Lifelong Learner (Chapter 1)

I do not think much of a man who is not wiser today than he was yesterday.(Abraham Lincoln)

Membuka sebuah premis yang mungkin kita kenal bahwa belajar merupakan petualangan
sehari-hari yang membawa kita pada suatu eksplorasi sepanjang hidup. Belajar yang kita kenal tidak ‘melulu’ berhenti oleh lembaga formal yang kita sebut sebagai sekolah.

Dalam kenyataannya kita lebih mengenal beberapa tokoh hebat tidak mendapatkan cara yang mudah dengan belajar di sekolah saja, atau mendapatkanlife-long-learning suatu ilmu dengan duduk diam. Mereka semua menempa diri mereka untuk belajar terus-menerus dari mana saja dan kapan saja dari hari ke hari.

Komitmen pada diri sendiri (self commitment) menjadi sebuah modal utama untuk belajar sesuatu hal yang baru setiap hari. Kita tidak akan puas dengan apa yang kita temukan setiap hari, tidak akan berhenti menikmati begitu saja apa yang kita temukan.

Menerapkan pengetahuan yang kita peroleh dari keseharian dan menjadi guru untuk generasi mendatang adalah salah satu keharusan bagi kita. Yang ingin disebut sebagai lifelong learner. Seumpama kita guru, maka setiap hari tentu kita harus tahu banyak hal agar murid kita mendapatkan beberapa ilmu baru yang mungkin mereka sendiri sudah lebih tahu dari kita.

Menjadi seorang lifelong learner dimulai dari hal-hal berikut

Learn how you learn. Mengetahui metode atau cara yang tepat bagi diri kita untuk mempermudah cara belajar yang efektif bagi diri kita adalah tahapan yang paling dasar yang harus kita ketahui. Misal, Kita bisa memilih belajar dengan cara visual (melihat langsung keseharian, melalui media teknologi, channel youtube dll), atau menggunakan podcast melalui audio. Atau bahkan berbicara pada diri sendiri dengan merenung ketika melihat kejadian imajiner di alam bawah sadar kita. Kita yang paling tahu metode efektif untuk diri kita sendiri, buka orang lain.

Learn where your talents and interests lie. Dalam hidup kita dihadapkan pada apa-apa yang sudah menjadi kebiasaan dan kesukaan kita. Bahkan mendarah dagingnya seperti sebuah ideologi di otak kita. Sebagai seorang pembelajar maka sudah waktunya kita ‘sesekali’ keluar dari kotak pandora kita. Kita memang meyakini sesuatu yang menurut kita baik saat ini, tetapi kita harus mencoba membandingkan itu dengan sudut pandang sekitar. Kita harus mencoba yang lain di luar rutinitas kita. Kejadian di luar rutinitas menjadikan kita kaya akan pengalaman yang akan menambah ilmu dan manfaat bagi ‘portofolio’ kita. Sebagai contoh, jika kita memiliki pengalaman buruk naik sepeda motor ketika masih kecil/muda, dan saat ini ketika dewasa kita sudah terampil naik sepeda dengan satu tangan maka tentu kita tidak akan lagi mendapatkan pengalaman seperti masa kecil dahulu. Pengalaman tersebut mewarnai pencapaian kita. Sikap terlalu hati-hati untuk mencoba sesuatu yang baru atau dengan dalih pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan akan memotong kesempatan kita untuk menjadi seorang lifelong learner.

Look at learning as an exploration and opportunity, not a chore. Cara pandang dan sikap kita yang memandang kesempatan menuntut ilmu atau belajar sebagai sebuah tugas adalah sikap yang harus dihilangkan jika kita ingin sebagai lifelong learner. Karena jika kita memandang belajar sebagai sebuah tugas, maka kita akan mendapati sebuah ijasah yang seakan tanpa bernyawa. Tidak akan ada passion di dalam lembar demi lembar ijasah yang kita peroleh dari bangku sekolah formal. Tentu, dalam konsep ini kita menganggap sarana belajar tidak terkotak dalam bahasan formal dan ilmiah. Membuat belajar sebagai sebuah eksplorasi dan kesempatan adalah patron yang harus diikuti oleh seorang longlife learner. Dua hal tadi membuat pemahaman kita akan sangat luas tentang konsep belajar itu sendiri. Dan jika itu dilakukan maka setiap harinya kita akan menjadi ‘kaya’ akan pengetahuan baru. Yang mungkin pengetahuan atau yang bersentuahan dengan itu bisa kita dapatkan dari seorang anak kita, dari rekan kerja kita yang sangat membenci kita, atau dari bapak tukang sampah yang setiap hari mengambil sampah kita di perumahan.

Learn the basics. Kita dapat membuat bangunan megah nan mewah dengan menghitung dan mengkalkulasi dengan teknik dan metode perhitungan yang rumit, tentu saja jika anda seorang arsitek atau sarjana teknik sipil. Tetapi pernah tidak kita berfikir bahwa jika dua orang sarjana tadi tidak mengenal perhitungan matematika dasar atau sekedar kemampuan membaca, mampukah dua orang tadi membuat gedung megah nan mewah? Kita tahu jawabnnya tidak!. Jangan anggap remeh satu kata “basic“. Semua logika dan cara pikir membuat kita berfikir sangat sederhana dan mendasar. Untuk menjadi seorang Lifelong learner kita bisa memulainya dengan belajar apapun dari tahapan sederhana dan mendasar. Pijakan yang kuat tentu saja dibentuk oleh dasar yang kokoh. Jangan belajar sesuatu dari yang paling rumit karena itu akan membuat waktu kita tersita cukup banyak, kecuali jika kita sudah sangat paham konsep dasarnya. Kiranya begitu.

Read, read, read. Suatu hari ditengah masa orientasi dosen muda, saya bertemu dengan salah satu profesor di fakultas saya. Dalam pesannya kepada kami, beliau hanya menitipkan satu kalimat yang mungkin kita sudah sering mendengar.

Jadi dosen harus gemar membaca, membaca apa saja setiap hari!

Saat itu saya semakin sadar, jika kita ingin menjadi seorang Longlife Learner maka satu dari sekian tahapannya adalah membaca, membaca dan membaca. Berteman dengan perpustakaan setempat atau kepada penjual buku bekas maupun tukang koran adalah salah satu caranya. Tentu yang saya maksudkan bukan berarti meminta nomor teleponnya. Tetapi sebuah ungkapan bahwa untuk menjadi seorang pembelajar kita harus suka berkunjung di perpustakaan atau membaca koran dll setiap harinya. Sesuatu yang bisa kita baca, apa saja!. Membaca adalah sebuah portal mendasar agar kita tahu pola pikir dunia per jamannya dan bisa menyelami pikiran sesama manusia. Dengan membaca kita tidak akan pernah berhenti belajar. Kreativitas spesies yang bernama manusia sangat kompleks untuk kita selami dari hasil-hasil karya tulisnya.  Dan membaca akan membantu kita untuk mempelajari penemuan dan kesalahan orang lain yang telah pergi mendahului kita; Membaca adalah sebuah jalan pintas sehingga kita tidak perlu belajar hal-hal yang baru dengan cara yang keras dan membutuhkan waktu yang lama. Membaca segala macam buku. Jangan membatasi diri. 

Broaden your definition of learning. Memperluas definisi kita tentang belajar mempengaruhi bagaimana kita harus mempelajari sesuatu. Definisi belajar yang luas membuat kita selalu tertantang untuk mencoba hal yang baru, baik di dalam maupun di luar ‘area’ keterampilan kita. Coba sekarang kita buat list daftar keterampilan yang kita sukai dan kita miliki, nah apakah kita tidak menginginkan beberapa keterampilan lagi di luar sana yang bahkan menanti kita untuk di’geluti’?

Do things outside your vocation. Melakukan pekerjaan di luar rutinitas merupakan salah satu upaya kita untuk belajar. Bertanya pada diri sendiri, berapa lama waktu yang kita habiskan di tempat kerja? Berapa lama kita duduk di bangku kuliah untuk mendengarkan Guru atau Dosen mengajar? Tentu semua ilmu atau pengalaman tidak akan pernah bisa didapatkan dengan cara-cara formal. Maka saat kita merasa jenuh dengan rutinitas itu, maka buatlah aktivitas di luar dari keseharian! Kita akan mendapati di luar sana banyak sekali pengalaman yang bisa kita ambil. Dan tentu banyak ilmu baru yang membuat proses belajar kita menjadi beragam.

Create. Beberapa step sebelumnya menjelaskan kepada kita bahwa belajar bisa didapatkan dimana saja dan tidak harus dari bangku sekolah. Maka sesungguhnya ada sesuatu dari dalam diri kita yang merupakan sarana pembelajaran efektif. Tentu kita pernah membuat, menciptakan, merancang sesuatu hal. Sesuatu itu kadang bersifat fungsional ataupun berupa imajinasi. Proses itu merupakan suatu proses alami yang berasal dari diri kita untuk belajar. Penciptaan, seperti kecerdasan, bisa kesenian atau karya ilmiah; fisik atau intelektual; sosial atau soliter. 

Observe. Setiap hari kita melihat dunia di sekitar kita dan meresponnya dan menceritakan pada orang lain. Sesungguhnya saat kita mengobservasi sekeliling kita maka kita sudah melalui satu tahapan proses belajar. Begitupun setelah kita mengintrepetasikan apa yang akan kita bagi untuk orang lain dari sekeliling kita sesungguhnya itu adalah hasil dari pembelajaran kita dari lingkungan. Maka jangan bosan untuk menjadi seorang dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Lanjut Chapter 2. >>

—–

Courtesy Pict: http://www.eprojectconsult.com/wordpress/wp-content/uploads/2012/05/life-long-learning.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.