Cerita Foto seorang Bung

 

220px-Bung_Tomo
Orasi Bung Tomo. Foto yang menjadi ikon perjuangan.

Foto/poster Bung Tomo berambut gondrong yang berhadapan dengan mikrofon dengan urat muka menegang dan jari telunjuk tangan kanan menusuk langit adalah poster yang wajar. Menjadi tidak wajar saat foto ini menjadi ikon perlawanan rakyat Surabaya. Tapi ada yang “kurang” sesuai dengan cerita dari foto itu sendiri. Dan publik Surabaya dan Indonesia harus mengetahuinya.

Picture Story:
Foto yang oleh publik kadung dianggap sebagai ikon perlawanan 10 November 1945 itu sejatinya  narasi yang (di)gelap(kan). Foto itu tak pernah ada saat lima babak pertempuran Surabaya digelar: insiden bendera Hotel Yamato (19 September 1945), rapat raksasa Tambaksari (21 september 1945), pelucutan senjata tentara Jepang (29, 30 September, dan 1 Oktober 1945), pertempuran tiga hari melawan tentara Sekutu Inggris (28-30 Oktober 1945), dan pertempuran 10 November 1945.
Bahkan Koran dwibahasa (Indonesia-Tiongkok) Nanyang Pos pada 1947 justru memberi kesaksian yang mengagetkan. Disitir dari Yudhi Soerjoatmodjo (2000), koran itu memuat beberapa bingkai foto Bung Tomo, di mana mikrofon, tenda bergaris-garis, dan seragam yang dipakai sama dengan properti yang ada dalam poster “pertempuran Surabaya”. Bunyi keterangan foto itu:

“Rapat oemoem di Malang jang baroe ini, mengoempoelkan pakaian-pakaian boeat korban-korban Soerabaja. Jang lagi berbitjara pemimpin pemberontak toean Soetomo”.

Ada suatu kecacatan kronik dalam foto Bung Tomo itu. Antara Peristiwa, Foto dan cerita di foto itu sendiri tidak linier. Betapa jauh waktu antara pidato di Malang itu (1947) dan “Pertempuran Surabaya” (1945). Belum lagi rambut gondrong Bung Tomo di foto tersebut mustahil ada pada 1945 yang waktu itu diharamkan oleh Jepang. Nampaknya pertempuran Surabaya 1945 membutuhkan IKON foto atau meme heroisme sehingga Foto Bung Tomo di Malang pada tahun 1947 diciptakan sebagai ikon. Namun ada versi lain yang menyatakan foto itu diambil di Mojokerto.

Istri Bung Tomo, Sulistina, mengakui foto itu tidak dijepret di Surabaya. “Itu yang motret
IPPHOS, di lapangan Mojokerto. Waktu itu Bapak sedang berpidato. Nggak dibuat-buat, kok,” ujar Sulistina

Bung Tomo memang bukan tokoh sentral dalam historiografi pertempuran Surabaya.  Tapi dia orator ulung di Radio Pemberontakan, yang bekerjasama dengan RRI berhasil membuat propaganda. Propaganda republik yang membakar semangat warga di kampung-kampung untuk melawan Sekutu. Pidatonya sampai sekarang menjadi teks dan audio wajib ‘arek-arek’ Surabaya.

Kontroversi Soal kenapa foto ini yang dimuat dan menjadi ikon pertempuran Surabaya masih berlanjut sampai sekarang. Jamak yang mengkaitkan dengan aliran Marxisme dan Komunisme yang dulu radikal di Surabaya dan yang paling getol menghimpun pemuda pejuang. Dan keterlibatan Soemarsono (PRI) yang dikrop karena terlibat Peristiwa Madiun setelahnya. Sederet peristiwa tersebut tidak menutup pandangan masyarakat jika Bung Tomo adalah ikon. Beliau adalah pembakar semangat. Lewat Pidatonya yang EPIC!

Sang Fotografer:
Adalah Mendur, wartawan foto IPPHOS yang mengambil foto Bung Tomo.
Lantas siapa Mendur? Nama lengkapnya Alexius Mendur (1907-1984), pendiri IPPHOS. Mendur adalah legenda fotografi era perang. Dialah yang mengabadikan hampir semua peristiwa bersejarah periode 1945-1949.
Dia satu-satunya fotografer yang memotret pembacaan proklamasi RI 17 Agustus 1945. Alex bukan orang asing bagi Bung Tomo. Mereka bersahabat sejak lama karena sama-sama wartawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.