Menggali Makna Khandaq (3/7): Belajar Berkhandaq kepada Buya Hamka

Kesibukan memang tak bisa dijadikan alasan untuk ‘vakum’ menulis apa yang ada di kepala. Begitu juga janji untuk menggenapkan sekuel Menggali Makna Khandaq ini sampai menjadi tujuh bagian selama bulan lalu. Semuanya sekedar bukti jika ide itu harus segera diabadikan dalam kertas entah kertas dalam arti sesungguhnya atau dalam arti kekinian. Maka dalam hati sayang mencoba mengingat persoalan apa yang mempunyai sifat kekinian dewasa ini. Sembari membayar hutang tulisan di pranala ini maka ingatan saya tertuju kepada sosok ulama kebanggaan.

Buya Hamka…

Saya mencoba memerankan diri sebagai salah seorang yang hadir siang itu di Teater Arena Taman Ismail Marzuki, Jakarta tepatnya tahun 1969. Barangkali orangtua kami saat itu baru berusia tujuh tahun. Kondisi Jakarta kala itu tentu belum bisa melupakan pergantian rezim orde lama ke orde baru yang kala itu sempat diwarnai berbagai peristiwa berdarah yang mengorbankan anak negeri. Kata Kiri dan Kanan menjadi sebuah pertentangan, begitu juga ideologi yang mengikutinya. Orde lama yang kala itu terganti dengan orde baru, belum banyak memberikan harapan walaupun usaha untuk meyakinkan rakyat dibawah orde baru nampaknya ekstrim dipropagandakan.

Saat itu panitia menghadirkan sosok Ulama yang sangat Istimewa, Ulama yang kokoh ditelan jaman dan konsistensinya tak diragukan. Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Kita biasa mengenalnya dengan kependekan Hamka. Ulama pentafsir Al Quran yang karyanya tersohor dengan tafsir Al-Azhar, Novelis yang melahirkan karya Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang kelak dari karya novel ini berujung pada polemik plagiasi dengan Seorang Pramoedya Ananta Toer.

Sastrawan Angkatan 66 Taufiq Ismail mengabadikan diskusi itu didalam bukunya yang berjudul Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit. Dalam diskusi tersebut Buya Hamka dicecar beberapa pertanyaan oleh para peserta yang hadir. Singkatnya ada dua pertanyaan yang cukup penting dijawab oleh Buya Hamka.

Pertama, Peserta menanyakan pendapat Buya Hamka mengenai pelarangan buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Rezim Orde Baru seluruh karya Pram dinyatakan haram bagi publik. Itu juga berakibat pada digiringnya Pram ke Pulau Buru dengan label Komunis.

Kedua, Bagaimana sikap Buya Hamka terhadap diri Pram yang telah menghancurkan nama baiknya di masa silam oleh sebab Pram menulis konfrontasi yang terlihat sebagai sikap yang sangat membenci Buya Hamka di media massa pro Komunis yang bisa ditemui di rubrik Lentera dalam Harian Bintang Timur. Kecaman Pram itu juga menyangkut pada karya sastra Buya Hamka yang dianggap penuh Plagiasi. Tidak cukup itu tuduhan subversif juga dialamatkan oleh Pram kepada Buya Hamka perihal ikut berkomplot untuk membubuh presiden Soekarno sehingga berakibat dibuinya tokoh Masyumi dan Muhammadiyah itu hampir tiga tahun lamanya. Buya Hamka menghirup udara bebasnya setelah rezim orde lama tumbang.

Apa jawaban Buya Hamka pada peserta diskusi yang hadir kala itu?

Buya Hamka menjawab dengan tegas tidak setuju dengan pelarangan buku-buku karya sastra milik Pramoedya. Dan perihal serangan dirinya pada masa orde lama Buya sudah memaafkan semua pihak yang menjebloskan dirinya ke bui, termasuk Presiden Soekarno yang kelak saat wafat Buya Hamka lah yang menjadi Imam Sholat Jenazahnya.

“Falsafah hidup saya adalah cinta” ujar Buya Hamka seperti diceritakan oleh Taufiq Ismail.

Dalam bukunya Taufiq Ismail mengingat serentak para peserta di Teater Arena Taman Ismail Marzuki kala itu terdiam hening mendengarkan jawaban itu. Takzim, takjub atau apa yang dirasakan semuanya. Dan pada akhirnya saya juga tahu disaat akhir, Pram menitipkan Calon Menantu Laki-lakinya yang akan menikah untuk Bersyahadat dibawah bimbingan Buya Hamka dan belajar Islam.

Sungguh mulia dan tauladan sepanjang masa dari cerita cinta seorang Hamka kepada Pram. Jamak, kita tahu saat dendam berkecamuk di hati terdalam maka aroma cinta saja tak tercium di kita. Kata maaf juga akan seperti menelan pil pahit saat diucapkan pada “musuh” seteru kita, bahkan pada saudara seperjuangan dalam jannah-Nya. Kita harus belajar pada beliau. Sesadar saat ini saat titik nadir iman kita dipertaruhkan menghadapi musuh Alloh yang tampak nyata. Sesadar bahwa kaum Munafik sudah menampakkan cirinya. Maka apakah Khandaq yang nyata bagi kita?

Jawabnya hanyalah Cinta. Cinta kita kepada-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.