Penembakan Ko Ni dan Rapuhnya Myanmar

Ditengah sorotan internasional karena dinilai membiarkan aksi kekerasan terhadap minoritas Muslim Rohingya di Negara Bagian  Rakhine, Myanmar kian rawan.

Ahad (29/1) dunia politik di negara itu guncang saat terjadi kasus penembakan yang menewaskan ahli hukum terkemuka Myanmar, U Ko Ni. Dia dikenal sebagai ahli hukum tata negara juga dikenal sebagai penasihat pemimpin Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Dia dikenal sebagai konselor negara yang memungkinkan pemimpin NLD Aung San Suu Kyi mengemudikan pemerintahan. 

Ko Ni ditembak sekembali dari Indonesia untuk studi banding tentang demokrasi dan resolusi konflik. Tidak kurang enam buku tentang hak asasi manusia dan pemilu demokratis juga ditulisnya.   The New York Times menyebutkan bahwa Ko Ni juga aktif dalam pergerakan perdamaian lintaskepercayaan. Pemakamannya diantarkan oleh 100.000 orang juga menyiratkan Ko Ni selain sosok besar juga dicintai. 

Beberapa pertanyaan yang muncul di permukaan, apa motif pembunuhan ini?

Banyak spekulasi dan tuduhan bahwa pembunuhan ini bermuatan politik. NDL menyebutkan demikian. Publik memberikan opini bahwa Ko Ni terlalu jauh merancang tata negara Myanmar di luar konstitusi negara tahun 2008 yang dibuat oleh junta militer. Menurut konstitusi ini, warga Myanmar yang memiliki anggota keluarga berkewarganegaraan asing tidak bisa menduduki jabatan presiden. Sebuah hal yang konstitusional untuk menghalangi Suu Kyi yang memiliki suami dan anak berkewarganegaraan Inggris duduk di kursi presiden, meskipun partainya memenangi pemilu.

Banyak fakta yang menyisakan pesan terhadap kasus pembunuhan Ko Ni, salah satunya adalah bahwa Ko Ni adalah seorang Muslim.

Penembakan ini mempunyai pesan yang meninggalkan kesan bahwa para pemimpin NLD dan para pegiat yang ingin merubah konstitusi 2008 untuk memikirkan kembali tindakannya.

Posisi Suu Kyi semakin terpojok. Dikecam kalangan Muslim soal Rohingya dan dibawah bayang-bayang militer. Melihat beberapa perkembangan dewasa ini sesungguhnya posisi Myanmar masih sangat rapuh dan sangat mudah diguncang oleh berbagai insiden serupa. Demokrasi harus tetap diperjuangkan oleh para aktivis disana, tapi harus sekuat apalagi?

Wonorejo, 2 Februari 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.