Mengapa saya menulis tentang Makmunudin Anwari?

Kematian memang mendekatai siapa saja, dan jika sudah waktunya tak seorangpun dapat merayu. Begitu juga waktunya yang tak bisa dipastikan bahkan ditebak.

Wafatnya seorang legenda sangatlah berbeda dengan kematian biasa. Berbagai inspirasi dan kenangan yang mungkin bisa dikategorikan manis ataupun pahit membuncah selalu di setiap ingatan banyak insan. Legenda merupakan warisan, walaupun itu terbesit dalam kenangan kita yang masih diberi umur sampai saat ini.

Pak Anwari. Makmunudin Anwari begitulah nama panjang beliau. Aku biasanya memanggil beliau dengan panggilan Bapak atau Pak Anwari. Beliau adalah guruku saat aku mengenyam pendidikan SMA. Beliau seorang guru yang eksentrik, inspiratif dan terkesan “nyleneh” di jamannya. Guru Bahasa Indonesia dan Sastra. Memang orang Sastra sepertinya terlahir untuk “nyleneh” itu kata mereka, dan waktu tiga tahun di SMA membuktikan nampaknya beliau tergolong sosok yang seperti itu.

Cara-cara unik dalam mendidik kami murid-murid terkadang unik. Mengubah seorang yang “nakal” menjadi seorang yang suka sholat Dhuha. Dengan kata-kata beliau, “Pajek e endi?” “Awakmu kudu nggowo pajek….”. Ah, pokoknya pada akhirnya kami semua menyebutnya Bapak Raja Denda!. Semuanya menjadi tidak normatif saat denda kami adalah memberika “sesajen” Bakso di depan Sekolah, atau Bakso Cak Malik sebagai akibat jika kami “melanggar” aturan tak baku dan berujung nilai kami turun atau ada nilai moralitas di Seksi V ataupun di Ekstra Romansa Cendekia yang berkurang. Dan itu semua adalah sarana komunikasi kami sebagai anak didiknya, walaupun pada faktanya aku tidak pernah diajar bahasa Indonesia oleh beliau.

Kami di Seksi V khususnya di ekstra Romansa Cendekia (Red. Jurnalistik Sekolah) menjadi dekat dengan sosok beliau karena rutinitas ekstrakulikuler yang membuat kami harus berkomunikasi intens sepulang sekolah. Termasuk beliau yang “merawat” kami sebagai orang tua dengan segala kelebihan dan kekurangan saat aku kelas dua dan tinggal di ruangan Takmir bersama empat orang lainnya (Mas Harianto, Alm. Mbul, Ubed, Haris) sebagai pengurus masjid SMADALA yang dulu tidak sebesar dan semegah sekarang.

Pak, kiranya aku menulis bukan untuk mengenangmu tapi takut jika inspirasi yang kau berikan dulu terhapus oleh kelamnya rutinitasku saat ini.

Aku juga masih ingat jika sering  bertengkar dengan Pak Anwari, terutama karena masalah beberapa artikel yang akan kami masukkan ke majalah. Beliau suka membuat novel yang jujur kita yang di redaksi dan kebanyakan murid di SMA 2 Lamongan saat itu tidak tahu maksud dan mungkin kami semua terlalu “goblok” untuk memaknai sebuah karya sastra. Sebut saja karyanya di RC (red. Romansa Cendekia) dari KOPRAL JABRIK, atau PUTRI SALJU atau ahh apa itu membuatku kadang bertengkar kenapa novel ini harus dimasukkan, mengingat panjang nian dan memakan empat lembar halaman majalah. Sementara hasrat menulis kami dan tulisan liputan kegiatan sekolah saat itu banyak yang harus kami masukkan. Pak Anwari, tapi lambat laun kini aku dan mungkin beberapa orang paham tujuanmu, Bapak melatih kami membaca sebuah novel untuk menghaluskan budi kami. Bapak menginspirasiku untuk menulis sepanjang sebuah novel yang saat ini membuatku gemar menulis di blog ini. Ah, Pak…Jika saja itu aku tahu dulu!

Pak Anwari dulu tinggal di sekretariat gabungan (Seksi V dan SMADAPALA) sebelah ruang OSIS. Sebetulnya beliau punya rumah di Perumnas Made hanya saja dulu jarang sekali ditempati. Beliau lebih suka bertahan di sudut sempit ruangan dengan sebuah PC (Personal Computer) yang era itu bisa dibilang golongan PC kelas wahid. Pentium 4 dengan Windows XP era itu merupakan idaman, terlebih lagi dengan Subwoofer dan Sound yang menggelegar. Duh, mantab sekali Bass-nya. Pak, aku juga teringat sampai sekarang, jika dulu aku tidak memegang komputermu maka mungkin bisa saja aku sekarang masih gaptek komputer. Aku mendadak belajar otodidak soal komputer dan multimedia termasuk atas saranmu aku ikut Olimpiade Komputer mewakili Kabupaten dengan berlatih Turbo Pascal. Termasuk mulai gemar membeli majalah CHIPS (Majalah Komputer) untuk sama-sama membedah aplikasi komputer dan multimedia yang sama-sama memanjakan telinga anak-anak OSIS dengan musik Rock!

Pak Anwari, aku jadi tergila-gila Queen, kagum pada gitaris  Joe Satriani itu juga karenamu Pak! Dan kenapa aku setiap hari sering memutar Beatles itu juga karenamu. Kalian semua yang pernah sore-sore kala itu di ruang OSIS atapun SMADAPALA pasti akrab dengan musikalitas Pak Anwari. Dan jika bisa berteriak maka PC beliau akan menjerit minta tidur karena hampir 24 jam PC nya selalu ON! Kecuali saat aktivitas jam sekolah PC selalu silent dari musik.

Pak Anwari, aku juga jadi sangat tahu jika Sholat Dhuha itu adalah sebuah mukjizat!. Beliau adalah motor penggerak Sholat Dhuha yang konsisten di Sekolah. Menggerakkan anak didiknya untuk sholat Dhuha, walaupun kontra selalu ada karena Sholat Dhuha selalu dilakukan berjamaah dan 12 rakaat. Aku pribadi tidak mempersoalkan itu. Denda sudah jelas jika kami tidak Sholat Dhuha sewaktu jam istirahat pertama. Dan sekarang itu kumaknai sebagai konsistensi beribadah.

Ya, Pak Anwari adalah seorang guru. Dengan beragam caranya, ia mendidik orang menjadi lebih baik. Tidak selalu menjadi orang yang dapat nilai rapor baik. Bahkan tidak selalu muridnya lulus sekolah. Guru yang memperagakan semangat yang menggebu untuk berbagi. Setiap perjumpaan dengan guru selalu meninggalkan kesan bagi muridnya.

Pak Anwari adalah legenda. Sosok yang (mungkin) dibenci, sekaligus sosok yang sangat dicintai. Jika aku bisa berkata untuk yang terakhir kalinya sebelum tadi malam beliau meninggalkan kita semua di dunia fana ini aku akan berucap penuh makna.

“Pak, terimakasih atas bimbingannya sewaktu di sekolah dan di RC dlu”

Wafatnya seorang legenda tentu berbeda dengan wafatnya orang biasa. Begitu seorang legenda menjumpai sang Khalik, beragam inspirasi selalu muncul, segudang kenangan menjadi bunga-bunga kehidupan dan itu dari banyak orang. Inspirasi demi inspirasi teringat kembali. Kenangan dalam ingatan seakan tayang kembali.

Kematian yang terdekat dengan kita karena sewaktu-waktu tibanya. Akan tetapi, apakah kita senantiasa mengingatnya? Ah kita terlalu sibuk menumpuk kehidupan dunia, lupa bekal akheratnya

Itulah kata inspirasi terakhir yang diposting di Facebook beliau sebelum beliau menjumpai Sang Khalik di alam abadi. Semoga bapak ditempatkan di sisi yang mulia. Aamiin.

Selamat jalan Pak Anwari teriring doa “Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi.”

Ilham Akhsanu Ridlo
Ketua Romansa Cendekia tahun 2003-2004
OSIS SMA N 2 Lamongan

6 thoughts on “Mengapa saya menulis tentang Makmunudin Anwari?”

  1. Innalillahi wa innalillahi rojioun. Sedikit banyak, saya jg merasakan kehadiran dan hasa beliau. Smoga amalnibadah beliau diterina disoao Allah swt. Amieeen

  2. Nuwun sewu, ini yang meninggal dunia apa pak Anwari alias pak Makmunudin Anwari, asal Blitar yang suka nulis novel itu. Maaf, hendaknya aku dihubungi via sms. Kalau betul, aku kawannya ketika di PGA 4 th Blitar dulu. Tolong di-sms atas nama Imam Ahmad Ibnu Nizar, hp nomor: 085755205044

  3. Pak Anwari akan selalu terkenang. Beliau selalu memberi nasehat penguat kala ekstra teater citra mendapat guncangan dari sekolah karena membuat stan bazar di GOR Lamongan tanpa ijin karena kami percaya saat itu hanya membantu para alumni.

    salam dari ilustrator RC tahun 2000-2001 dan ketua Teater Citra angkatan 2001 (Roikan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.