Dulu saya masih ingat saat SMP, bapak kebetulan ke pasar Babat lewat penjual poster dan tokoh pahlawan. Berhenti sejenak dan memilih dua poster tokoh. Yang beliau pilih adalah Mbah Dahlan dan Mbah Hasyim. Dua tokoh itu tidaklah asing dimataku saat itu. Tapi setelah dibelinya poster tadi, akupun bertanya. “Damel nopo tumbas gambar niku, bapak?” (Red: Buat apa beli gambar ini?). Bapak menjawab: “Ben awakmu ngerti nek wong loro iki asale podho, teko guru sing podho” (Red: Biar kamu tahu kalau dua orang ini berasal dari asal yang sama, dari guru yang sama).
Saat itu sepanjang perjalan dari Babat ke Modo saya akhirnya diberikan satu cerita yang menjadi dasar saya pribadi menjadi warga Muhammadiyah yang sangat toleran terhadap saudara kami yang Nahdiyin. Walaupun perbedaan di ujung jaman kian meruncing di kalangan umat. Tapi sekedar kilas balik saya diingatkan oleh cerita dari Ayah saya saat saya masih SMP. Ayah saya yang lahir di keluarga Muhammadiyah juga sewaktu PGA pernah ngaji di Ponpes Langitan, begitu juga kakek saya. Fastabiqul Khoirot tanpa mengecilkan satu sama lain. Jadi kadang ada teman yang belum tahu sejarah tapi sudah berani koar-koar ya saya cuma bisa diam. Selamat #Muktamar47 Muhammadiyah dan #Muktamar33 NU.

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.