Universalitas itu Bernama Universitas

The Thinker. Paul Stowe-United Kingdom
Credit: The Thinker. Paul Stowe-United Kingdom

Oleh: Ilham Akhsanu Ridlo
Selasa, 30 Oktober 2018

UKMPIB tersebut berada di pengawasan rektor dan mahasiswa organisasi ekstra boleh bergabung dan menjadi salah satu pengawal ideologi dalam UKMPIB. Nasir menyatakan dengan adanya Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018, Surat Keputusan (SK) Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 26/DIKTI/KEP/2002 Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus atau Partai Politik dalam Kehidupan Kampus tidak berlaku lagi. (Sumber: https://republika.co.id/…/phdsaa428-aturan-ini-jaga-ideolog…#)

Saya memegangi kepala sambil berfikir, apa yang sedang dipikirkan para senior dan para petinggi di atas sana. Ketakutan atau cuma rasa defensif pemikiran saya pribadi sehingga pagi ini gejolak jiwa saya sebagai aktivis kampus naik (lagi).

Kekawatiran saya pagi ini singkatnya seperti ini.

Petikan berita dari Republika dan beberapa media online hari ini dan kemarin tidak banyak yang mungkin tahu, saya sendiri baru tahu beberapa hari kemarin dan ditegaskan dengan tautan yang dibagi oleh teman sesama aktivis BEM KM dulu.

Kekawatiran saya berkata bahwa akan terjadi sebuah kondisi munculnya para elitis muda, para partisan berdasi, dan bangku kuliah tidak lagi nyaman untuk semua. Sekat-sekat kelas menjadi penegas meruncingnya perbedaan ideologi praktis, politik praktis dan berujung pada siapa yang saat ini berkuasa dia yang memegang kendali. Dan ini pada level mahasiswa! kaum intelektual yang bermukim di sebuah institusi yang memuat narasi universalitas pemikiran.

Kemudian kebijakan yang dituangkan ke dalam Permenristek Dikti no. 55/2018 muncul sebersit pemikiran bahwa dengan membuka keran Ormek masuk kampus dan dinarasikan sebagai faktor penguat ideologi pancasila membuat saya berfikir keras. Dimanakah hubungannya. Alih-alih menjaga ideologi bangsa dan intoleransi, maka kemudian narasi ini bisa menjadi runyam. Pesan pak Nasir bisa membuka zaman orde lama dan saat pesan itu diterima para khalayak sebagai bebasnya perburuan kekuasaan di dalam kampus. Siapa yang menang dia yang berkuasa, siapa dan siapa.

Saya kemudian ingat Alm. Soe Hok Gie yang mengatakan begini.

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. ”

Mahasiswa harus tumbuh sebagai “manusia biasa” sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa. Kaum intelektual, kaum yang mengedepankan prinsip universalitas, kebebasan berfikir, merdeka dari hegemoni dan sekat hitam-putih. Inilah mahasiswa.

Saya bukan orang yang tidak setuju. Karena bisa jadi ini jadi pendidikan politik bagi para mahasiswa. Tetapi saya tidak juga mendukung atau mengamini. Karena bisa jadi ini membuat kampus menjadi kian tersekat oleh hitam putih nya kepentingan. Ini bukan soal hitam dan putih bukan?

Sifat universalitas di kampus bisa tergerus jika perilaku yang diturunkan dari para aktor politik praktis juga disalin oleh para adik-adiknya melalui lubang baru yang bernama Ormek. Ormek tidak selalu soal itu memang, tetapi sudah jadi rahasia umum.

Bagaimana kalian para intelektual kampus yang ada di dalam Badan Eksekutif Mahasiswa? Siap? Kalau tidak kalian cuma jadi ‘cecunguk’ di rumah sendiri. Atau sebenarnya peraturan ini cuma sebuah anfirmasi karena memang sejak kemarin situasi BEM/Organisasi Intra Kampus sudah “masuk angin”?

Yang terakhir saya mengutip buku Gie yang berjudul ‘Cacatan Seorang Demonstran’. Begini.

“Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata “tidak”. Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.”
― Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Maka naik gunung adalah jalannya?

Salam
-IAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.