Category Archives: Grow with Passion

Membaca adalah Kunci

Rabu, 2 Mei 2018. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Saya yakin banyak yang datang pagi-pagi hari ini untuk bersiap upacara bendera. Termasuk Ibu-ibu yang kebetulan suaminya seorang Guru ataupun Dosen, atau lebih dari itu Ibu-ibu yang mempunyai anak sekolah. Kalau pas kebagian jatah upacara bendera pasti akan sedikit lebih dini menyiapkan sarapan. Tapi tentu tidak semua orang mengalaminya.

Ibarat serimonial upacara, sistem pendidikan kita saat ini tengah mencari bentuk keseimbangan dan kesetimbangan. Apakah itu salah? saya pikir juga tidak. Tentu beragam sistem yang saat ini ada adalah sebuah ekses dari apa yang dinamakan perubahan. Seperti beberapa tahun belakangan di pendidikan tinggi kita tergerak dengan genggap gempita soal publikasi, sitasi, H-index dan persoalan lain yang lebih bernilai kuantitatif. Semua soal angka, begitu ukuran yang ada saat ini.

Continue reading Membaca adalah Kunci

Grow with passion (6/30): Sidak, sarana perbaikan kinerja kah?

Jamak kita melihat pemimpin entah itu di level organisasi atau bahkan pemimpin sebuah wilayah melakukan  kegiatan yang dinamakan Sidak. Pengertian Sidak kita kenal merupakan singkatan dari kata inspeksi mendadak.  Akronim sidak (inspeksi mendadak) merupakan singkatan/akronim resmi dalam Bahasa Indonesia. Semuanya sudah tahu, dan akan menjadi sensitif jika itu terjadi di tempat kerja kita.

Kegiatan Sidak pada level organisasi biasanya dilakukan jika dirasa perlu karena pada satu titik permasalahan seorang pemimpin perlu mengambil langkah yang cepat dan tepat karena metode yang digunakan observasional langsung. Dia bisa melihat dengan riil apa yang terjadi pada elemen organisasinya. Dalam konsep manajemen sendiri, Sidak bisa dipahami merupakan bagian dari sebu
ah fungsi kontrol. Menurut Luther M. Gullick dalam karyanya Papers on the Science of Administration mengatakan bahwa fungsi organik administration and manajemen dibedakan menjadi beberapa aspek yang lazim disingkat juga dengan POSDCORB. Fungsi Sidak sendiri sejatinya ada pada setiap fungsi manajemen yang dipaparkan oleh Luther Gullick. Didalam Sidak sendiri setidaknya terdapat unsur yang menonjol yaitu Directing, Coordinating, serta Reporting.

Directing dapat diartikan ke464704-1000xauto-kim-purbalinggagiatan yang berhubungan dengan usaha-usaha bimbingan, memberikan guidance, saran-saran , perintah-perintah , instruksi-instruksi agar tujuan yang telah ditentukan semula dapat dicapai. Selainitu directing adalah kegiatan yang berhubungan dengan usaha-usaha bimbingan, memberikan guidance, saran-saran, perintah-perintah, instruksi-instruksi, agar tujuan yang telah ditentukan semula dapat dicapai. Dalam proses directing ini peran leader tidak sekedar memerintah, tunjuk sana tunjuk sini celoteh para pelaksana biasanya. Peran pemimpin didasarkan pada kemampuan dan seni yang mumpuni dalam memberdayakan organisasinya. Kemampuan dan seni memimpin tersebut tidak bisa dicapai dengan cara instan.

Cerita lainnya juga adalah soal fungsi coordinating yang jamak kita kenal dengan koordinasi. Peran vital fungsi ini menjadi hal yang penting dalam Sidak. Koordinasi adalah sebuah upaya sinkronisasi yang teratur (orderly synchronization) dari berbagaimacam usaha (efforts) untuk mencapai pangaturan waktu (timing) yang dilakukan dengan sebuah upaya directing yang harmonis sebagai upaya mencapai tujuan bersama (objective) dalam hasil pelaksanaan yang harmonis dan bersatu untuk menghasilkan tujuan yang telah ditetapkan (stated objective). Sejatinya fungsi Sidak sendiri adalah memastikan fungsi-fungsi manajemen dalam sebuah organisasi berjalan sesuai dengan kebijakan, pedoman, tata laksana serta prosedur yang ditetapkan dalam sebuah organisasi.

Dalam Sidak yang jamak dilakukan oleh para pemimpin atau para penguasa otoritas juga memuat salah satu fungsi manajemen yang penting. Kita semua mengenal dengan istilah reporting (pelaporan). Reporting yang terjadi dalam sebuah proses Sidak merupakan pelaporan yang insidental yang mempunyai kesan reaktif terhadap masalah. Pemimpin melakukan Sidak pada saat beberapa fungsi manajemen tidak berjalan sesuai dengan Planning (perencanaan) dan Organizing (pengorganisasian). Maka pemimpin yang punya otoritas mencoba cara diluar kebiasaan organisasi dengan Sidak. Tentu kembali lagi ini sendiri memerlukan sebuah seni yang tidak instan. Jika tidak maka yang terjadi adalah sebuah penghakiman terhadap bawahan. Disebut penghakiman karena terkadang pemimpin lupa dan hanya berfokus pada masalah yang ada di ranah output. Sedangkan masalah yang terjadi di output sendiri lahir dari sebuah proses panjang di ranah Input dan Process. Soal ini mari kita buka pelajaran soal pendekatan sistem…

Menilik kasus yang sedang dihebohkan oleh para netizen minggu ini, cerita tentang seorang kepala daerah yang marah-marah saat Sidak di sebuah Rumah Sakit Daerah saya tidak melihat dan ikut berkecamuk perihal pro dan kontra nya. Ya, dunia Sosial media selalu punya dua sisi. Tapi sebagai seorang mantan praktisi rumah sakit dan sekarang sebagai akademisi di Administrasi dan Kebijakan Kesehatan boleh dong komentar di blog ini?

Tentu melihat kasus pak kepala daerah dengan kacamata saya dan kompetensi saya sih…

Kalau ada yang memaknai lainnya ya silahkan ditulis saja. Hehehe.

Menurut saya kegiatan Sidak yang dilakukan tidaklah salah, kepala daerah sebagai pemegang otonomi penuh berhak dan berkewajiban melakukan upaya perbaikan mutu di daerahnya bahkan memastikan seluruh SKPD berjalan dengan baik. Dalam bahasan mutu kita mengenal bahwa quality improvement merupakan langkah yang wajib dilakukan jika ingin masyarakat (customer) puas terhadap kinerja aparatur daerah. Tetapi Sidak yang dilakukan akan dinilai sangat berbau pencitraan-istilah yang sangat hits dewasa ini sebagai ekses pandangan masyarakat terhadap kinerja pemimpin daerah- jika dilakukan dengan terbuka dan diikuti awak media. Celakanya lagi kemarahan yang diikuti dengan menendang tempat sampah di Rawat Inap dianggap sebagai sebuah keharusan dalam Sidak itu sendiri. Video di sosial media pun pada akhirnya viral yang menyisakan sebuah debat kusir para netizen.

Para pemimpin mungkin lupa atau kembali lagi pada tujuan Sidak itu sendiri. Apakah hanya sebuah respon reaktif dari laporan masyarakat yang belum tervalidasi? atau kah sebuah manuver untuk meraih simpati secara politis? atau memang kurangnya literasi dalam proses sebuah organisasi? beberapa pertanyaan itulah yang harus dijawab terlebih dahulu. Siapa yang menjawab? tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Artinya pemimpin dalam melakukan Sidak punya sebuah motif.

Saya lebih suka menanyakan pada diri sendiri, apakah Sidak merupakan sarana perbaikan kinerja atau unjuk kekuatan?

Jika pemimpin memfokuskan dirinya terhadap upaya perbaikan kinerja yang berujung pada upaya quality improvement, maka pada kasus Sidak yang kemarin jadi trending topic selayaknya terdapat beberapa catatan yang harus diperhatikan, antara lain:

  1. Memastikan informasi yang valid mengenai permasalahan yang terjadi di Rumah Sakit.  Informasi yang didapatkan tidak hanya sekedar benar secara empiris tapi juga harus secara riil berdampak nyata. Dampak masalah yang ada mempunyai sifat yang urgen harus diselesaikan, jika tidak mempunyai sifat tersebut para pemimpin daerah tidak perlu melakukan Sidak, kecuali memang mereka membutuhkan legitimasi tertentu. Itu lain soal. Dalam upaya memperoleh sebuah informasi pemimpin tidak sekedar mengandalkan insting nya tetapi harus didasarkan pada evidence yang ada dilapangan. Sidak, juga bisa berfungsi ganda dengan melihat kebenaran masalah yang timbul.
  2. Memahami dan memastikan tahu alur koordinasi yang terjadi di dalam struktur organisasi. Sebelum Sidak, dan menendang tempat sampah seorang pemimpin harus paham struktur organisasi di rumah sakit. Bagaimana pembagian staf, tata kelola, serta jika memungkinkan keseluruhan proses manajemen harus paham. Walaupun SKPD pasti masing-masing punya keunikan dan perbedaan yang tidak mungkin dihafalkan tetapi sekiranya kepala daerah punya pejabat eselon yang dia lantik untuk memastikan keseluruhan informasi adalah benar adanya.
  3. Jangan melihat masalah sebagai output. Jika saja itu disadari maka yang terjadi tidak akan terjadi blamming terhadap bawahan. Haruslah diingat Sidak sendiri tidak hanya menyelesaikan masalah pada ranah output saja. Permasalahan di input dan process merupakan ranah akar permasalahan dalam sebuah organisasi. Maka sebaiknya pemimpin mengampil peran di kedua ranah tadi. Dampak yang ditimbulkan terhadap sebuah organisasi dalam perbaikan akan lebih sistemik dan menghindari kesalahan berulang dikemudian hari.
  4. Memanusiakan manusia. Pemimpin harus sadar bahwa keberadaan dirinya merupakan panutan dan penentu keberlangsungan sebuah organisasi. Sebuah Rumah Sakit adalah organisasi yang kaya akan masalah. Tidak berlebihan jika para pakar menyebutnya dengan istilah padat masalah. Oleh karena peran Sumber Daya Manusia didalamnya menjadi vital. Yang dihadapi tidak saja alat cangggih seperti MRI sekian Tesla, atau peralatan microsurgery yang harganya hampir sama dengan satu unit mobil dinas tetapi dialah manusia. Maka cara terbaik menghadapi manusia khususnya para pegawai adalah dengan melakukan fungsi pemberdayaan (empowerment). Saya juga ingat bagaimana senior saya di kampus menyatakan bahwa puncak dari pengelolaan SDM di Rumah Sakit adalah dengan suksesnya melakukan empowerment karyawan. berikanlah sentuhan manusiawi, maka kita akan mendapatkan ketulusan hati dalam bekerja oleh karyawan. Soal ini sudah terbukti!
  5. Memilih timing yang pas saat Sidak. Jika pada kasus Sidak kemarin dilakukan tengah malam hanya untuk memastikan pelayanan kepada pasien sudah baik saya menilai kurang tepat. Timing yang pas dilakukan sesuai dengan tujuan Sidak itu sendiri. Jika ingin melihat keseluruhan proses pelayanan di keperawatan, timing yang baik dilakukan pada saat proses timbang terima atau pada saat pergantian shift. Terutama shift malam ke Pagi. Lain halnya jika ingin melihat pelayanan pasien, maka lihat pada saat pasien menumpuk di poli rawat jalan dan counter pelayanan BPJS. Segala masalah ada disana. Banyak lagi lainnya, intinya segmentasi Sidak harulah jelas.
  6. Hindari mengajak media dalam proses Sidak. Lain cerita kalau memang tujuannya hanya untuk meraup popularitas media. Jika pemimpin ingin memastikan Sidaknya berhasil maka itu harus dilakukannya sendiri. Melakukannya sendirian mempunyai efek yang baik baik kelangsungan proses pelayanan. Pemimpin harus berfungsi sebagai problem solver sehingga keberadaannya tidak menjadi masalah baru dalam organisasi, terlebih meninggalkan kesan traumatis bagi bawahan. Datanglah dengan santun langsung ke proses organisasi, amati saja keseluruhan proses pelayanan, catat yang penting, jika ada yang ingin ditanyakan maka tanyakanlah seperlunya dengan tidak membuat kegaduhan di area publik. Setelah itu datangilah Direktur rumah sakitnya dan baru di ruang tertutup boleh ‘marah-marah’ seperlunya 😛

Yang pasti karena ilmu manajemen itu setengahnya adalah seni maka tidaklah mungkin saya ngoceh di blog ini semuanya. Karena tentu pandangan saya berbeda dengan rekan sekalian. Sudah pasti. Tetapi seharusnya beberapa catatan saya ini mungkinlah bisa dijadikan sebuah referensi ‘tak resmi’ yang saling melengkapi.

Tidak mudah memang menjadi pemimpin politik, lebih mudah menjadi seorang blogger yang bisa nulis dengan sedikit bercanda, sama candanya saat ada kepala daerah marah-marah ke bawahan tapi mukanya menghadap kamera stasiun TV dan besoknya langsung viral. Tabik.

Salam.

Wonorejo, 22 Januari 2017

 

_______

Gambar: Facebook Ngapak Semodare

 

 

Grow with passion (5/30): Parasocial interaction itu bernama Brad-Jolie

Acara gosip yang sekarang ngetren dinamai infotainment bahkan bertransformasi menjadi newstainment menjadi acara yang sudah kami tinggalkan lama sejak kami menikah. Terlebih saya. Bahkan saya sudah tidak pernah tahu secara langsung dari media elektronik kasus apa saja tentang kehidupan artis yang kekinian. Itupun tidak cukup membendung berita gosip masuk telinga saya. Perkembangan dunia keartisan lebih banyak saya dengar dari lingkungan tempat bekerja. Jika saya dengar mereka ngobrol di luar topik padatnya aktivitas.

Berkaca dari beberapa kasus kehidupan artis yang menjadi konsumsi publik akhir-akhir ini, sampai yang ‘panas’ minggu ini yaitu kasus perceraian Angelina Jolie-Brad Pitt. Saya tertarik untuk melihat bagaimana sih khalayak ramai bisa begitu hebohnya dengan beragam kasus yang melihatkan kehidupan pribadi artis atau tokoh. Bahkan kehidupan privasi sekali.

Dalam sebuah jurnal yang sudah sangat lama dirilis muncul sebuah istilah yang dinamai dengan ‘parasocial relationship’. Istilah ini merujuk pada sebuah paper yang ditulis oleh Donald Horton dan Richard Wohl pada tahun 1956. Judul artikel ilmiah ini adalah ‘Mass Communication and Para-social Interaction: Observations on Intimacy at a Distance’, Psychiatry 19: 215-29. Jurnal ilmiah ini penjelasan tentang sebuah teori interaksi parasosial yang kala itu muncul akibat booming nya layar kaca era itu. Khususnya pada program televisi yang memuat artis dan tokoh. Sebuah jurnal dan penelitian yang kekinian era itu.

Richard Wohl sejatinya adalah seorang sosiolog yang kala konsen pada bidang kajian relationship khususnya dengan pendekatan media. Publikasi ilmiah yang kala itu fenomenal bertajuk parasocial interactions merupakan paper yang berpengaruh, bersama Donald Horton sebagai co-author. Namun pada tahun 1957 Wohl meninggal dunia karena kanker.

Parasocial Relationship’ ialah sebuah kedekatan “jarak jauh” yang sebenarnya ‘semu’ sebagai hasil dari propaganda media. Salah satu karakter yang jelas dibuat oleh media massa, baik radio, televisi dan film, adalah menciptakan ilusi seolah-olah mereka sudah sering bertatap muka, sehingga menimbulkan hubungan dan kedekatan, meski di satu sisi sang selebriti tidak mengenal sama sekali.

Gejala ini yang sekarang sudah menjadi sebuah epidemik massa khususnya di kajian sosial. Kita bisa sangat begitu ‘kepo’ dengan kehidupan publik figur sebut saja artis, tokoh politik, sampai kehidupan persidangan kasus pembunuhan. Bahkan yang gak update bukan kekinian.

Sosial media memegang peranan penting sebagai salah satu pembentuk gejala sosial demikian. Televisi sebagai penyedia konten, sedangkan ibarat perapian, Sosial media sebagai kayu bakar yang diberi angin segar. Jadilah api yang cukup besar. Christine Phelps menjelaskan keterkaitan media sosial dengan gejala parasocial relationship dalam tesis ilmiah dengan judul Parasocial Relationships and Social Media Usage.

Bagai cinta bertepuk sebelah tangan gejala sosial ini sesungguhnya merupakan hubungan satu arah yang aneh, emosional karena individu merasa terikat disaat bersamaan individu yang dikagumi tidak mengenal dan tidak menyadari keberadaan mereka.

Horton dan Wohl dalam artikelnya yang saya bahas di paragraf sebelumnya menjelaskan jika sebuah acara televisi favorit batal ditayangkan, seseorang akan kerap merasa seperti kehilangan teman. Duh, betapa kita ini ternyata sudah menderita sebuah kesendirian yang tidak kita sadari sedari dulu. Tahun 1956 gejala sosial ini sudah ada!

Dalam kasus Brangelina dan perceraiannya, para penggemarnya merasakan kesedihan yang mendalam, sedalam mereka yang sudah tahu kehidupan pribadinya sejak pacaran sampai sekarang. Kekuatan interaksi inilah yang membuat beberapa artis dan publik figur pada akhirnya sadar bahwa mereka adalah sebuah brand. Dan dengan kekuatan itu mereka dengan gampang membuat produk yang mereka labeli dengan nama mereka sendiri. Dan itu laris manis!

Nah, kepikiran untuk punya banyak fans? ya bisa saja, dan anda harus bersiap jika ada seseorang diluar sana rela ‘bunuh diri’ untuk anda. Mengerikan bukan?

 

IAR. Surabaya. 22 September 2016.

 

Grow with Passion (4/30): Mukidi dan Strategi 3 M

Buk, rujak satu, berapa?” tanya Cak Mukidi.
“Sepoloh rebu..cak..,” kata Bu Markonah.
Selesai dibungkus, Cak Mukidi bayar dengan uang Rp 20.000. Markonah bilang, “Cak… tangan saya lagi belepotan, kembaliannya ambil sendiri di sini ya,” kata Markonah sambil menunjuk belahan dada atas.
Tanpa ragu-ragu Cak Mukidi merogoh karena orang Madura memang biasa menaruh segala macem di sana pikirnya. “Nggak ada..Bu.” kata Cak Mukidi.
Buk Markonah kasih instruksi, “Lebih dalam lagi, terus, terus. Ke kanan, ke kiri.”
Cak Mukdi: “Nggak ada…Buk.”
“Ya sudah,” kata Buk Markonah.
“Lah terus mana kembalian saya????” tanya Cak Mukidi bingung.
Buk Markonah dengan enteng berkata, “Ongkos rogoh-rogoh sepoloh rebu Cak, sampeyan kira goh-rogoh nang njero kutang ku gratis.”
Mukidi hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir mendengar Bu Markonah

Cerita humor satir Mukidi diatas adalah satu dari beberapa cerita yang tersebar di jejaring sosial dan media sosial perpesanan. Sebut saja Broadcast Message dari aplikasi Whatsapp atau Blackberry Messenger. Dari situlah kemudian banyak Meme bertajuk Mukidi mulai bersliweran.

Tidak jarang di grup Whatsapp yang nampaknya isinya serius berubah menjadi kacau hari itu karena seharian yang dibahas adalah sosok Mukidi. Sampai sekarang ‘demam’ Mukidi juga sepertinya belum berakhir. Terus saja ada Mukidi-Mukidi lainnya yang bermunculan setelah orang banyak tahu siapa sih Mukidi dan orang yang ada dibalik cerita humor ini.

Satu sisi viralnya Mukidi di jejaring perpesanan dan di jejaring sosial media merupakan berkah karena dipandang menghibur, di sisi lainnya ternyata kita juga ‘gampang’ sekali terviral kan oleh satu isu tertentu. Okelah, tidak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai LATAH.

Saya lebih suka menyebut viralnya Mukidi sebagai akibat dari budaya ‘Latah’ kita. Tentu kita masih ingat beberapa waktu yang lalu saat NIANTIC merilis game berbasis Augmented Reality (AR) Pokemon Go. Senyampang itu juga berseliweran broadcast message dan HOAX tentang game yang sekarang sudah mulai redup lagi itu.

Nah, kembali lagi soal Mukidi latah

Ada beberapa anggapan yang menyatakan bahwa latah yang dimaksud merupakan produk budaya, ada lagi yang menganggap sebuah kebiasaan, serta sebagaian lain menyebut sebuah penyakit. Apa cukup berlebihankah?

Dalam beberapa literatur yang sempat saya baca, Latah disebut juga dengan istilah echolalia, Sebuah kondisi unik dimana penderitanya menunjukkan perubahan kualitas kesadaran dan abnormalitas tingkat sugestibilitas. Dalam kasus Mukidi, Latah yang dimaksud tentunya adalah budaya untuk tidak mau ketinggalan berita dan sekedar ikut menge-share viralnya broadcast. Termasuk saya kali ya yang juga ikut menulis di blog ini.

Latah yang demikian dinamakan echopraxia, suatu kondisi dimana kita menirukan perbuatan tertentu (re-share) dan sekedar ikut-ikutan. Wah mungkin berlebihan juga ya jika kondisi latah bersocmed saya masukkan dengan pendekatan klinis. Hehehe.

Oke, tidak saya lanjutkan pembahasan mengenai ‘Latah’ dari pendekatan ilmu kedokteran. Saya bukan seorang Dokter.

Budaya Latah sebagai The Power of  Word of Mouth

Budaya latah terkait sosial media dan media sejenisnya inilah yang saat ini membuat beberapa kasus maupun wacana yang melibatkan publik menjadi viral. Ada beberapa hal yang menyebabkan beberapa isu maupun wacana dan sekedar broadcast message (kasus Mukidi dan lainnya) menjadi boombastis.

Tak bisa juga kita pungkiri bahwa berbagai lakon politik dan beberapa wacana terdongkrak karena budaya latah bersocial media (Re-share/Copy Paste Message). Dalam hal ini saya bisa mengatakan ada beberapa faktor yang bisa membuat sebuah lakon/broadcast/ataupun content menjadi Viral. Masih ingatkah dengan konsep pemasaran yang old-fashioned? ya konsep ‘the power of word of mouth’ istilah jawanya disebut ‘getuk tular’.

Konsep itulah yang dipandang saat ini sebagai konsep viral bermedia sosial. Tentu mulut dalam istilah terdahulu sudah digantikan dengan jari-jari tangan dan media perpesanan.

Oke…Ada istilah 3 M (Man, Message dan Momentum) yang membuat semua media menjadi viral. Pak Mukidi menjadi viral karena faktor ini. Termasuk Ahok dan lakon politik lainnya.

Pemasaran viral (viral marketing) harus memenuhi 3 kriteria, yaitu  3 M (Man, Message dan Momentum).

Man. Barangkali faktor ini menjadi tokoh kunci, saat ini hampir setiap orang mempunyai gawai (Red: gadget) yang sudah tertanam aplikasi sosial media sebagai sarana perpesanan. Jadi tidak perlu lagi tokoh sentral penyebar konten, nyatanya kalau kita lihat kenyataannya semua tangan akan latah untuk mengirim atau Re-Share konten sosial media. Termasuk Saya kali. Jadi Buzzer (penyebar isu/konten) hanya tinggal memilih segmentasi sasaran, dia hanya mengatur dan mengkoordinasi konten agar sampai ke khalayak ramai. Man di kasus Mukidi dan lainnya sesungguhnya terletak pada pemegang gawai.

Message. Pesan yang akan disampaikan. Mudah diingat dan menggugah orang untuk mengikutinya. Kisah Mukidi menjadi viral karena orang akan mengingat sebagai sebuah humor yang konyol, lucu dan me-release stres disaat jam kerja merayap. Begitupun kasus lainnya. Kontroversi dan konsep ‘nyleneh’ masih sangat diminati oleh masyarakat, tentu saja secepat itu juga disertai dengan ‘Re-Share‘ atau menyebarkan ke jejaring mereka masing-masing, berharap mendapat reward sebagai manusia pertama yang mengetahui isi konten. Itu jamak terjadi saat ini.

Momentum. Kedua faktor sebelumnya menjadi tidak berarti jika seorang buzzer tidak paham momentum. Momentum yang dimaksud adalah waktu yang tepat untuk melancarkan program viral marketing atau penyebaran konten pesan.

Nah, kan menjadi tahu kan kenapa Mukidi bisa Viral. Sebenarnya Viralnya Mukidi bisa dilihat dari tiga aspek tadi. Masalahnya adalah saya masih penasaran sama siapa sih yang menyebarkan pertama kali cerita Mukidi di Whatsapp menjadi sebuah Broadcast message? Ada yang tahu?

IAR.Surabaya, 28 Agustus 2016 

Grow with Passion (3/30): “Ilhamnya sekarang sudah bertambah”

image

“Ilhamnya sekarang sudah bertambah”, itulah kata dari Beliau disaat saya dan empat orang teman satu bimbingan dinyatakan lulus sidang Tesis 2 tahun yang lalu. Mungkin semua mengatakan iya dan sepakat memanggil Guru kami itu dengan panggilan yang sederhana yaitu Pak Wid, atau semua orang pasti mengenalnya dari sisi brand identity dengan WJP (W7P). Pak Wid punya brand dan itu sangat melekat di benak kami. Bahkan brand seperti itu yang coba dicontoh beberapa dosen lainnya.

Saya pertama kali mengenal beliau saat S1 di FKM dulu, Pada waktu beliau masih menjabat Pembantu Dekan I (Bagian Akademik dan Kurikulum) di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair. Interaksi pertama kali dengan beliau terjadi saat saya aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Segar diingatan Pak Wid adalah satu sosok dosen yang sangat berkarisma di mata para aktivis kampus. Bagaimana tidak saat teman-teman diminta untuk menjemput beliau di ruang Dekanat karena ada acara Diskusi Mahasiswa semuanya mengurungkan diri bukan karena takut tetapi ‘grogi’. Akhirnya yang diminta menjemput beliau saat itu adalah saya. Itulah interaksi pertama saya yang sampai saat ini memberikan kesan kalau Beliau seorang Guru yang sangat berkarisma.

Begitu juga ketika saya menjadi murid Beliau di S2 Manajemen Kesehatan. Terlebih yang berkesan saat saya menjadi anak bimbing beliau pada tesis. Alhamdulillah kami melalui proses itu dengan baik. Itu semua karena konsistensi beliau untuk menyemangati anak bimbingnya agar mempunyai timeline yang terencana dan setiap proses konsultasi selalu harus ada target. Itu semua menjadikan saya dan teman-teman satu bimbingan menjadi “sedikit” kalang kabut dan harus memprioritaskan studi tesis kami. That’s point, itulah enaknya dibimbing oleh Pak Wid. Testimoni ini tidak cukup menggambarkan kebanggaan, kecintaan dan rasa hormat saya untuk Pak Wid.

Saya pribadi lebih suka memanggil beliau dengan sebutan “Guru” daripada “Dosen” karena bagi saya Pak Wid tidak sekedar Dosen yang mengajar matakuliah kepada mahasiswa. Beliau adalah Guru yang mampu menjadi inspirasi kepada saya selama beliau bimbing dari S1 sampai S2. Memberikan kail dan umpan bukan ikan. Menjadikan anak bimbingnya sebagai tokoh sentral yang bertanggungjawab pada setiap proses keberhasilannya, bukan dirinya. Proses yang utama. Mengharukan sekali tidak menjumpai beliau di dunia akademisi seperti pada kondisi normal, tapi secara personal saya masih berharap jika berjumpa lagi utamanya di Institusi Perumahsakitan beliau masih ingat dengan saya dan akan selalu bertanya “Gimana Pak Ilham, apakah sudah dapat Ilham?” karena kata itulah yang membuat saya termotivasi sampai sekarang.

Grow with Passion (2/30): Corporate Social Responsibility sebagai Strategi Meningkatkan Brand Rumah Sakit

Peran Rumah Sakit di era bisnis modern saat ini dihadapkan pada dua pilihan besar. Sosial dan Bisnis murni. Rumah Sakit Swasta jelas mempunyai orientasi Bisnis yang kental dalam industri Pelayanan Kesehatan ini karena mereka hidup dari lahan yang harus dikelola dengan mindset bisnis.

Image

Tetapi jika kita bisa sedikit berfikir maka sebenarnya ada celah yang bisa dimanfaatkan bahwa sebenarnya Rumah Sakit sekarang tetap bisa menjalankan fungsi sosialnya atau berperan ganda (Sosial dan Bisnis). Prof. Muhammad Yunus menjelaskan dan menyebutnya dengan istilah Social bussiness yang beberapa waktu lalu meraih nobel.

CSR (Corporate Social Responsibility) adalah salah satu embrio lahirnya pemikiran tentang Social bussines.Corporate Social Responsibility di dalam perusahaan adalah sebuah terobosan yang mempunyai beberapa fungsi yang saling mendukung bagi jalannya peran ganda yang dibicarakan diatas. Continue reading Grow with Passion (2/30): Corporate Social Responsibility sebagai Strategi Meningkatkan Brand Rumah Sakit