Membaca adalah Kunci

Rabu, 2 Mei 2018. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Saya yakin banyak yang datang pagi-pagi hari ini untuk bersiap upacara bendera. Termasuk Ibu-ibu yang kebetulan suaminya seorang Guru ataupun Dosen, atau lebih dari itu Ibu-ibu yang mempunyai anak sekolah. Kalau pas kebagian jatah upacara bendera pasti akan sedikit lebih dini menyiapkan sarapan. Tapi tentu tidak semua orang mengalaminya.

Ibarat serimonial upacara, sistem pendidikan kita saat ini tengah mencari bentuk keseimbangan dan kesetimbangan. Apakah itu salah? saya pikir juga tidak. Tentu beragam sistem yang saat ini ada adalah sebuah ekses dari apa yang dinamakan perubahan. Seperti beberapa tahun belakangan di pendidikan tinggi kita tergerak dengan genggap gempita soal publikasi, sitasi, H-index dan persoalan lain yang lebih bernilai kuantitatif. Semua soal angka, begitu ukuran yang ada saat ini.

Itu semua persoalan yang mesti dijawab oleh pemerintah, tetapi apakah pendidikan itu tanggungjawab negara saja? saya pikir tidak. Tentu saja saya masih ingat cerita Bapak soal H.Ilyas yang berjuang memotivasi keempat anak lelakinya untuk bersekolah. Seorang yang bersekolah saat itu ibarat kaum minoritas yang di’bully’ habis-habisan. Pertanyaan kala itu yang selalu membekas pada Bapak adalah kenapa harus rela berangkat jauh-jauh dan pagi buta bersama ‘bakul’ yang mau berangkat ke pasar? kenapa mau jualan beras setiap minggunya untuk ‘sangu’ mingguan saat indekost. Apa gak enak ‘macul’ saja ‘wong’ punya sawah banyak. Sejurus pertanyaan itu kadang menjadi modal tangguh alasan ‘drop out’ sekolah kala itu. Tentu Bapak juga yang bisa menjawab kenapa lebih memilih sekolah saat itu.

H. Ilyas kala itu menitipkan satu pesan moral yang masih diyakini keempat anaknya termasuk Bapak. “Sekolah kuwi ogak sangu duwek, tapi sangu CENGKIR (Kencenge Pikir)”. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya Sekolah itu tidak bawa uang, tapi bawa lurusnya pikiran (visi), saya rasa di jaman kekinian pesan H. Ilyas tadi masih relevan walaupun harus diakui salah satu barrier dalam pendidikan saat ini adalah akses biaya. Tetapi tidak relevan juga jika melihat beberapa media massa yang memberitakan kesuksesan keluarga miskin mengantarkan anaknya pada level pendidikan tinggi.

Ya, berbicara pesan “SANGU CENGKIR” saya teringat tentang sebuah konsep pendidikan sepanjang hayat (Lifelong learning). Membuka sebuah premis yang mungkin kita kenal bahwa belajar merupakan petualangan sehari-hari yang membawa kita pada suatu eksplorasi sepanjang hidup. Hakikat pendidikan sesungguhnya adalah upaya eksplorasi manusia pada petualangan akan apa yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Petualangan itu kemudian terlembaga secara formal dalam bentuk yang kita kenal dengan sekolah. Dalam kenyataannya kita lebih mengenal beberapa tokoh hebat tidak mendapatkan cara mudah dengan belajar di sekolah saja atau mendapatkan sebuah ilmu dengan duduk diam. Mereka menempa dirinya untuk belajar terus-menerus dari mana saja, kapan saja dari hari ke hari.

Komitmen pada diri sendiri (self commitment) menjadi sebuah modal utama untuk belajar sesuatu hal yang baru setiap hari. Kita tidak akan puas dengan apa yang kita temukan setiap hari, tidak berhenti menikmati begitu saja apa yang kita temukan. Namun gejalanya yang ada sekarang bahkan untuk para pendidik sendiri adalah kita sudah menganggap diri maha tinggi namun tidak sadar bahwa belajar itu bukan soal hirarki namun ini kewajiban sebagai manusia. Sehingga tidak sedikit para pendidik akan terusik jika mendapati anak didiknya lebih tahu soal ini itu. Bahkan melampaui dirinya.

Menerapkan pengetahuan yang kita peroleh dari keseharian dan menjadi guru adalah satu keharusan bagi kita. Hakikat ini yang dipahami bahwa setiap insan adalah sebagai ‘lifelong learner’. Seumpama kita guru, maka setiap hari tentu kita harus tahu banyak hal agar murid kita mendapatkan beberapa ilmu baru yang mungkin mereka sendiri sudah lebih tahu dari kita.

Ada sekian cara menjadi seorang ‘lifelong learner’ dari sekian cara tersebut ada satu hal yang saya ingat yaitu “READ, READ, READ” atau “IQRA”. Salah satu Profesor di almamater menitipkan pesan ini saat saya orientasi sebagai dosen muda beberapa tahun yang lalu. Beliau berpesan kepada kami “Jadi Dosen harus gemar membaca, membaca apa saja setiap hari!” saat itu saya sadar bahwa jika kita berikhtiar menjadi seorang ‘lifelong learner’ maka satu dari sekian tahapannya adalah membaca, membaca dan membaca. Membaca adalah salah satu pola belajar yang paling mudah dilakukan namun seringkali kita paling malas melakukannya. Dengan membaca kita bisa menyelami sebuah ide dan gagasan. Termasuk membantu kita untuk mempelajari penemuan dan kesalahan para pendahulu agar tak terulang pada kita. Membaca juga adalah sebuah jalan pintas sehingga kita tidak perlu belajar hal-hal yang baru dengan cara yang keras dan membutuhkan waktu yang lama. Jangan pernah membatasi diri membaca segala macam buku.

Memandang tahapan lifelong learning bahwa belajar itu adalah soal tugas adalah cara yang keliru, jika hanya demikian maka kita akan mendapati sebuah ijasah tak bernyawa. Tidak akan ada passion di dalam setiap lembar ijasah formal kita, oleh karena itu batasan kita soal belajar harus kita dorong lebih luas lagi dan tidak terkotak pada bangku sekolah formal.

Kita bisa mendapatkan pengetahuan baru setiap harinya dari anak kita, dari rekan kerja kita yang sangat membenci kita sekalipun atau bapak tukang sampah yang setiap harinya mengambil sampah di perumahan kita. Inti dari pendidikan sesungguhnya adalah bagaimana kita mendefinisikan belajar itu sendiri. Dan membaca adalah kunci.

Barangkali postingan ini panjang dan sangat random mohon dimaklumi.

Ps: Foto saat pertama kali masuk kampus bukan sebagai murid, tapi sebagai murid sepanjang hayat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s