Disruptive Education

Zaman Sains Terbuka (2)

Oleh: Ilham Akhsanu Ridlo

Banyak sekali bencana yang melanda negeri kita tercinta, mulai gempa di Palu, tsunami yang disebabkan oleh meningkatnya aktivitas Anak Gunung Krakatau. Terakhir tadi di koran saya membaca bencana longsor di Cisolok. Ada 24 korban yang sampai saat saya menulis tulisan ini masih belum diketemukan.

Kita berkhidmat dan berdoa agar kita dijauhkan dari musibah.

Bencana memang patut menjadi sarana muhasabah diri di awal tahun 2019 ini. Termasuk beberapa kejadian yang terjadi di dunia pendidikan tinggi. Perihal beberapa akun di SINTA 2 yang di ‘ban‘ dengan alasan etis.

Kemudian muncul beberapa tautan seperti ini https://cen.acs.org/policy/publishing/Indonesias-scientists-voice-concerns-countrys/96/web/2018/12

Ditulis oleh Dalmeet Singh Chawla. Dia adalah seorang jurnalis sains asal London. Hingga artikel yang menyoroti permasalahan publikasi di Indonesia ini dipaku di linimasa twitternya

Perhatikan kicauan Dalmeet yang dipaku di linimasa Twitter

Dari artikel tersebut kita bisa tahu bahwa permasalahan publikasi, indeksasi dan pemeringkatan menimbulkan serangkaian dampak yang tidak melulu bernilai positif. Kekagetan para ilmuan Indonesia terhadap target pemeringkatan dunia (sebut: Scopus) ternyata lebih dominan.

Kemudian seperti berantai muncul beberapa surat edaran dari Dirjen Risbang khususnya pemberitahuan oleh Sub. Dit. Fasilitasi Jurnal Ilmiah Kemenristek Dikti.

Ini kemudian menimbulkan pertanyaan. Apakah sejauh itu dampak yang ditimbulkan dalam pemeringkatan? Bagaimana sains terbuka dapat setidaknya mampu mengurangi kekacauan ini?

Di dalam tautan Zaman Sains Terbuka (1) sudah saya jelaskan mengenai bagaimana konsep keterbukaan yang ditawarkan oleh gerakan ini. Sebenarnya permasalahan yang terjadi perihal Author nakal tidak langsung berkaitan dengan Sains terbuka. Namun jika melihat beberapa definisi terkait dengan gerakan ini maka bisa dipahami bahwa ada kaitan yang cukup. Jika ditelusuri penelitian merupakan hulu dan publikasi serta authorship adalah hilirnya. Jika keterbukaan dalam konsep sains terbuka ini dapat dipahami dan dilakukan maka keseluruhan proses hingga naskah terpublikasi akan dapat dipastikan prosesnya oleh publik.

Publik dapat melakukan telaah yang pada akhirnya dapat dijadikan kontrol sosial bagi para peneliti dan penulis artikel ilmiah. Bahwa pengawasan yang dimaksud tidak melulu soal konten ilmu, jelas itu domain peer-group keilmuan, lebih dari itu publik pun bisa memberikan masukan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan kaidah COPE misalnya.

Merujuk pada judul tulisan ini maka kemudian muncul beberapa istilah sebagai berikut…

Sains Terbuka/Open Science (OS)

Sains Terbuka/Open Science (OS) adalah sebuah gerakan yang memungkinkan data ilmiah, proses penelitian dan penyebaran hasil penelitian ilmiah dapat diketahui dan tersedia oleh masyarakat luas. Dari masyarakat awam sampai dengan kalangan profesional. Dampak yang ditimbulkan dari gerakan ini adalah tumbuhnya prinsip-prinsip ilmiah dan akses publik.

Prinsip ilmiah dan akses publik yang dimaksud adalah dengan melakukan penerbitan terbuka dengan tujuan akhir melakukan publikasi dan mengkomunikasikan hasil temuan ilmiah secara umum dan luas. Dengan melakukan konsep sains terbuka pada seluruh siklus penelitian ilmiah.

Perkembangan Sains Terbuka sendiri tidaklah sebuah gerakan yang mudah dijalani. Hal ini menyangkut perubahan paradigma budaya penelitian kita. Khususnya di Indonesia dimana prinsip keterbukaan masih belum memuaskan. Khususnya keterbukaan data.

Akses Terbuka/Open Access (OA)

Penerbit jurnal seringkali menutup akses pada beberapa artikel yang sebetulnya mereka peroleh dengan cuma-cuma dari penulis. Tidak sekedar seperti itu namun pada bisnis ini para penerbit seperti Elsevier dan lainnya menguasai banyak artikel ilmiah yang berbayar. Kita menemukan istilah Paywall dalam bisnis mereka.

Nah, mengganti model penerbitan ilmiah yang memenjara ilmu pengetahuan untuk urusan bisnis ini adalah tujuan utama dari gerakan sains terbuka. Semua kanal ilmu pengetahuan harusnya membawa manfaat bagi masyarakat. Beberapa organisasi dan lembaga riset dan pendidikan non profit bergerak pada paradigma sains terbuka dan akses terbuka (Open Access). Sebut saja Public Library of Science (PLOS) yang mendukung perpustakaan jurnal akses terbuka dan literatur ilmiah, arXiv menyediakan pracetak elektronik/preprint di berbagai bidang, F1000Research, BioRxiv dan banyak lainnya. Termasuk INA-Rxiv yang digawangi oleh beberapa peneliti Sains Terbuka di Indonesia.

Nah, dua definisi ini yang kemudian membuat kita tahu bahwa kita saat ini bergerak ke Zaman Sains Terbuka. Di bagian berikutnya kita membahas tentang Open data – Open Science Cloud, Open Research dan beberapa hal lainnya yang terkait dengan Sains Terbuka.

About iaridlo

Departement of Health Policy and Administration. Faculty of Public Health. Universitas Airlangga

0 comments on “Zaman Sains Terbuka (2)

Leave a Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: