Re-Branding: Jogja Istimewa

Ada yang menarik beberapa hari yang kemarin. Kita menyoal soal Brand. Kali ini tepatnya Jogja, ya kota pelajar ini merubah branding nya. Jogja sudah punya brand sebelumnya.  Dengan tajuk ‘Never Ending Asia’. Dengan warna khas Hijau. Logo yang dijadikan Brand Activation ini bertahan lumayan lama.

Proses pengembangan jenama (brand) baru “Jogja Istimewa” cukup menarik. Dikisahkan di situs Marketeers, logo dan slogan baru ini merupakan proses partisipasi publik, kurasi, sampai kerja ulang (rework) yang dilakukan oleh Tim 11 dan dikonsultasikan kepada Sultan. Tim 11 adalah tim yang dibentuk untuk mengawal proses rebranding Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Hasil dari “Urun Rembug Jogja” ini, disebut situs urunrembugjogja.comberhasil menjaring 1.061 urunan logo dari 581 orang, serta 995 urunan slogan dari 610 orang. Semua peserta yang telah mengirim karya mendapatkan sertifikat keikutsertaan yang ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ada pula hadiah istimewa senilai total Rp200 juta untuk para peserta dengan ide terbaik.

Jenama baru “Jogja Istimewa” soft launch pada 5 Februari 2015, danresmi diluncurkan untuk publik pada 7 Maret 2015.

Dari segi konsep, jenama atau brand yang diangkat lebih pada citizenbranding. Artinya, logo yang baru ini merupakan milik seluruh masyarakat Yogyakarta. “Meski begitu, logo tersebut jangan dijadikanbrand komersil untuk kepentingan bisnis. Misalnya ditulis di kaos merek X atau ada di makanan bu A,” tutur Ketua Tim II Herry Zudianto (6/3/2015), yang dikutip Radar Jogja.

Proses pengembangannya sempat menimbulkan kontroversi. Pada versi awal yang dipresentasikan, menuai kritikan di media sosial. Logo rancangan MarkPlus Inc pimpinan pakar marketing Hermawan Kertajaya itu menurut netizen mudah terpeleset menjadi “Togua”. Ini karena model huruf yang digunakan.

Percakapan tentang hal ini memicu kehebohan di media sosial, sehingga masuk jajaran topik tren di linimasa Twitter Indonesia pada pada 29-30 Oktober 2014. Jenama usulan MarkPlus yang akhirnya ditolak tersebut, berbunyi “A New Harmony”, dikabarkan menelan biaya Rp1,5 miliar untuk seluruh proses penjenamaan dan pencitraannya.

Founder dan CEO MarkPlus Inc., Hermawan Kartajaya berkomentar positif atas rebranding Jogja yang akhirnya diluncurkan. DilansirKedaulatan Rakyat Online (8/3), dia menilai kehadiran logo ini merupakan arah baru dari DIY agar tidak berhenti dan membangun sesuatu yang baru.

Sebelum “Jogja Istimewa”, DIY menyandang jenama “Jogja: Never Ending Asia” sejak 2001. Menurut arsip The Jakarta Post, saat itu proses penjenamaan tersebut melibatkan MarkPlus (Hermawan Kartajaya) dan konsultan jenama serta logo Landor dari Amerika Serikat. Namun, Suharnomo, S.E., M.Si., dosen FE Undip, Semarang (Jateng), dalamSuara Merdeka 10 April 2007, menyebut jenama itu gagal.

Dikutip dari : Beritagar.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.