G-30-S 1965, Syafi’i Maarif: Jangan Suruh Negara Minta Maaf 

TEMPO.CO, Jakarta – Ahmad Syafi’i Maarif, cendekiawan muslim Indonesia, mengatakan rekonsiliasi terhadap korban peristiwa sejarah 30 September 1965 perlu dilakukan. Hal itu, menurut dia, perlu dimulai oleh presiden sebagai orang pertama di negara ini. 

“Tapi jangan suruh negara minta maaf kepada PKI. Saya tidak setuju,” katanya saat ditemui Tempo, Rabu, 30 September 2015.

Namun ia mengingatkan jangan sampai rekonsiliasi menghilangkan peran PKI. 
“Kita jangan menafikan peran PKI seakan-akan PKI tidak bersalah, itu bohong besar,” ucapnya.

Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini mengatakan rekonsiliasi korban peristiwa 1965 adalah rekonsiliasi untuk mengembalikan hak-hak yang diterima keluarga, anak, dan cucu korban sebagai warga negara Indonesia. 

“Bahwa anak-cucunya punya hak yang perlu dikembalikan sebagai warga negaranya, saya dukung,” katanya.

Sebelumnya, hal senada diungkapkan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia Luhut Binsar Panjaitan. Ia mengatakan pemerintah tidak akam meminta maaf kepada korban tragedi pembantaian anggota atau simpatisan PKI tahun 1965.

View on Path

Warung Kopi

Dulu, aku masih ingat saat orang berkumpul di warung kopi semacam GIRAS bertahan sampai lama karena obrolan gayeng soal politik, sepakbola, masalah RT dan apa saja yang dianggap bisa melepas penat saat bekerja atau rehat kerja. Semua dekat dan gayeng. Masih ingat warung kopi GIRAS di sebelah kost yang menemani kami saat UAS. Minum kopi dan mengganjal perut dengan gorengan yang memang sebenarnya kaya minyak.

Kini, mungkin saja GIRAS tergantikan oleh deretan warung kopi modern yang menawarkan colokan listrik gratis dan fasilitas Wifii. Namun, mungkin saja obrolan yang ada disana nampak dari kaum muda usia, yang membahas berbagai macam masalah mereka. Mulai dari gagal move on, gebetan, tugas kuliah, sosok dosen idaman atau killer dan lain dan lainnya. Sayangnya itu semua menjadi tidak gayeng lagi saat obrolan yang hanya berjarak beberapa sentimeter itu terjadi di ruang aplikasi chatting atau group yang ada di handphone yang terkoneksi oleh Wifii sebagai konsekuensi bahwa warung kopi modern haruslah punya fasilitas itu.

Kini, deretan warung kopi di dekat kost yang dulu hanya ada televisi untuk nobar (nonton bareng) menghias dirinya dengan Wifi yang lumayan kenceng untuk download atau akses youtube..Semoga obrolan gayeng tentang siapa walikota idaman tahun depan hadir alami dari mulut ke mulut. Hati ke hati..

Wonorejo, 29 September 2015 – at Green Semanggi Mangrove

View on Path

Adnan wafat pada tanggal 23 September 2015 pada pukul 10:15 WIB karena Gagal Ginjal dan Gangguan Jantung. Sebelum Meninggal, Adnan masih sadar dan minta Sop Buntut. Selamat jalan Bang Buyung.

View on Path

Terlihat jelas di wajah Ibuku, rasa bahagia yang mendalam karena hari sudah ‘tuntas’ mengentaskan salah satu tugas mulianya mengantarkan kami mendapati jenjang pendidikan yang Insya Alloh menjadi bekal di dunia dan menjadi amal jariyah bagi kedua orang tua kami. Allahuakbar! – with Ajeng

View on Path