Zaman Sains Terbuka (Bagian 1)

Oleh: Ilham Akhsanu Ridlo

Kita bisa membuka bioskop di rumah jika mau. Ada banyak film baru di Netflix yang siap ditonton. Sendiri atau bersama. Masalahnya bukan lagi pada kualitas filmnya. Semua serial bagus. Tapi saya tidak cukup punya waktu untuk melihat semua film itu. Konten terlalu cepat untuk saya tonton. Saya sok sibuk sepertinya.

Netflix yang penyedia layanan streaming digital itu. Berkantor di Los Gatos, California. Reed Hasting dan Marc Randolph memulai mendirikan itu tahun 1977 di Scotts Valley, California. Tahun itu di Indonesia lagi ramai dengan layar tancap era menteri penerangan. Tak main-main saat ini penggunannya 130 juta diseluruh dunia. Pendapatan 11,69 miliar USD di tahun lalu.

Bagi Hollywood mereka ini ancaman. Pengganggu. Bioskop juga terancap. Dengan 160 ribu rupiah setiap bulan saya bisa tonton sepuasnya serial seperti Narcos, dan yang lain. Inilah perubahan di era

Gangguan itu juga berlaku di dunia pendidikan tinggi. Tempat saya bekerja. Saya baru 3 tahun mengabdi. Kartu pegawai pun baru saya terima minggu kemarin.

Terbuka. Siapa saja bisa mengakses. Banyak dari ilmuwan dan akademisi dunia kini kembali pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ya, gerakan ini termanifesto dalam tajuk bernama ‘OPEN SCIENCE’. Ilmu pengetahuan yang bisa diakses siapa saja.

Open Science ini sebenarnya bukan barang baru. Tapi menjadi sangat baru di Indonesia karena gempuran kapitalisasi ilmu mulai mencengkeram kita. Sebut saja beberapa PTN/S mewajibkan indeksasi ‘Scopus’. Dan urusan ini hanya untuk mengejar ukuran metric. Memang angka itu penting, tapi esensi hitungan angka kadang tidak selalu berkorelasi dengan etika publikasi dan etika ilmiah itu sendiri. Kita bisa tahu demikian dari laporan @retractionwatch beberapa pekan yang lalu. Belajar beretika publikasi kita merujuk pada COPE. Disitu dijelaskan bagaimana seorang ‘author’ dan ‘editor’ bahkan ‘publisher’ melakukan pekerjaan terkait publikasi ilmiah. Tentu saja saya baru membaca sebagian, karena sebagai ilmuwan pemula–sekali–masih banyak yang perlu dipelajari. Saya ada ditahap itu.

open-science_white

‘Science 2.0’ describes the on-going evolution in the modus operandi of doing research and organising science. These changes in the dynamics of science and research are enabled by digital technologies and driven by the globalisation of the scientific community, as well as the increasing societal demand to address the Grand Challenges of our times. They have an impact on the entire research cycle, from the inception of research to its publication, as well as on the way in which this cycle is organised.

Tahun 2014, Komisi Uni Eropa sudah membicarakan ini dalam Document Public Consultation yang menghasilkan sebuah pemikiran tentang perubahan konsep ilmu pengetahuan terutama di era web 2.0. Definisi diatas kemudian menjadi rujukan bagi pengembangan open science.

Kemudian 2015 OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) mengeluarkan sebuah policy paper no. 25 yang menjelaskan berjudul making open science a reality.

Open science commonly refers to efforts to make the output of publicly funded research more widely accessible in digital format to the scientific community, the business sector, or society more generally. Open science is the encounter between the age-old tradition of openness in science and the tools of information and communications technologies (ICTs) that have reshaped the scientific enterprise and require a critical look from policy makers seeking to promote long-term research as well as innovation.

Puncak dari perkembangan mengenai open science sendiri terjadi setahun setelahnya, 2016 setelah muncul definisi baru oleh Komisi Uni Eropa.

Open Science represents a new approach to the scientific process based on cooperative work and new ways of diffusing knowledge by using digital technologies and new collaborative tools. The idea captures a systemic change to the way science and research have been carried out for the last fifty years: shifting from the standard practices of publishing research results in scientific publications towards sharing and using all available knowledge at an earlier stage in the research process.

Singkatnya, Open Innovation, Open Science, Open to the World. Karena definisi yang pasti dan baku tentang open science tidak ada sampai saat ini. Publik mengartikan secara enak dengan menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan itu milik semua orang. Bukan komoditi ekonomi saja, bukan juga milik elitis.

Sebelum tulisan ini saya masuk lebih dalam tentang seluk-beluk Open Science, maka ada beberapa istilah yang perlu kita pahami.

Kita terlebih dulu memahami definisi wajib apa itu open accessopen science, open source, reproducibility, open data, open review. 

Beberapa kata kunci dalam bahasan open science (Sains Terbuka) akan kita ketahui pelan tapi pasti dalam kolom #DisruptiveEducation di blog ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.