Cover Story:
Dia hanya seorang anak muda yang kala itu baru berusia 25 tahun. Bung tomo tahu betul ketika NICA kembali jawabannya bukan cara-cara lembek Jakarta yang membiarkan tentara Sekutu berkeliaran di jalanan Surabaya. Ia memilih jalan revolusi melalui peperangan. Dia bukan pemimpin militer, melainkan seorang wartawan Domei (Antara) yang dengan agitasi kelas atas dan propaganda tak kenal lelah membangkitkan segenap rakyat menggelorakan pertempuran Surabaya. Apa jadinya jika pertempuran Surabaya yang merupakan pertempuran terbesar pasca Proklamasi tanpa orasinya? Orang-orang dari tukang becak, tentara, kiai, santri dan seluruh rakyat menantikan suaranya di sekitar tiang-tiang pengeras suara yang disebar di setiap sudut kota Surabaya yang membakar semangat kala itu. Suara Bung Tomo di Radio Pemberontakan itu bahkan terdengar hingga ke Yogyakarta.
Perlawanan arek-arek Suroboyo menjadi meletup letup dan menghebat karena pidato pamungkas dengan kata yang saya ingat dan provokatif “Habiskan Musuh Kita” tentunya dengan pekik takbir tiga kali “Allahu akbar” dan “Merdeka”!

(Pict: Cover Majalah Tempo Edisi Khusus Hari Pahlawan, 9-15 November 2015) – at Green Semanggi Mangrove

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.