Apa kata Karlina Supelli soal Revolusi Mental ?

Pemerintah Jokowi dan Jusuf Kalla sejak kampanye terdahulu menjadikan “Revolusi Mental” sebagai idola menggaet pemilih. Dan sampai sekarang di tingkat akar rumput itu tetap menyeruak dengan berbagai macam versi. Kita sendiri kadang salah mengartikannya, karena keterbatasan pemahaman.

Kemarin Sore di milis pergerakan internal kami dapat “cendol” segar dari rekan sejawat yang bekerja di Kementrian/Badan setingkat kementrian mengenai Definisi operasional “Revolusi Mental” yang membahana. Adalah Karlina Supelli, Dosen Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta yang ditunjuk untuk memberikan penjelasan dengan dasar teori keilmiahan. Nah barangkali informasi ini perlu saya share kepada teman-teman agar kita semua mempunyai pemahaman tentang konsep REVOLUSI MENTAL.

Menurut Karlina Supelli kita saat ini sudah melupakan banyak hal yang lebih substansif, kita sering hanya menerima apa yang kita lihat dan rasakan. Termasuk menelan mentah-mentah informasi yang sarat akan kepentingan. Dalam penjelasannya beliau lebih mengajak kita pada pemahaman yang substantif tentang REVOLUSI MENTAL itu sendiri.

Revolusi mental sendirinya jamak dipakai dalam sejarah pemikiran, manajemen, sejarah politik, atau bahkan sejarah musik. Penggunaannya pun menjamah dunia timur maupun barat. Serta melewati sekat pemikir Islami, Kristiani, Hinduisme, Buddhisme (Zen). Bahkan seorang Soekarno dalam pidato tanggal 17 Agustus 1956 sudah memakai istilah ini. Tentu bukan sebuah kebetulan apabila Presiden Jokowi yang diusung partai banteng memakainya bukan?

Revolusi Mental juga tidak bisa lepas dari definisi mental itu sendiri. Istilah mental sendiri berarti suatu genangan segala sesuatu yang menyangkut cara hidup. Cara hidup itu adalah clue dari Mental itu sendiri.
Kekeliruan memahami pengertian Mental (dan bahkan ada yang menyempitkan kearah kesadaran moral) membuat seolah-olah perubahan mental hanyalah soal perubahan moral yang tidak ada hubungannya dengan hal- hal ragawi seperti soal-soal struktural ekonomi, politik, dsb. Padahal kesadaran moral, atau hati nurani yang mengarahkan orang keputusan moral yang tepat, hanyalah salah satu buah daya-daya mental yang terdidik dengan baik. Kekeliruan ini menurut Karlina Supelli muncul dari perdebatan menyangkut kaitan kebudayaan, struktur sosial dan pelaku.

Bagaimana kesesatan itu dikoreksi ?
Jawabnya: hubungan integral antara “mental pelaku” dan  “struktur sosial”  terjembatani dengan memahami “kebudayaan‟ (culture) sebagai pola cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak yang terungkap dalam praktik kebiasaan sehari-hari (practices, habits).

Di dunia nyata tidak ada pemisahan antara “struktur‟ sebagai kondisi material/fisik/sosial dan “kebudayaan‟ sebagai proses mental. Keduanya saling terkait secara integral. Analoginya adalah sebagai berikut:

Corak praktik serta sistem ekonomi dan politik yang berlangsung tiap hari merupakan ungkapan kebudayaan, sedangkan cara kita berpikir, merasa dan bertindak (budaya) dibentuk secara mendalam oleh sistem dan praktik habitual ekonomi serta politik.

Tak ada ekonomi dan politik tanpa kebudayaan, dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa ekonomi dan politik. Pemisahan itu hanya ada pada aras analitik. Pada yang politik dan ekonomi selalu terlibat budaya dan pada yang budaya selalu terlibat ekonomi dan politik.

Operasionalisasi Revolusi Mental
Bagaimanakah kita mengartikan “Revolusi Mental‟?
Revolusi Mental melibatkan semacam strategi kebudayaan. Ditambahkan lagi menurut Karlina Supelli bahwa Strategi kebudayaan berisi haluan umum yang berperan memberi arah bagaimana kebudayaan akan ditangani, supaya tercapai kemaslahatan hidup berbangsa. Strategi berisi visi dan haluan dasar yang dilaksanakan berdasarkan tahapan, target setiap tahap, langkah pencapaian dan metode evaluasinya.

Tetapi karena “kebudayaan‟ juga  menyangkut cara kita berpikir, merasa dan  bertindak, “Revolusi mental‟ tidak bisa tidak mengarah ke transformasi besar yang menyangkut corak cara-berpikir, cara-merasa dan cara-bertindak kita itu.  Kebudayaan hanya dapat “di- strategi-kan”  jika  kita sungguh memberi perhatian pada lapis kebudayaan tersebut. Karena itu,  kunci bagi  “Revolusi Mental‟ sebagai strategi kebudayaan adalah menempatkan arti dan pengertian kebudayaan ke tataran praktek hidup sehari-hari.

Jadi, untuk agenda “Revolusi Mental‟,  kebudayaan mesti dipahami bukan sekadar sebagai seni pertunjukan, pameran, kesenian, tarian, lukisan, ata u celoteh tentang moral dan kesadaran, melainkan sebagai corak/pola cara-berpikir, cara-merasa, dan cara-bertindak yang terungkap dalam tindakan, praktik dan kebiasaan kita sehari-hari. Hanya dengan itu “Revolusi Mental‟ memang akan menjadi wahana melahirkan Indonesia baru.

Apa yang  mau dibidik oleh “Revolusi Mental‟ adalah transformasi etos, yaitu perubahan mendasar dalam mentalitas, cara berpikir, cara merasa dan cara mempercayai, yang semuanya menjelma dalam perilaku dan tindakan sehari-hari. Etos ini menyangkut semua bidang kehidupan mulai dari ekonomi, politik, sains-teknologi, seni, agama, dsb. Begitu rupa, sehingga mentalitas bangsa (yang terungkap dalam praktik/kebiasaan sehari – hari) lambat-laun berubah. Pengorganisasian, rumusan kebijakan dan pengambilan keputusan diarahkan untuk proses transformasi itu.

Pendidikan lewat sekolah merupakan lokus untuk memulai revolusi mental. Revolusi mental dapat dimasukkan ke dalam strategi pendidikan di sekolah. Langkah operasionalnya ditempuh melalui siasat kebudayaan membentuk etos warga negara (citizenship). Maka, sejak dini anak-anak sekolah perlu mengalami proses pedagogis yang membuat etos warga negara ini “menubuh‟. Mengapa? Karena landasan kebangsaan Indonesia adalah kewarganegaraan. Indonesia tidak berdiri dan didirikan di atas prinsip kesukuan, keagamaan atau budaya tertentu. Karena itu, pendidikan kewarganegaraan perlu diperkenalkan kepada siswa mulai dari usia dini. Dalam menjalankan Revolusi Mental, pendidikan kewarganegaraan merupakan tuntutan yang tidak dapat diganti misalnya dengan pelajaran agama. Sebaliknya, pelajaran agama membantu pendidikan kewarganegaraan.

Kantung-kantung Perubahan
Pendidikan di sekolah hanyalah bagian saja dari proses pendidikan warga negara. Padahal kalau sungguh mau dilaksanakan, Revolusi Mental harus menjadi gerakan kolosal berskala nasional. Gerakan itu mencakup masyarakat seluas bangsa agar perilaku sosial setiap individu menjadikan keutamaan warga negara sebagai kebiasaan. Untuk itu, kita tidak perlu menunggu adanya kebijakan.

Silakan memulai dengan membangun kantung-kantung perubahan dan menyusun siasat yang berfokus pada transformasi cara hidup sehari-hari kelompok-kelompok warga negara. Siasat itu melibatkan gerakan rutin dalam bentuk langkah- langkah konkret untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang punya dampak terhadap terwujudnya kebaikan hidup berbangsa dan bernegara.

Agar “Revolusi Mental‟ menjadi siasat integral tranformasi kebudayaan, yang dibutuhkan adalah menaruh arti dan praksis kebudayaan ke dalam proses perubahan ragawi menyangkut praktik dan kebiasaan hidup sehari-hari pada lingkup dan skala sebesar bangsa. Arah itu juga merupakan resep bagi masyarakat warga untuk ikut terlibat secara ragawi dalam memulai dan merawat revolusi mental.

PENUTUP
Karlina Supelli membuat kesimpulan yang singkat bahwa jika pada awal Reformasi kita banyak membicarakan civil society, maka inilah arti civil society yang sebenarnya: civil society adalah gerakan para warga negara (citizens) untuk melaksanakan transformasi secara berkelanjutan bagi pemberadaban hidup bersama yang bernama Indonesia. Itulah “Revolusi Mental‟.

—————————————————————————————————————
Disadur dengan perubahan seperlunya dari Slide “Mengartikan Revolusi Mental” Dr. Karlina Supelli yang disampaikan di BAPPENAS RI. Thanks Arifi for your email.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.