Disitu Kadang Saya Merasa Sedih

Courtesy: https://aws-dist.brta.in/2014-11/c858e8232f179a2f11da0645f35775d9.jpg
Courtesy: https://aws-dist.brta.in/2014-11/c858e8232f179a2f11da0645f35775d9.jpg

Pemberitaan demi pemberitaan, baik wacana maupun implementasi kebijakan membuat saya sedih. Tepatlah saya menulis judul ditulisan saya pagi ini. Banyak wacana yang datang dari pemerintah yang menurut beberapa pihak sangat “revolusioner”. Anda mungkin akan segera tahu tentang berbagai isu karena perkembangan media informasi baik di TV, Radio, media cetak ataupun jaringan media sosial. Tercermin dari hiruk pikuk dan jamaknya komentator terutama para netizen. Ada yang selalu baru dan nampak “revolusioner” bagi pemerintahan baru. Kita yang seumuran sangat paham bahwa setiap ganti presiden akan ada kebijakan “penghapusan” kebijakan presiden sebelumnya. Akan ada semangat yang menggelora untuk itu. Apalagi pemerintahan sebelumnya adalah rival politik. Ah, itu wajar! Wajar bagi sebuah negeri yang katanya 70 tahun sudah merdeka dan menggelora semangat nasionalismenya.

100 Hari Masa Honeymoon

Diawal pemerintahan (saat ini) kita menaruh harapan terlalu tinggi, bahkan mungkin berharap pada sebuah upaya “revolusioner” dari presiden sebagai kepala negara. Dan itu tidak salah. Kita dahaga karenanya. Semua janji kampanye membius suara akar rumput yang mendominasi dalam struktur sosial negara ini. Di saat pemerintahan memasuki seratus hari masa kerjanya adalah  langkah awal untuk merealisasikan janji-janji politiknya sekaligus berupaya menghadirkan perubahan bagi masyarakat. Disitu kadang saya merasa sedih, Sampai saat ini pemerintahan Jokowi-JK tidak luput dari perhatian pemberitaan media massa. Penilaian media massa merupakan realitas dari kinerja Pemerintahan Jokowi-JK selama masa kerjanya (saat ini). Media adalah aktor utama monitoring pemerintah. Menilik kebelakang saat 100 HARI PEMERINTAHAN JOKOWI-JK. Berdasarkan media monitoring yang dilakukan The Indonesian Institute, terhadap headline surat kabar nasional selama kurun waktu 100 hari pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK), sorotan surat kabar terbagi atas 12 isu yang menjadi headline. Isu tentang kenaikan harga BBM menjadi isu yang paling menjadi sorotan dengan 16 persen. Isu polemik pemilihan Kapolri menduduki urutan kedua dengan 14 persen, dan isu reformasi tata kelola migas di urutan ketiga  dengan 12 persen.

Masih menurut The Indonesian Institute secara umum 3 bulan setelah dilantik pemerintahan Jokowi-JK mendapatkan lebih banyak nada positif daripada negatif. Nada positif sebesar 60% sedangkan 40% untuk  negatif. Hal ini menggambarkan begitu besarnya harapan tinggi dari masyarakat, akan tetapi setelah pembentukan dan pelantikan kabinet sedikit demi sedikit harapan tersebut mengalami penurunan. Hal ini ditandai dengan kenaikan BBM di bulan November 2014. Dan setelah KTT APEC dan ASEAN, kita dihadapkan pada gejolak menurunnya nilai tukar rupiah. Disitu Kadang Saya Merasa Sedih Sampai saat ini bulan-bulanan kasus seputar pemilihan KAPOLRI yang membuahkan beberapa isu kriminalisasi KPK serta rekening gendut melebar bak sebuah bom tandan di era perang Vietnam. Membuah publik kian pasrah dan terbelah pada dua kutub yang masih belum terang kebenarannya. Tapi hati nurani sudah menjawab.

Curhatan Saya

Saya saat ini masih seorang karyawan di level menengah sebuah rumah sakit swasta. Beberapa hari lagi saya berganti status menjadi seorang CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) bebrapa hari ini merasakan kebijakan pemerintah yang menurut saya luar biasa kerasa “mak jleb”.

Sejak 20 Oktober 2014 kemarin setidaknya ada sekitar 60 Janji Pemerintahan Jokowi-JK (http://bit.ly/Janjijokowi) dan sejak tanggal itu ada beberapa poin yang menurut pendapat saya kurang sesuai. Kini  terhitung 148 hari sejak tanggal dilantik rakyat Indonesia merasakan gaya kepemimpinannya yang dikenal merakyat, jujur dan pekerja keras. Metode blusukan nya telah meyakinkan banyak orang untuk “memuja” beliau. Nah kemudian saya mencoba membandingkan dengan tentangan keras di luar. Terlebih ‘kicauan’ pendapat para Netizen yang ‘nyinyir’. Wah ternyata pendapat tentang pemerintahan Jokowi-JK beragam. Saya pilih yang kontra karena memang mayoritas suara netizen sekarang kearah itu. Saya coba melihat apa sih yang dikicaukan para Netizen.

Saya masih ingat beberapa bulan kemarin. Saya tidak punya mobil memang, kendaraan transportasi saya hanyalah Yamaha Mio yang saya isi premium. Kurang lebih dalam satu minggu biasanya saya mengisi Rp. 15.000 karena kebetulan jarak kantor ke rumah relatif dekat. Tapi sebagai rakyat saya tidak banyak menuntut dan memang dari dulu soal subsidi BBM saya gak ambil pusing. Kita banyak di subsidi (Premium). Logika aneh kembali saya pertanyakan sebagai orang ‘awam’ tentang perminyakan. Saat itu harga minyak dunia turun  sampai 50 Dollar per barrel harga BBM Indonesia justru naik sampai Rp. 8.500. Subsidi Premium pun lalu dihilangkan. Sebagai rakyat yang patuh saya hanya ikut. Toh ini membuat saya lebih belajar efisien dan berhemat. Alhasil sebagai ‘oportunis’ saya mengalihkan konsumsi BBM ke Pertamax karena dengan harga yang tidak terlalu jauh maka saya dapat kualitas oktan yang lebih bagus. Senanglah Yamaha Mio saya. Saat itu alasan pemerintah menaikkan harga BBM lebih bukan kepada alasan mengikuti harga pasar. Namun kepada pencabutan subsidi dan pengalihan subsidi. Saya bilang ‘Yes!’

Tapi, Saya merasa sedih saat beberapa bulan setelahnya saat BBM diturunkan dikisaran Rp. 6.600 dan sekarang Rp. 6.800 dalih pemerintah berubah. Bukan pada alasan pengalihan subsidi BBM tetapi pada alasan mengikuti mekanisme harga minyak dunia dan otomatis harga premium mengikuti harga pasar (2 Minggu sekali di evaluasi). Sebuah Inkonsistensi. Atau memang lagi-lagi saya ‘fakir’ ilmu soal logika perminyakan.

Disitu Kadang Saya Merasa Sedih

Mengikuti mekanisme pasar, maka rentetan kebijakan yang membuat saya harus lebih dan lebih hemat lagi kembali muncul. Bukan wacana tapi sebagai fakta.

Sektor transportasi tarif TOL naik per 1 April besok dan subsidi Kereta Api dicabut. Soal ini saya patut bersyukur ‘sedikit’ karena moda transportasi ini bukan jadi domain sehari-hari saya.

Hukum, ahh….terlalu banyak unsur politis mewarnai setiap pengambilan keputusan. Termasuk pemilihan Jaksa Agung Indonesia dari unsur Partai Politik, setelah di Kementrian Hukum dan HAM mendahului. Saya pesimis juga saat aroma kriminalisasi terjadi di KPK dan mengorbankan dua institusi yang sampai sekarang dipusaran konflik panjang (KPK dan POLRI).

Lagi, berbicara nilai tukar rupiah. Para ekonom pada masa kampanye sempat berfikir ekonomi akan membaik dan rupiah akan menguat saat pelantikan presiden berakhir. Tapi faktanya saat saya menulis curhatan ini nilai tukar rupiah ada dikisaran Rp. 13.000-an. Saya ‘buta’ soal ini, tapi efek yang saya rasakan lumayan. Harga beberapa barang di pasar naik juga. Ah, marilah berhemat!

Disitu Kadang Saya Merasa Sedih, saat kita yang dulu katanya negara swasembada beras terpaksa harus melupakan sejarah itu dengan merasakan naiknya harga beras. Beras adalah komoditi utama pangan kita. Tanpa beras masyarakat Indonesia serasa ‘hampa’. Ciee…

Gak percaya harga beras naik? Coba deh pergi ke pasar. Sementara saya merasa sedih saat beras operasi pasar mempunyai bentuk fisik seperti beras era ‘perang’ atau sangat buruk.

Hufft..Kiranya saya sebagai rakyat harus banyak sabar dan ikhlas Pak Jokowi. Saya sendiko dawuh terhadap hasil dari sistem demokrasi yang harus saya hormati. Saya pikir bapak dan pemerintah tak sampai hati jika melihat saya yang sebentar lagi jadi CPNS harus menelan beberapa kebijakan yang kontradiktif termasuk wacana soal penghapusan sistem pensiun (tepatnya pengubahan uang pensiun menjadi konsep sekali bayar). Saya berharap bapak lebih adil, dan arif. seperti pandangan mayoritas rakyat di era kampanye dulu yang menganggap Bapak sebagai orang yang merakyat, Jujur dan Pekerja keras.

Tapi ditengah kesedihan saya, saya patut bangga karena kabarnya Pemerintah merebut Blok Minyak Mahakam dengan kepemilikan saham oleh PERTAMINA sebesar 51%. Disitu mungkin bisa mengobati kesedihan saya.

Ah…Bunga KPR 14% dan saya tidak boleh sedih pak Jokowi. Semoga kesehatan menyertai Bapak agar 5 tahun kedepan tetap sehat untuk bekerja keras!

—–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.