Kliping Kolom Opini

Drone Emprit: Seberapa Riuhkah ‘Kicauan’ Seputar Vaksinasi?

Tulisan ini menjadi awal dari telisik saya di twitter tentang isu vaksinasi. Maka tulisan ini lebih banyak menjelaskan secara deskriptif mengenai bagaimana warganet di twitter menyikapi persoalan isu.

Bagi berbagai kalangan termasuk saya, masih sangat relevan saat ini untuk membincangkan masalah vaksinasi. Seperti yang kita tahu, pemberian vaksinasi berdampak baik bagi pencegahan penyakit dan melindungi masyarakat yang rentan oleh berbagai virus. Pun juga pengeluaran negara dapat dihemat oleh sebab beberapa wabah penyakit bisa dihindari.

Kita masih ingat tahun lalu sempat riuh soal isu ‘vaksin haram’ kemudian beragam penolakannya yang kemudian dampaknya harus diganjar dengan turunnya cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) pada anak berusia 12-23 bulan yang hanya 57,9%. Ini turun dibanding lima tahun tahun lalu yang mencapai 59,2%. Lebih dari tiga juta anak usia tersebut tidak menerima vaksinasi lengkap. Sementara, untuk mencapai level imunitas yang optimal pada populasi semestinya cakupannya di atas 80 persen.

Baca Juga Artikel ini:


Ada hal yang saya tanyakan pada diri sendiri yaitu mengenai apakah persoalan vaksinasi ini hadir dalam jagat twitter? kemudian seberapa riuhnya kicauan para warganet itu? serta bagaimana diskursus yang terjadi?

Saya punya asumsi tersendiri dan semoga asumsi saya benar. Hehehe.

Saya mengajukan beberapa kata kunci yang saya buat kepada Drone Emprit Academic (DEA), kata kunci tersebut antara lain Vaksinasi, Vaksinasi-Imunisasi, Vaksin, Difteri, Rubella dan Campak.
Keenam kata kunci tersebut saya ajukan dengan asumsi bahwa kicauan di twitter akan mengarah pada diskusi perihal isu tersebut. Seperti yang kita ketahui tahun kemarin gegara terjadi Outbreak (Wabah) Difteri maka Kementerian Kesehatan melakukan ORI (Outbreak Response Immunization). ORI merupakan strategi untuk pencapaian kekebalan individu dan komunitas hingga cakupan 90-95%.

Data yang saya unduh tentu saja dari sosial media twitter dalam kurun waktu 1 Agustus 2018 hingga 25 Agustus 2019. Kategori analisis saya fokuskan pada diskusi mengenai aspek popularity dan favorability.

Aspek popularity dilihat dari seberapa besar jumlah (volume) dan tren kata kunci yang dipakai. Dalam tulisan ini maka enam kata kunci yang berkaitan dengan vaksinasi/imunisasi kita pantau dengan periode waktu tertentu. Ukuran dalam ‘Drone Emprit’ dinyatakan dengan berapa banyak twit dengan kata kunci (volume), total mention yang dapat dilihat dengan periodik (by media) dan tren interaksi (interaction rate).

Sedangkan favorability memungkinkan kita untuk melihat sentimen para warganet pengguna twitter meliputi sentimen positif, negatif dan netral. Sentimen ini berguna bagi para peneliti sosial media untuk mempermudah analisis isu dan kategorisasinya.

Tadi sedikit penjelasan mengenai dua aspek yang kita gunakan untuk menjelaskan seberapa riuhnya kicauan mengenai vaksinasi. Baiklah, kita bedah satu per satu.

Dalam hal ini kita melihat bagaimana riuhnya kata kunci (campak, difteri, rubella, vaksin, vaksinasi dan vaksinasi-imunisasi) di twitter kita dapat membedah aspek popularity. Berikut penjelasannya dapat disajikan di tabel 1 berikut.

Tabel. 1 Total volume twitter yang mengandung kata kunci (Campak, Difteri, Rubella, Vaksin, Vaksinasi dan Vaksinasi-Imunisasi)
Gambar 1. Total Mentions yang mengandung kata kunci (Campak, Difteri, Rubella, Vaksin, Vaksinasi dan Vaksinasi-Imunisasi) di Twitter

Data yang dikumpulkan dari DEA (Drone Emprit Academic) menjelaskan kata kunci ‘vaksin’ masih relevan untuk dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui persepsi pengguna sosial media twitter. Dari enam kata kunci yang saya berikan, ‘vaksin’ menghasilkan perolehan total mentions sebesar 19,7K, kemudia ‘vaksinasi’ sebesar 10,8K dan gabungan ‘vaksinasi-imuniasi’ sebesar 2,6K. Dalam ruang diskusi khalayak tiga kata kunci ini memang jamak dijadikan acuan untuk memperoleh informasi dan membuka topik perbincangan, maka tidak salah ketiganya memperoleh hasil yang tinggi. Dengan penggunaan kata kunci berbahasa Indonesia maka memang cakupan mentions yang diperoleh akan mengarah pada negara/wilayah yang menggunakan bahasa Indonesia. Pun, juga negara jiran Malaysia. Nanti dapat kita lihat dipenjelasan mengenai cakupan negara asal twit.

Adapun tiga kata kunci khusus yang diberikan untuk melengkapi pencarian spesifik yaitu ‘campak’, ‘difteri’ dan ‘rubella’ dapat dijelaskan belum menyentuh angkat lebih dari 500 mention. Seperti misalnya ‘campak’ sebesar 485, ‘difteri’ sebesar 65 dan ‘rubella’ sebesar 34. Kemungkinan ini dapat dilihat karena bagi sebagian khalayak penjelasan spesifik tentang imunisasi dan vaksinasi bergantung pada isu terjadinya wabah yang diangkat oleh media. Tetapi asumsi ini perlu ditelaah lebih lanjut. Oke, kita lanjut lagi bicara soal tren mention yang ada pada keenam kata kunci yang kita masukkan dalam DEA.

Gambar 2. Share of Voice kata kunci (Campak, Difteri, Rubella, Vaksin, Vaksinasi dan Vaksinasi-Imunisasi)

Keenam kata kunci yang coba saya masukkan dalam analisis dapat dilihat dari share of voice sebesar 59% didominasi oleh ‘vaksin’ kemudian 32% ‘vaksinasi’ dan ‘vaksinasi-imunisasi’ 8%. Kata kunci vaksinasi sejauh ini dapat dijadikan pilihan untuk mempermudah analisis isi (content analysis).

Gambar 3. Tren total mentions di twitter dalam periode Agustus 2018-2019

Tren bisa kita lihat dari gambar 3 diatas, jika dilihat terdapat ‘lonjakan’ agregrat tren kata kunci ‘vaksin’ pada Juli-Agustus 2019. Sementara kata kunci lain ‘vaksinasi’ tinggi pada November hingga Februari 2019. Tren ini hanya menggambarkan bagaimana warganet di twitter mempunyai respon yang tinggi dan dalam waktu tertentu melakukan mentions. Data ini perlu ditelusur dengan pendalaman isu apa yang membuat warganet membahas kata kunci yang dimaksud.

Gambar 3. Tren Total Mentions per jam

Jika dilihat pada gambar 3 diatas maka pilihan ‘berkicau’ para warganet menyoal isu seputar vaksinasi sangat bervariasi. Seperti pada kata kunci populer ‘vaksin’. Kata kunci ini memenuhi linimasa twitter pada jam 14.00-15.00 WIB kemudian pada 21.00 WIB. Sangat dipahami bahwa jam tersebut merupakan ‘prime time’ warganet untuk berkicau di twitter.

Gambar 4. Tren Total Mention per Minggu

Hari rabu menjadi hari yang tinggi untuk kata kunci ‘vaksin’ hal ini belum bisa dianggap bahwa dengan tingginya total mention pada hari itu dapat ditarik kesimpulan. Dapat dimungkinkan bahwa memang pada hari Rabu disatu waktu tertentu, isu seputar vaksinasi sedang sangat tinggi. Jika dilihat dari Gambar 3. Tren total mentions di twitter dalam periode Agustus 2018-2019 maka memang terdapat kenaikan ekstrim mentions untuk bulan Agustus 2019. Kenapa bisa begitu? Ini akan saya buat penjelasan dan analisis lebih lanjut di artikel lanjutan.

Dan memang, data dari Drone Emprit terlalu banyak untuk dibuat dalam satu artikel blog. Sabar ya, artikel judul ini memang hanya fokus melihat keriuhan lini masa twitter mengenai isu seputar vaksinasi. Hehehe.

Oke, masih belum ngantuk? Semoga saja belum. Dikit lagi.

Isu seputar vaksinasi tentu masih berlanjut hingga hari ini, namun gambaran popularitasnya sepertinya kian turun. Seperti bisa kita lihat di gambar ini.

Gambar 5. Tren Total Mention 2 minggu terakhir
Gambar 6. Tren Interaksi 2 minggu terakhir

Dua gambar diatas dapat dijelaskan bahwa semakin kesini isu vaksinasi semakin turun, termasuk juga tren interaksinya. Saya sangat memahami bahwa pada kenyataannya isu seputaran vaksinasi di linimasa twitter ataupun media sosial lain lebih bersifat impulsif. Warganet mempunyai kecenderungan merespon isu yang memang sedang ‘trending’ dan mengikuti beberapa ‘influencer’ yang membahas satu isu tertentu. Apakah ini kemudian keliru? tentu tidak.

Jika melihat sifat sosial media khususnya twitter, memang tinggi rendahnya interaksi ditentukan oleh apakah isu tersebut populer dan mempunyai dampak besar pada warganet. Mungkin saat ini isu vaksinasi akan sangat perifer jika dibandingkan isu politik atau pemindahan Ibukota Negara. Hahahaha.

Oke, untuk gambaran awal cukup disini. Artikel ini masih berlanjut.

(Bersambung)

__________________________________________________________________________
Saya sangat berterimakasih kepada para pembaca yang ingin mengoreksi tulisan di blog ini. Sifat tulisan ini sangat cair dan terbuka bagi siapa saja yang mau berbagai, mengoreksi dan berdiskusi. Segala interpretasi dalam tulisan dan unggahan ini juga demikian. Tulisan ini juga bebas disebarluaskan, dikoreksi, diganti tanpa atau memakai afiliasi penulis. Lisensi CC-0.

Terimakasih saya sampaikan kepada mas Ismail Fahmi dan tim DEA (Drone Emprit Academic)
_____________________________________________________________________________

About iaridlo

Ilham Akhsanu Ridlo is lecturer and researcher of Public Health at Universitas Airlangga. His research examines health policy and administration; social and trust determinants of health policy; and how health policies can reduce health inequalities. His research engages interdisciplinary, applying theories and methods between the social sciences, public health and health policy. He is currently a managing editor of Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia (JAKI).

0 comments on “Drone Emprit: Seberapa Riuhkah ‘Kicauan’ Seputar Vaksinasi?

Leave a Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: