Mampir di Titik Nol Kilometer Indonesia

Nol kilometer itu Indonesia itu diukur dari mana? tentu kita semua sepakat dari Sabang. Lebih tepatnya di Pulau Weh.

Pulau Weh adalah bagian NKRI yang berada pada zona Waktu Indonesia Barat-Sekali. Saat saya sampai Banda Aceh memang waktu melambat 1 jam di waktu riil dengan Surabaya. Paling gampang tahu kalau Pulau Weh memulai waktu Magrib dan sholat wajib lainnya saat jam 19:00-an. Waktu yang sama saat saya menelpon Bibuk dan Ayesha setelah mereka sholat Isya’ di Surabaya. Itulah relativitas waktu.

Di dermaga Sabang
Dermaga Pelabuhan Sabang, rencananya pelabuhan ini akan diperluas

Kembali lagi ke pulau Weh. Sejatinya pulai ini adalah pulau vulkanik aktif. Dari karakteristik pantainya kita bisa tahu.

Saya sebenarnya tidak sendirian mengunjungi Pulau Weh, yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai Sabang. Saya ditemani Dr. Atoillah, rekan satu kantor yang juga jadi bos KIH FKM Unair. Kami sebenarnya mendapatkan tugas terkait faculty branding ke Banda Aceh. Maka hari Minggu sesampainya di Banda Aceh kami sempatkan menyebrang ke Pulau Weh.

Perjalanan kami tempuh kurang lebih 1 jam dari Pelabuhan Ule Lheue di Banda Aceh. Ada dua pilihan alternatif ke Sabang. Dengan kapal ferry (Ro-Ro) dan kapal cepat. Pilihan itu juga menentukan seberapa banyak kita punya waktu untuk mengeksplorasi Sabang.

Bagi kami yang sekedar numpang lewat, berlabuh ke Sabang kami pilih dengan kapal cepat. Waktunya lebih singkat 1 jam dari kapal ferry (Ro-Ro). Sehari ada 3 kali jadwal kapal cepat. Jam 7, 11 dan 16. Sedangkan Kapal Ferry (Ro-Ro) lebih tidak fleksibel termasuk karena faktor cuaca.

Suasana di dalam kapal cepat

Dengan kecepatan yang terukur kami melaju ke Sabang setelah sebelumnya membeli tiket terusan pulang-pergi. Tiket kisaran Rp. 80.000,00 dan Rp. 60.000,00 untuk penduduk asli yang ber KTP Sabang. Sesampainya di Sabang kami sudah disambut para driver mobil sewaan dan ojek, termasuk mereka yang menawarkan jasa sewa motor. Tarifnya murah. Sayang kami tidak sempat tanya. Kami pun menelpon driver yang sudah kami sewa sebelumnya. Tarif sehari Rp. 500.000,00/hari sudah termasuk bensin dan uang driver. kita bisa bebas mengitari Sabang. Tapi asal ada waktu.

Saya melongok jam tepat jam 17:00 WIB kami sudah ada di mobil untuk menuju tujuan utama di Titik Nol Kilometer Indonesia. Kami hanya menargetkan itu saja, karena memang ini bukan tujuan utama kami datang ke Banda Aceh. Sebenarnya kami tidak ingin menginap semalam. Tapi pesawat dari Surabaya sampai di Sultan Iskandar Muda mepet dan pada akhirnya kami memutuskan berangkat sore harinya. Konsekuensinya ya nambah waktu semalam. Tapi okelah.

Melewati jalanan utama di Sabang, kami bergumam wah jalanan utamanya mulus sekali. Walaupun semakin mendekati titik nol jalanan semakin menyempit. Tapi secara umum akses cukup baik. Di Sabang selain bisa diakses dengan jalur laut juga bisa ditempuh dengan jalur udara. Tetapi penerbangan dari Sabang ditempuh dari Medan. Ada dua maskapai yang melayani rute ini. Mereka adalah Lion Air dan Garuda Indonesia. Lion Air 3 kali seminggu, Garuda Indonesia 2 kali seminggu di akhir pekan.

Jalanan utama dari pelabuhan Sabang ke pusat kota
Jalanan relatif mulus dan baik

Tepat jam 18:00 WIB kami sampai di Titik Nol Kilometer. Jangan dibayangkan jam segitu di Sabang dan di Surabaya. Hehehe.

Saat kami sampai, cuaca cukup cerah sehingga kami bisa melihat matahari tenggelam di ujung barat samudera hindia. Kemudian kami meninggalkan jejak dengan berfoto dan mengambil beberapa foto untuk bahan blog ini dan sosial media. Walaupun harus antri dengan para pengunjung yang muda usia.

Mengabadikan momen di tugu titik nol kilometer

Masjid di titik nol kilometer

Tugu Nol Kilometer Indonesia berdiri tepat di bibir laut bagian terluar pulau Weh. Hmm sebenarnya ada lagi bangunan yang paling tepi dan lebih Nol lagi. Hahaha. Ya Warung Kopi diseberang tugu Nol Kilometer. Disitulah kami rehat sejenak, menikmati sajian mie goreng Indomie sejuta umat dan Ngopi. Kemudian ada wisatwan asing yang dari logatnya dari Amerika juga mampir bersama keluarga. Sabang sendiri harus diakui merupakan tujuan para pecinta diving atau selam wisatawan dunia.

Menikmati suasana sunset dengan kelapa segar

Setelah sholat jamaah Magrib dan dijamak Qashar Isya kami kembali ke Kota Sabang untuk menginap dan menikmati sajian kopi dan makanan khas lokal ditepi pelabuhan.

Mampir Ngopi dan makan malam

Esok paginya kami sudah ada di pelabuhan Sabang untuk bertolak ke Banda Aceh dengan kapal cepat jam 07:00 WIB. Jadwal relatif tepat waktu. Dan didalam kapal banyak juga wisatawan asing yang bertolak. Ini membuktikan nama Sabang tidak asing bagi mereka. Kami berdampingan dengan cewek-cewek dari Jerman yang berlibur ke Sabang untuk menyelam.

Antrian tiket saat balik ke Banda Aceh

Alhamdulillah Senin 7 Agustus 2018 jam 08:15 WIB kami sampai di Bansa Aceh. Perjalanan yang singkat sekali tapi mengesankan. Coba kalau kami tidak ngotot untuk mampir ke Sabang mungkin saja kami akan menyesal hari ini. Hehehe. (IAR)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.