastra sepertinya terlahir untuk “nyleneh” itu kata mereka, dan waktu tiga tahun di SMA membuktikan nampaknya beliau tergolong sosok yang seperti itu.

Cara-cara unik dalam mendidik kami murid-murid terkadang unik. Mengubah seorang yang “nakal” menjadi seorang yang suka sholat Dhuha. Dengan kata-kata beliau, “Pajek e endi?” “Awakmu kudu nggowo pajek….”. Ah, pokoknya pada akhirnya kami semua menyebutnya Bapak Raja Denda!. Semuanya menjadi tidak normatif saat denda kami adalah memberika “sesajen” Bakso di depan Sekolah, atau Bakso Cak Malik sebagai akibat jika kami “melanggar” aturan tak baku dan berujung nilai kami turun atau ada nilai moralitas di Seksi V ataupun di Ekstra Romansa Cendekia yang berkurang. Dan itu semua adalah sarana komunikasi kami sebagai anak didiknya, walaupun pada faktanya aku tidak pernah diajar bahasa Indonesia oleh beliau.

Kami di Seksi V khususnya di ekstra Romansa Cendekia (Red. Jurnalistik Sekolah) menjadi dekat dengan sosok beliau karena rutinitas ekstrakulikuler yang membuat kami harus berkomunikasi intens sepulang sekolah. Termasuk beliau yang “merawat” kami sebagai orang tua dengan segala kelebihan dan kekurangan saat aku kelas dua dan tinggal di ruangan Takmir bersama empat orang lainnya (Mas Harianto, Alm. Mbul, Ubed, Haris) sebagai pengurus masjid SMADALA yang dulu tidak sebesar dan semegah sekarang.

Pak, kiranya aku menulis bukan untuk mengenangmu tapi takut jika inspirasi yang kau berikan dulu terhapus oleh kelamnya rutinitasku saat ini.

Aku juga masih ingat jika sering  bertengkar dengan Pak Anwari, terutama karena masalah beberapa artikel yang akan kami masukkan ke majalah. Beliau suka membuat novel yang jujur kita yang di redaksi dan kebanyakan murid di SMA 2 Lamongan saat itu tidak tahu maksud dan mungkin kami semua terlalu “goblok” untuk memaknai sebuah karya sastra. Sebut saja karyanya di RC (red. Romansa Cendekia) dari KOPRAL JABRIK, atau PUTRI SALJU atau ahh apa itu membuatku kadang bertengkar kenapa novel ini harus dimasukkan, mengingat panjang nian dan memakan empat lembar halaman majalah. Sementara hasrat menulis kami dan tulisan liputan kegiatan sekolah saat itu banyak yang harus kami masukkan. Pak Anwari, tapi lambat laun kini aku dan mungkin beberapa orang paham tujuanmu, Bapak melatih kami membaca sebuah novel untuk menghaluskan budi kami. Bapak menginspirasiku untuk menulis sepanjang sebuah novel yang saat ini membuatku gemar menulis di blog ini. Ah, Pak…Jika saja itu aku tahu dulu!

Pak Anwari dulu tinggal di sekretariat gabungan (Seksi V dan SMADAPALA) sebelah ruang OSIS. Sebetulnya beliau punya rumah di Perumnas Made hanya saja dulu jarang sekali ditempati. Beliau lebih suka bertahan di sudut sempit ruangan dengan sebuah PC (Personal Computer) yang era itu bisa dibilang golongan PC kelas wahid. Pentium 4 dengan Windows XP era itu merupakan idaman, terlebih lagi dengan Subwoofer dan Sound yang menggelegar. Duh, mantab sekali Bass-nya. Pak, aku juga teringat sampai sekarang, jika dulu aku tidak memegang komputermu maka mungkin bisa saja aku sekarang masih gaptek komputer. Aku mendadak belajar otodidak soal komputer dan multimedia termasuk atas saranmu aku ikut Olimpiade Komputer mewakili Kabupaten dengan berlatih Turbo Pascal. Termasuk mulai gemar membeli majalah CHIPS (Majalah Komputer) untuk sama-sama membedah aplikasi komputer dan multimedia yang sama-sama memanjakan telinga anak-anak OSIS dengan musik Rock!

Pak Anwari, aku jadi tergila-gila Queen, kagum pada gitaris  Joe Satriani itu juga karenamu Pak! Dan kenapa aku setiap hari sering memutar Beatles itu juga karenamu. Kalian semua yang pernah sore-sore kala itu di ruang OSIS atapun SMADAPALA pasti akrab dengan musikalitas Pak Anwari. Dan jika bisa berteriak maka PC beliau akan menjerit minta tidur karena hampir 24 jam PC nya selalu ON! Kecuali saat aktivitas jam sekolah PC selalu silent dari musik.

Pak Anwari, aku juga jadi sangat tahu jika Sholat Dhuha itu adalah sebuah mukjizat!. Beliau adalah motor penggerak Sholat Dhuha yang konsisten di Sekolah. Menggerakkan anak didiknya untuk sholat Dhuha, walaupun kontra selalu ada karena Sholat Dhuha selalu dilakukan berjamaah dan 12 rakaat. Aku pribadi tidak mempersoalkan itu. Denda sudah jelas jika kami tidak Sholat Dhuha sewaktu jam istirahat pertama. Dan sekarang itu kumaknai sebagai konsistensi beribadah.

Ya, Pak Anwari adalah seorang guru. Dengan beragam caranya, ia mendidik orang menjadi lebih baik. Tidak selalu menjadi orang yang dapat nilai rapor baik. Bahkan tidak selalu muridnya lulus sekolah. Guru yang memperagakan semangat yang menggebu untuk berbagi. Setiap perjumpaan dengan guru selalu meninggalkan kesan bagi muridnya.

Pak Anwari adalah legenda. Sosok yang (mungkin) dibenci, sekaligus sosok yang sangat dicintai. Jika aku bisa berkata untuk yang terakhir kalinya sebelum tadi malam beliau meninggalkan kita semua di dunia fana ini aku akan berucap penuh makna.

“Pak, terimakasih atas bimbingannya sewaktu di sekolah dan di RC dlu”

Wafatnya seorang legenda tentu berbeda dengan wafatnya orang biasa. Begitu seorang legenda menjumpai sang Khalik, beragam inspirasi selalu muncul, segudang kenangan menjadi bunga-bunga kehidupan dan itu dari banyak orang. Inspirasi demi inspirasi teringat kembali. Kenangan dalam ingatan seakan tayang kembali.

Kematian yang terdekat dengan kita karena sewaktu-waktu tibanya. Akan tetapi, apakah kita senantiasa mengingatnya? Ah kita terlalu sibuk menumpuk kehidupan dunia, lupa bekal akheratnya

Itulah kata inspirasi terakhir yang diposting di Facebook beliau sebelum beliau menjumpai Sang Khalik di alam abadi. Semoga bapak ditempatkan di sisi yang mulia. Aamiin.

Selamat jalan Pak Anwari teriring doa “Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi.”

Ilham Akhsanu Ridlo
Ketua Romansa Cendekia tahun 2003-2004
OSIS SMA N 2 Lamongan

dr. Soebandi, Kepala Staf Resimen 40 Damarmulan Divisi VIII Damarwulan

Mungkin nama ini tidak asing saat kita berkunjung di kota Jember, terutama bagi yang pernah juga dirawat atau berobat ke RSUD Jember. Karena memang nama dr. Soebandi menjadi nama resmi Rumah Sakit tersebut, seperti RSUD dr. Soetomo dan lainnya. Namun ada beberapa hal yang ingin saya bagi kepada teman-teman soal siapakah dr. Soebandi. Ya seorang tentara yang seorang dokter.

Kemudian nama dr. Soebandi juga tidak bisa dilepaskan dari sosok Direktur RS Bedah Surabaya dr. Widorini Sunaryo, M.ARS yang kebetulan juga direktur saya sendiri. Ya Bu rini (saya biasanya memanggilnya) adalah anak dari dr. Soebandi. Banyak yang bisa saya bagi lewat penuturan langsung dari beliau seputar sepak terjang Ayahandanya di medan pertempuran selama masa agresi Belanda I dan II.

Baiklah kurang lebih saya akan tulis penuturan dari Bu rini..

Bukan hal yang mudah bagi bu Rini untuk membuat dan menjelaskan cerita tentang sang ayah karena saat itu beliau masih kecil. Yang bu Rini ingat karena cerita-cerita dari kakaknya ibu Widiyastuti. Bu rini adalah anak terakhir dari 3 bersaudara (Widiyastuti, Widiyasmani, Widorini).

Di era itu, dia bersama saudara dan sang ibu, almarhum Rr Soekesi hampir tidak pernah bertemu dengan sang kepala keluarga. “Waktu itu, bapak banyak di-front pertempuran, Jarang sekali pulang” kenangnya.

Dalam masa peperangan di era agresi I dan II, memanglah masa yang penuh keprihatinan. Masih diingatnya pada masa itu ketika, Soebandi bersama Brigade III Damarwulan diminta hijrah ke Blitar, dia bersama saudara dan sang ibu hanya bisa mendoakan dari Jember. Bahkan pada saat itu keluarga tidak pernah mendengar kabar dari Ayahanda. Dengan pertimbangan khusus maka Ibunda Soekesi nekat pergi menyusul ke Blitar bersama kakak-kakaknya dan dia.

Di Blitar, akhirnya mereka berjumpa, tapi tidak berselang lama kebersamaan itu harus ditinggalkan saat dr. Soebandi diminta bergabung bersama Brigade III Damarwulan. Saat itu dr. Soebandi menjabat sebagai kepala dokter dan merangkap sebagai Residen Militer Daerah Besuki. Selanjutnya, rombongan ini diminta kembali bertugas di Jember. Tak mau mempersulit keluarganya, Soebandi meninggalkan Soekesi dan tiga anaknya di Blitar.

Dalam pertempuran bersama Letkol Sroedji di Desa Karangkedawung, Kecamatan Mumbulsari, akhirnya Alloh SWT menjemput dr. Soebandi. Jenasahnya diketemukan di Sawah. Dan masih dingat oleh Widorini menurut penuturan kakaknya bahwa keluarga baru mengetahui kepastian bahwa Soebandi telah gugur di medan juang satu tahun kemudian.

“Kami baru diberi tahu setelah jenasah ditemukan. Tidak ada pejuang teman bapak, yang berani memberitahu. Kabar itu kami terima setelah bapak meninggal satu tahun,” itu menurut penuturannya.

Kemampuan Soebandi sebagai pejuang dan dalam bidang kedokteran memang sangat membantu satu sama lainnya. Dilahirkan di Klakah, Lumajang, pada 17 Agustus 1917, Soebandi termasuk orang yang beruntung di zaman itu. Putra pertama dari dua bersaudara ini, berhasil masuk di Ika Daigoku (sekolah kedokteran di Jakarta). Sebelumnya, dia mengikuti pendidikan di HIS, MULO, dan NIAS.Setelah lulus dari Ika Daigoku pada 12 November 1943, Soebandi melanjutkan pendidikannya di Pendidikan Eise Syo Dancho. Selanjutnya, setelah lulus, dia diangkat sebagai Eise Syo Dancho. Yang kemudian di tempatkan di Daidan Lumajang. Pada saat itu, selain sebagai tentara, Soebandi juga bertugas sebagai dokter tentara. Ketika PETA dibubarkan pada 19 Agustus 1945 karena Jepang menyerah pada Sekutu, dia ditugaskan di RSU Probolinggo sebagai dokter.

Pada waktu pembentukan BKR, Soebandi yang sudah berpangkat letnan kolonel dipanggil ke Malang. Di sana dia ditugaskan menjadi dokter di RST Claket Malang dengan pangkat kapten. Ketika BKR diubah menjadi TKR pada 5 Oktober 1945 dan berubah menjadi TRI , dia diberi pangkat mayor.

Pada masa Agresi militer pertama, tahun 1946, Soebandi kembali ditugaskan ke Jember. Dia yang ditugaskan sebagai kepala DKT dengan pangkat Mayor, dipindahkan ke resimen IV Divisi III, yang kemudian berubah menjadi Resimen 40 Damarwulan Divisi VIII.

Pada rentang 1945-1947, Soebandi banyak bertugas di front pertahanan Surabaya selatan, Sidoarjo, Tulangan Porong, dan Bangil. Bahkan, pernah ditugaskan di front pertahanan Bekasi Jawa Barat sebagai dokter perang. Pada tahun 1947, setelah tentara Belanda menduduki Jember, dia pernah ditangkap dan dijadikan tahanan kota. Karena terpergok menolong seorang prajurit yang terluka di DKT.

Ya, kurang lebih begitu penuturan Bu Rini dan sumber lain yang memperkuat tulisan saya. Dengan mata berkaca-kaca beliau mengingatkan kepada teman-teman di Rumah Sakit yang beliau pimpin saat ini RS Bedah Surabaya, bahwa perjuangan para pahlawan yang sedemikian beratnya dulu, harus kita hargai dengan penuh semangat. Termasuk dalam bekerja di lingkungan Institusi sosial kesehatan seperti Rumah Sakit beliau juga berpesan “bekerja harus ikhlas”. Itulah yang juga menjadi alasan bagi Bu Rini untuk memilih menjadi seorang dokter dan Direktur Rumah Sakit.

———————————————–

Referensi:

Penuturan dr. Widorini Sunaryo, M.ARS (Direktur Rumah Sakit Bedah Surabaya)

http://arl.blog.ittelkom.ac.id/blog/2010/05/dr-soebandi-kastaf-resimen-40-damarwulan-divisi-viii-damarwulan/

http://sejarah.kompasiana.com/2012/10/07/dr-soebandi/