Catatan Pinggir Home

Mungkinkah Ibu Menyertakan Pengasuhan Anak Sembari Bekerja?

Beberapa rekan kami dan juga termasuk istri saya mengajak serta buah hatinya ke tempat kerja. Ada beragam alasan yang membuat mereka melakukan dua pekerjaan mulia ini. Bekerja untuk aktualisasi diri dan bekerja dalam pengertian menjalani kodrat sebagai orang tua dari anak mereka.

Ya, mengajak buah hati ke tempat kerja atau bekerja dengan disertai buah hati.
Kenyataanya dari mereka tidak semuanya berakhir manis. Ada juga yang berakhir dengan stigma tertentu. Misalnya, dianggap kurang profesional. Atau lebih keras lagi karena tidak “punya” uang menitipkan anak di TPA (Tempat Penitipan Anak) atau membayar “Babysitter”. Kejam nian stigma itu sehingga mayoritas orangtua khususnya para ibu enggan untuk mengajak serta buah hatinya di tempat kerja.

Ketika menemani Bibuk di Diklat Prajabatan Depok

Selain kemungkinan stigma yang didapat, secara umum anggapan masyarakat modern tentang kegiatan mengasuh anak dengan bekerja dikarenakan beberapa pekerjaan tidak memungkinkan dilakukan secara bersamaan. Misalnya tidak mungkin seorang ibu bekerja di pabrik pelintingan tembakau dengan menggendong anaknya. Atau seorang bapak yang bekerja di di pabrik perakitan mobil di Sentul mengajak buah hatinya yang masih TK di sana. Ya ini faktor lain. Dan dalam tulisan ini bisa jadi masuk kriteria ekslusi.

Perbincangan ini sudah mengemuka di khalayak. Khususnya di beberapa negara maju. Bagaimana perihal keberpihakan institusi tempat bekerja untuk ikut mendukung tumbuh kembang anak. Harian The New York Times pernah memuat berita dengan judul “College Kids, With Kids” yang ditulis oleh Jamie Merisotis dan Anne-Marie Slaughter. Artikel ini secara umum menyoroti bagaimana work with family life di Amerika Serikat. 

Seperti yang dikutip dari sumber yang sama, Ms. Mitchell,46 tahun berkata bahwa waktu luang kita adalah waktu untuk keluarga dan sebagai ibu bekerja dia merasa bersalah memberikan waktu lebih banyak untuk pekerjaan daripada untuk sang buah hati.

Kenyataannya kondisi di Amerika Serikat tentu sangat berbeda dengan kondisi di tempat kita dan di negara berkembang lainnya. Ini masalah.

Menemani Bibuk di Sharing tentang penulisan dan publikasi ilmiah mahasiswa S3 Psikologi di luar kota

Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) per Februari 2018, jumlah Perempuan bekerja sebesar 51.111.784 jumlah ini naik dari tahun yang sebelumnya sebesar 46.285.877 di bulan Agustus. 

Nah, kembali lagi di pembahasan. Mungkinkah mengajak buah hati di tempat kerja? tulisan ini tidak kemudian seksis menempatkan porsi lebih tinggi pada pola asuh anak dilakukan oleh para ibu. Namun dengan budaya Patriarki yang memang harus kita akui masih dominan di negara kita maka pilihan menempatkan Ibu sebagai subyek tidak dapat dihindari.

Ada beberapa alasan yang kemudian dapat ‘dibenarkan’ dan menjadi pendorong para Ibu (orang tua wanita) untuk mengajak buah hati ke tempat kerja. Pada contoh nyata ini, saya mengambil contoh dari istri saya. 

Dia seorang dosen di sebuah universitas negeri di Surabaya. Anak kami saat ini sudah tiga tahun. Beberapa pengalaman mengasuh sembari bekerja terjadi saat dia berusia 1-2 tahun. Termasuk mengajak anak kami saat Diklat Prajabatan. Lalu dimanakah saya? Saya berprofesi sama dengan istri dan bekerja pada tempat yang sama. Kami 11-12.

Contoh ini tidak bisa dijadikan pembenaran secara umum. Jika dijadikan pilihan pengalaman mungkin iya. Kembali lagi ini soal kemungkinan mengajak sang buah hati di tempat kerja. Kembali ke judul di tulisan ini. Apakah bisa?

Ya bisa. Semua harus “supportif”. Siapa dan apa saja yang harus mendukung?

Mengajak anak bekerja maka kita harus mengetahui karakteristik pekerjaan yang kita lakukan. Fokus pada alasan ini adalah seberapa dan pada porsi manakah kita mendudukkan definisi risiko kerja. Definisi risiko menyangkut keselamatan sang buha hati tentu berbeda tiap orang. Tetapi harus dipahami naluri seorang Ibu sangat peka. Ini harus menjadi pertimbangan pertama jika ingin mengajak buah hati di tempat kerja. Kenali karakteristik pekerjaan dan utamakan memikirkan setiap risiko yang terjadi bagi tumbuh kembang anak. Risiko fisik, biologis, kimia, dan sosial. Lah jadi rinci.

Situasi lingkungan tempat bekerja menentukan seberapa sukses kita mengajak buah hati. Lingkungan ini menyangkut kondisi fisik tempat kerja, kondisi sosial dan rekan kerja yang suportif. Jika keduanya menjadi tidak masalah maka itu kenikmatan bagi kita semua. Teman kerja merupakan partner dalam bekerja sehingga peran suportifnya dalam pengasuhan buah hati di tempat kerja menjadi utama.Tidak mungkin akan nyaman jika kita mendapati teman kerja yang ‘nyinyir’ seperti ‘netijen’ yang maha benar dengan segala kejulitannya. Termasuk ternyata rekan kerja mayoritas tidak mempunyai kesepakatan sosial yang sama. Apalagi kita berapa dalam relasi kuasa di tempat kerja. Wah, akal menjadi kabar buruk.

Seperti sebelumnya tempat kerja merupakan hal yang juga tidak kalah penting. Tempat kerja ibarat sebuah ekosistem kedua kita. Jika ekosistem kita menyediakan ruang hidup yang pro pengasuhan anak termasuk beberapa kebijakan serta kebijakasanaan mendukung, kenapa tidak!

Maka kita yang paling tahu bagaimana kita mengambil keputusan. Keputusan penting mengajak anak di tempat kerja juga merupakan keputusan bersama antara istri dan suami. 

Jawaban dari pertanyaan di judul tulisan ini adalah sangat mungkin mengajak anak di tempat kerja dan mengasuhnya sembari bekerja. Why not!

About iaridlo

An activist lecturer. Departement of Health Policy and Administration. Faculty of Public Health.

0 comments on “Mungkinkah Ibu Menyertakan Pengasuhan Anak Sembari Bekerja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: