Sembilan Delapan dalam sebuah Kliping

….Hakim jujur bisa kehilangan palu,
Hakim lucu dengkulnya berotak batu.
Jika koruptor ketawa-ketiwi tak lagi punya malu,
Alumni perguruan tinggi harus mengganyang dan bersatu…

Bait terakhir dalam Pantun Zaman Batu Karya Taufiq Ismail mengisyaratkan bagaimana gentingnya negara kita. Genting. Tapi kegentingan itu tertutup oleh kamuflase indah para mafia media. Yang kadang kita tak tahu lagi sebenarnya mana yang fatamorgana mana yang realita nyata. Saat membuka siaran televisi yang ada hanyalah Sinetron, Komedian yang mendominasi, ataupun beberapa acara berita yang tercampur dengan pembenaran khas penguasa. Kami tak tahu lagi mana yang benar. Apakah itu semua yang nyata di negara kita saat ini ataupun kita sudah antipati terhadap mereka sehingga membuat mereka sebagai fatamorgana baru tahun ini. Tahun ini bukan 1998, tidak juga bulan Mei di tahun yang sama.

Kita berada pada tahun 2015. Tahun dimana kita mengenang peristiwa besar 17 Tahun yang lalu sebagai deburan tsunami perubahan bangsa ini menuju dewasanya sebuah bangsa. Jika dihitung tonggak Reformasi 17 tahun yang lalu melahirkan seorang Abege (Anak Baru Gede) yang sedang memasuki masa puber. Sedang dilanda kasmaran. Itulah reformasi kita dengan perumpamaan dan analogi kekinian.

Dimana saya saat itu? Ya usia saya saat ini baru 29 tahun. Saat itu (1998) saat sedang duduk di depan TV melihat para mahasiswa turun ke jalan. Dan saya ingat saat itu saya baru Sekolah Dasar (SD).

Dan jiwa-jiwa pembebas itu yang sampai akhirnya sebagai seorang anak membekas hingga saya kuliah. Sampai sekarang.

Kemarin saat rupiah terpuruk dan semua ibu-ibu di pasar merasakan harga naik akibat efek samping kenaikan BBM serta kasus per kasus yang menjadi drama di media nasional, surel berisi kumpulan (sebagaian) kliping Reformasi 1998 melundur di surel saya. Pengirimnya jelas dan saya mengenal beliau sebagai seorang Dosen PTN di Surabaya. Bermaksud nostalgia atau bermaksud memberikan suntikan ideologis khas mahasiswa pergerakan beliau mengajak saya flashback 17 tahun yang lalu melalui Kliping Koran.

“Peristiwa bersejarah dulu sengaja bu ######### kliping….”

Sedikit dari banyak kliping yang saya share disini. Nanti saya share lagi untuk ‘nostalgia’ dan kembali menguatkan barisan Reformasi yang sampai sekarang masih menjadi hal ‘sexy’ bagi para mahasiswa. Sejuta kenangan bagi para Alumni mahasiswa yang sempat merasakan ‘nikmat’ nya turun ke jalan. Intrepetasi dari kliping ini adalah hak anda sebagai pembaca. Yang pasti jika mahasiswa dan alumni nya serta elemen masyarakat (Citizen) bersatu maka gelombang perubahan tercium kian harus. Hidup Mahasiswa!!!

Teknologi Virtual Reality ‘Palsu’

Siapa yang mengenal teknologi Augmented  Reality ataupun jika kita melihat film animasi jepang maka banyak teknologi mutakhir dimasa datang dengan tampilan gadget yang terkesan tak tampang. Kita menyebutnya teknologi Virtual Reality.

pada dunia nyata memang sudah mulai diaplikasikan salah satunya kita mengenal google glass beberapa waktu kemarin. Dan ada di beberapa ponsel demo. Sepertinya teknologi ini sudah mulai bisa kita nikmati, tapi mungkin dengan kocek yang tebal, karena bukan produk massal saat ini.

Sebagai ‘anak muda’ kekinian. ­čśÇ dan penggemar instagram pasti kemarin sempat heboh dengan tagar #InstagramInHand. Tagar ini mendadak jadi ramai di dalam layanan berbagi foto Instagram. Isinya berupa foto tangan yang seolah menggenggam tampilan antarmuka jejaring sosial tersebut. Sampai sekarang jumlah tagar ini lebih kurang sudah ada 27.000 -an foto yang diunggah. Pun dengan kreativitas beragam.

Sampai di kalangan netizen Indonesia foto mirip virtual reality tersebut diaplikasikan bukan hanya untuk instagram tapi untuk socmed dan tampilan lainnya. Kreatif!

f695e-original

Foto-foto tersebut dibuat dalam berbagai posisi, namun dengan ciri utama tangan serta screenshoot laman Instagram atau yang lainnya. Umumnya tak ada caption khusus yang disematkan dalam foto-foto tersebut.

Bila dilihat sekilas, foto tersebut tampak seperti teknologi virtual reality yang memproyeksikan layar sebuah ponsel ke tangan penggunanya.

Meskipun begitu, ternyata tak rumit untuk bisa membuat foto ala #InstagramInHand atau bla bla bla In Hand lainnya. Caranya gampang sekali, hanya butuh sedikit kreatifitas. Caranya seperti ini kira-kira:

1. Sebelum mulai membuat foto ala #InstagramInHand, sebaiknya cek dulu aplikasi foto di dalam ponsel Anda. Pasalnya untuk bisa membuat modifikasi foto ini diperlukan fitur yang berfungsi menumpuk dua foto berbeda. Mulai iOS, Android dan Windows Phone ada kok aplikasi seperti ini.

Kemarin saya yang pengguna Windows Phone mengujinya menggunakan aplikasi PicsArt. Namun seperti yang telah saya sebutkan di atas, selama gadget ponsel anda memiliki fitur menumpuk dua foto berbeda maka aplikasi tersebut dapat digunakan (Picsay Pro, Blender Dll)

Setelah memastikan kemampuan aplikasi edit foto di ponsel, siapkan foto yang dibutuhkan. Satu adalah foto berupa pose tangan, sesuai dengan yang diinginkan. Kedua adalah screenshot halaman Instagram/Socmed/apa yang menurut kamu layak menjadi tampilan Virtual Reality ‘palsu’ tadi. ­čśÇ

2. Bila menggunakan PicsArt, maka bukalah aplikasi tersebut dan pilih opsi Edit. Kemudian pilihlah foto pose tangan yang akan dipakai sebagai dasar.
Pada bagian dasar layar, pilihlah opsi Add Photo untuk menambahkan foto kedua. Kemudian cari screenshot laman Instagram/lainnya yang akan “digenggam” di foto tangan yang pertama tadi.

3. Setelah screenshot dipilih, Anda dapat mengatur opacity atau transparansi nya tanpa mengganggu foto yang pertama. Model peletakkan screenshot itu pun bisa dipilih antara normal, multiply, overlay, screen, darken, lighten dan add. Kreativitaslah yang akhirnya berdampak pada hasil akhir kamu. Terutama pada saat mengatur opacity / transparansi.

Setelah mengatur semua itu, termasuk letak dan ukuran screenshot, jangan lupa untuk menyimpannya ke dalam memori. Foto ala #InstagramInHand pun siap dibagikan ke jejaring sosial Anda. Dan paling tidak kamu jadi ikutan ABG #Kekinian Hahaha. Atau mengobati dahaga mu menunggu adanya teknologi serupa yang bisa dinikmati massal. Tapi kapan?? Masih lama sepertinya. ­čśÇ

Disitu Kadang Saya Merasa Sedih

Courtesy: https://aws-dist.brta.in/2014-11/c858e8232f179a2f11da0645f35775d9.jpg
Courtesy: https://aws-dist.brta.in/2014-11/c858e8232f179a2f11da0645f35775d9.jpg

Pemberitaan demi pemberitaan, baik wacana maupun implementasi kebijakan membuat saya sedih. Tepatlah saya menulis judul ditulisan saya pagi ini. Banyak wacana yang datang dari pemerintah yang menurut beberapa pihak sangat “revolusioner”. Anda mungkin akan segera tahu tentang berbagai isu karena perkembangan media informasi baik di TV, Radio, media cetak ataupun jaringan media sosial. Tercermin dari hiruk pikuk dan jamaknya komentator terutama para netizen. Ada yang selalu baru dan nampak “revolusioner” bagi pemerintahan baru. Kita yang seumuran sangat paham bahwa setiap ganti presiden akan ada kebijakan “penghapusan” kebijakan presiden sebelumnya. Akan ada semangat yang menggelora untuk itu. Apalagi pemerintahan sebelumnya adalah rival politik. Ah, itu wajar! Wajar bagi sebuah negeri yang katanya 70 tahun sudah merdeka dan menggelora semangat nasionalismenya.

100 Hari Masa Honeymoon

Diawal pemerintahan (saat ini) kita menaruh harapan terlalu tinggi, bahkan mungkin berharap pada sebuah upaya “revolusioner” dari presiden sebagai kepala negara. Dan itu tidak salah. Kita dahaga karenanya. Semua janji kampanye membius suara akar rumput yang mendominasi dalam struktur sosial negara ini. Di saat pemerintahan memasuki seratus hari masa kerjanya adalah ┬álangkah awal untuk merealisasikan janji-janji politiknya sekaligus berupaya menghadirkan perubahan bagi masyarakat. Disitu kadang saya merasa sedih, Sampai saat ini pemerintahan Jokowi-JK tidak luput dari perhatian pemberitaan media massa. Penilaian media massa merupakan realitas dari kinerja Pemerintahan Jokowi-JK selama masa kerjanya (saat ini). Media adalah aktor utama monitoring pemerintah. Menilik kebelakang saat 100 HARI PEMERINTAHAN JOKOWI-JK.┬áBerdasarkan media monitoring yang dilakukan The Indonesian Institute, terhadap headline surat kabar nasional selama kurun waktu 100 hari pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK), sorotan surat kabar terbagi atas 12 isu yang menjadi headline. Isu tentang kenaikan harga BBM menjadi isu yang paling menjadi sorotan dengan 16 persen. Isu polemik pemilihan Kapolri menduduki urutan kedua dengan 14 persen, dan isu reformasi tata kelola migas di urutan ketiga┬á dengan 12 persen.

Continue reading Disitu Kadang Saya Merasa Sedih

Repost Dari JIB: Perjuangan Panjang Jilbab di Indonesia

Berbicara mengenai jilbab di Indonesia, terutama mengenai sejarahnya bukan perkara mudah.  Tak banyak tulisan yang memuat khusus mengenai itu. Sumber-sumber sejarah yang menyingkap perjalanan jilbab di tanah air pun tidak melimpah, setidaknya jika berkaitan dengan sumber sejarah sebelum abad ke 20. Namun mengingat pentingnya jilbab sebagai bagian dari syariat Islam dalam kehidupan umat Islam saat ini, tulisan ini akan menelusuri perjalanan jilbab di tanah air.

Kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita muslim amat mungkin sudah diketahui sejak lama. Sebab telah banyak ulama-ulama Nusantara yang menuntut ilmu di Tanah Suci. Ilmu yang ditimba di tanah suci, disebarkan kembali ke tanah air oleh para ulama tersebut. Kesadaran untuk menutup aurat sendiri, pastinya dilakukan setidaknya ketika perempuan sedang sholat . G.F Pijper mencatat, istilah ÔÇśMukenaÔÇÖ, setidaknya telah dikenal sejak tahun 1870-an di masyarakat sunda. Meskipun begitu, pemakaian jilbab dalam kehidupan sehari-hari tidak serta merta terjadi di masyarakat. [1]

Satu hal yang pasti, sejak abad ke 19,  pemakaian jilbab telah diperjuangkan di masyarakat. Hal itu terlihat dari sejarah gerakan Paderi di Minangkabau. Gerakan revolusioner ini, turut memperjuangkan pemakaian jilbab di masyarakat.[2]

Kala itu, mayoritas masyarakat Minangkabau tidak begitu menghiraukan syariat Islam, sehingga banyak sekali terjadi kemaksiatan. Menyaksikan itu, para ulama paderi tidak tinggal diam. Mereka memutuskan untuk menerapkan syariat Islam di Minangkabau, termasuk aturan pemakaian jilbab. Bukan hanya jilbab, aturan ini bahkan mewajibkan wanita untuk memakai cadar[3] Akibat dakwah Islam yang begitu intens di Minangkabau, Islamisasi di Minangkabau telah meresap sehingga syariat Islam meresap ke dalam tradisi dan adat masyarakat Minang. Hal ini dapat kita lihat dari bentuk pakaian adat Minangkabau yang cenderung tertutup. Continue reading Repost Dari JIB: Perjuangan Panjang Jilbab di Indonesia

Re-Branding: Jogja Istimewa

Ada yang menarik beberapa hari yang kemarin. Kita menyoal soal Brand. Kali ini tepatnya Jogja, ya kota pelajar ini merubah branding nya. Jogja sudah punya brand sebelumnya. ┬áDengan tajuk ‘Never Ending Asia’. Dengan warna khas Hijau. Logo yang dijadikan Brand Activation ini bertahan lumayan lama.

Proses pengembangan jenama (brand) baru “Jogja Istimewa” cukup menarik. Dikisahkan di situs Marketeers, logo dan slogan baru ini merupakan proses partisipasi publik, kurasi, sampai kerja ulang (rework) yang dilakukan oleh Tim 11 dan dikonsultasikan kepada Sultan. Tim 11 adalah tim yang dibentuk untuk mengawal proses┬árebranding Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Hasil dari “Urun Rembug Jogja” ini, disebut situs urunrembugjogja.comberhasil menjaring 1.061 urunan logo dari 581 orang, serta 995 urunan slogan dari 610 orang. Semua peserta yang telah mengirim karya mendapatkan sertifikat keikutsertaan yang ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ada pula hadiah istimewa senilai total Rp200 juta untuk para peserta dengan ide terbaik.

Jenama baru “Jogja Istimewa” soft launch pada 5 Februari 2015, danresmi diluncurkan untuk publik pada 7 Maret 2015.

Dari segi konsep, jenama atau brand yang diangkat lebih pada citizenbranding. Artinya, logo yang baru ini merupakan milik seluruh masyarakat Yogyakarta. ÔÇťMeski begitu, logo tersebut jangan dijadikanbrand komersil untuk kepentingan bisnis. Misalnya ditulis di kaos merek X atau ada di makanan bu A,ÔÇŁ tutur Ketua Tim II Herry Zudianto (6/3/2015), yang dikutip Radar Jogja.

Proses pengembangannya sempat menimbulkan kontroversi. Pada versi awal yang dipresentasikan, menuai kritikan di media sosial. Logo rancangan MarkPlus Inc pimpinan pakar marketing Hermawan Kertajaya itu menurut netizen mudah terpeleset menjadi “Togua”. Ini karena model huruf yang digunakan.

Percakapan tentang hal ini memicu kehebohan di media sosial, sehingga masuk jajaran topik tren di linimasa Twitter Indonesia pada pada 29-30 Oktober 2014. Jenama usulan MarkPlus yang akhirnya ditolak tersebut, berbunyi “A New Harmony”, dikabarkan menelan biaya Rp1,5 miliar untuk seluruh proses penjenamaan dan pencitraannya.

Founder dan CEO MarkPlus Inc., Hermawan Kartajaya berkomentar positif atas rebranding Jogja yang akhirnya diluncurkan. DilansirKedaulatan Rakyat Online (8/3), dia menilai kehadiran logo ini merupakan arah baru dari DIY agar tidak berhenti dan membangun sesuatu yang baru.

Sebelum “Jogja Istimewa”, DIY menyandang jenama “Jogja: Never Ending Asia” sejak 2001. Menurut arsip The Jakarta Post, saat itu proses penjenamaan tersebut melibatkan MarkPlus (Hermawan Kartajaya) dan konsultan jenama serta logo Landor dari Amerika Serikat. Namun, Suharnomo, S.E., M.Si., dosen FE Undip, Semarang (Jateng), dalamSuara Merdeka 10 April 2007, menyebut jenama itu gagal.

Dikutip dari : Beritagar.com