Bu Rini, Aku Mohon Pamit

Kemarin aku mengajukan surat permohonan pengunduran diriku yang efektif berlaku per 1 April 2015. Rasanya inilah surat permohonan pengunduran diriku yang pertama kali aku buat sejak aku menjadi seorang praktisi rumah sakit. Hanya ada satu rumah sakit yang aku bangun. RS Bedah Surabaya.

Namun sebelumnya aku pernah ada di persimpangan jalan untuk memilih sebagai seorang akademisi atau praktisi. Itu kurasakan 4 tahun yang lalu. Dan dengan berbagai alasan yang sangat rasional (saat itu) aku memutuskan memilih pilihan yang terakhir. Merintis karir sebagai seorang praktisi kala itu tidak mudah bagi seorang freshgraduate. Aku meninggalkan passion-ku untuk lebih rasional.

Aku masih ingat 1 Ramadhan 1432 Hijriyah adalah hari dimana semua teori yang sudah aku dapatkan dari bangku sarjana dan magister mulai aku asah di dunia ‘nyata’. Memulainya dengan optimis. Namun saat itu jujur yang ada hatiku adalah kampus.

Ingat sekali waktu Mbak Wilda menghubungiku untuk menggantikan posisinya di RS Bedah Surabaya karena harus mengikuti suami ke Jakarta, yang waktu itu lagi-lagi aku masih ‘terjebak’ dalam dunia akademisi, dan akhirnya aku pastikan meng-amin-i tawarannya saat itu dengan menjadi seorang praktisi rumah sakit. Rumah Sakit Bedah Surabaya adalah tempat naunganku di dunia ‘nyata’ sampai akhirnya tulisan ini aku buat.

Sebagian besar ‘transformasi’ kehidupanku terjadi di Rumah Sakit Bedah Surabaya. Dimulai sebagai pelaksana perencanaan dan pengembangan, sampai dipercaya oleh Bu Rini sebagai seorang supervisor perencanaan dan pengembangan. Bagaimana aku dan kawan-kawan Rumah Sakit harus menghadapi proses akreditasi rumah sakit yang aku tahu usia rumah sakit kami masih sangat muda. Dan kami semua melalui proses itu dengan sukses. Bangga aku pada kawan-kawanku yang mau tidur untuk lembur di tahun baru 2012. Dan aku pastikan kepalaku ‘plontos’ sebagai bentuk ‘nadzar’, saat kami dinyatakan lulus sebagai Rumah Sakit yang terakreditasi di usia yang baru setahun.

Kecintaanku terhadap dunia kampus saat itu mulai tergerus saat Bu Rini dan Bu Tutik memanggilku dengan beberapa kawan sekitar Februari 2012 dimana terjadi rotasi karena perkembangan perusahaan yang mengharuskanku memulai karir sebagai seorang HRD (Human Resources Development). Sebuah tantangan baru kala itu. Aku ini harus mengatasi seluruh masalah personalia dan pengembangan sumber daya manusia. Naf’an yang sebagai patner aku anggap sebagai adikku karena kami tahu bagaimana susahnya untuk mengakomodir seluruh keinginan karyawan dan mensinergikan dengan Visi Misi rumah sakit. Bagaimana juga diakhir tahun waktu itu kami selalu lembur untuk membuat penyesuaian gaji karena UMK waktu itu naik menjadi 2,2 jutaan dari 1,7 jutaan. Mentalku sebagai seorang supervisor terpupuk kala itu. Termasuk Naf’an yang sekarang menggantikan posisiku yang dulu, karena kembali aku harus menduduki jabatan baru di Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) sampai akhirnya aku memilih kembali ke passion-ku.

Ada banyak pembelajaran. Ada banyak pengembangan. Ada banyak manis pahit. Aku masih ingat betul ketika berdua dengan Naf’an harus tidur berdua di ruang Direksi karena harus bermalam mengerjakan payroll yang waktu itu harus segera diserahkan di keuangan karena gaji karyawan tidak bisa menunggu apalagi ‘delay’. Sebagaimana juga Bu Rini menceritakan keluh kesahnya kepadaku dan kebanggaannya terhadap kawan-kawanku yang bekerja dengan kesungguhan hati. Aku merasa bangga atas apa yang telah aku capai bersama beliau sampai aku akhirnya harus berbicara empat mata. Waktu itu kedua mata kami sembab berkaca-kaca saat aku menceritakan retasan jalan baruku. Menjumpai passion-ku.

Aku masih ingat diskusi-diskusi panjang dengan Bu Rini tentang langkah untuk memajukan Rumah Sakit. Sebagaimana aku masih ingat ekspresi nanarnya ketika aku menghadap beliau untuk mengambil keputusan ini. Aku masih ingat betul dengan Kepiting ‘Mascot’ di Siang hari sebelum Jumatan yang disengaja kami simpan sore sebelumnya untuk kami nikmati bersama pada pagi harinya. Aku dan kawan-kawan sekretariat dengan lahapnya memakan kepiting yang sebetulnya dulu adalah makanan yang aku hindari karena alergi. Sebagaimana aku masih ingat saat mereka masih tegar untuk menghadapi akreditasi dan pelayanan BPJS tanpa kontribusiku (langsung) setelah ini.

Sejak awal keterlibatanku di Rumah Sakit ini, aku berusaha terlibat dalam usaha-usaha untuk memajukannya. Aku ingat bagaimana aku bersama Bu Rini serta beberapa manajer membuat rencana strategis Rumah Sakit kami dalam menjadi provider PPK II BPJS Kesehatan. Aku juga berusaha membantu beliau dalam proses pembuatan Clinical Pathway dan Pricing Strategy agar rumah sakit kami di masa awal kerjasama dengan BPJS tidak mengalami kerugian atau menjadi in-efisien.

Dengan keberanian, aku dan Bu Rini memutuskan, melalui keputusan para manajer dan Dewan Pengawas untuk menjadi provider PPK II BPJS Kesehatan. Bagaimana kami semua harus mengajukan proses kredential dan akhirnya surat faximile resmi dari BPJS sore itu datang untuk menerima kami sebagai PPK II. Sampai saat aku menulis ini dengan mata berbinar rumah sakitku harus bersiap menghadapi akreditasi (lagi) dan tentunya menjadi provider PPK II BPJS Kesehatan per 1 Juli 2015 karena ada kebijakan dari BPJS pusat yang sebelumnya.

Terakhir kontribusiku pada rumah sakit ini adalah terlibat dalam berbagai hal perencanaan strategik dan melakukan re-organisasi. Sebuah langkah yang mungkin tidak banyak orang yang ‘perlu’ tahu. Aku dan Bu Rini merancang bagaimana organisasi ini dapat survive dan sustain. Karena aku yakin Bu Rini mempunyai keinginan kelak rumah sakit ini harus bisa lebih maju saat beliau pensiun. Seperti yang beliau lakukan di Rumah Sakit PHC dulu. Perubahan tentu saja bukan perkara mudah.

Aku berusaha menjalankan nilai-nilai yang aku pelajari dari Bu Rini tentang manajemen perubahan, pengambilan keputusan, intuisi dalam menganalisis masalah serta kemampuan memimpin. Semua itu sampai sekarang masih aku lakukan sebisaku saat berorganisasi dan bekerja kelak.

Hampir empat tahun aku bersama beliau. Waktu yang tidak terlalu panjang memang sebagai seorang praktisi, tetapi umur rumah sakit kami juga baru menginjak tahun ke-empat. Ya, aku memutuskan untuk kembali ke passion-ku yang dulu yang sempat aku pendam sekian lama. Aku mengundurkan diri sebagai praktisi rumah sakit di Rumah Sakit Bedah Surabaya. Keputusan ini bukan aku buat tiba-tiba, meski pada saat akhir pun tetap merasakan rasa yang haru saat menuliskan surat pengunduran diri. Ada banyak pertimbangan yang aku coba lawan untuk usaha Go Bigger ku. Setelah lama berdiskusi dengan istriku dan orang tua kami, aku akhirnya meretas jalan ‘kembali’ ke passion-ku. Menjadi Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Ada banyak mimpi dan keinginan yang telah lama tersimpan. Alloh memilihkan jalan yang tepat seperti memilihkanku seorang istri 6 bulan yang lalu.

Bagiku Rumah Sakit Bedah Surabaya adalah sebuah keluarga bukan sekedar tempat kerja. Sebagaimana keluarga lainnya, ada suka sebagaimana ada duka yang mewarnai setiap kebersamaan dan pertumbuhan. Sebagai tempat kerja, aku mungkin telah mengundurkan diri dan berpamitan, tapi aku tidak akan pernah bisa mengundurkan diri dari ikatan keluarga yang telah memberiku sumbangan ilmu yang berharga.

Sebuah jalan kembali, jalan untuk kembali ke passion-ku. Aku teringat lirik lagu Owl City berjudul Gold yang membuatku optimis kembali ke passion-ku. Lagu ini bercerita bahwa perpisahan pasti mengiringi saat aku harus mengejar mimpi.

Shout out to the friends back home,” “You gotta tell us your story,”.

You’ll never be far, I‘m keeping you near, inside of my heart,”

Bu Rini, Aku Mohon Pamit…

Terlalu sederhana kalimatku diatas, maafkan. Karena terlalu banyak jika aku ceritakan alasan kenapa aku kembali menemui passion-ku dalam satu lembar tulisan ini.

Aku minta maaf pada semua Dewan Pengawas, Direksi, Manajer, Supervisor, Asisten Supervisor, Dokter Spesialis, Dokter Umum/IGD, Para Perawat dan Bidan, Radiografer, Fisioterapis, Analis Medis, Rekam Medis, dan Semua karyawan Non medis  mulai dari Security, Cleaning Service, Helper dan tentunya kawan-kawan lantai 2, bila selama menjalani tugas sebagai karyawan (supervisor) telah banyak khilaf dan melakukan kesalahan yang menyakiti hati kalian. Mungkin tidak aku sengaja ataupun aku menyadarinya. Mohon maaf juga bila pengunduran diri ini membuat kecewa beberapa kawan termasuk Bu Rini. Terimakasih buat semua warna yang telah kita bangun bersama.

Semoga Rumah Sakit Bedah Surabaya terus sukses dalam dunia perumahsakitan. Care, Correct and Professional. Perjumpaan kita bukan hanya kini tapi aku akan kembali dengan cara yang lain, cara yang tetap memberikan dukungan kepada semangat kalian kawanku.

Salam hangatku untuk semua.

Ilham Akhsanu Ridlo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.