Another Brick In The Wall

Another Brick In The Wall

Siapa yang tidak pernah mendengar lagu Pink Floyd di tahun 1973-an, Another Brick In The Wall. Lagu ini populer dengan video klip yang provokatif di era itu.  Pada 1980 Another Brick on The Wall, dilarang diputar pemerintah Afrika Selatan. Lagu itu dilarang karena anak-anak kulit hitam Afrika Selatan kerap memperdengarkannya untuk membela hak pendidikan  mereka karena pemerintah Apartheid memberlakukan blokade budaya, dan melarang berekspresi.

Dua puluh lima tahun kemudian, pada 2005, anak-anak Palestina berpartisipasi dalam sebuah festival lagu Tepi Barat menggunakan lagu yang sama untuk memprotes tembok Israel di Tepi Barat. Mereka menyanyikan lagu tersebut dengan lirik yang diubah: “We don’t need no occupation! We don’t need no racist wall!”.

Lirik lagu itu memang mengispirasi pergerakan dan sangat provokatif untuk dinyanyikan dengan dentuman musik rock era itu. Tentu saja lagu tersebut menginspirasi saya pribadi untuk berfikir. Kurang lebih petikan liriknya adalah demikian.

We don’t need no education
We don’t need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teachers leave them kids alone
Hey! teacher! leave us kids alone!
All in all you’re just a another brick in the wall.
All in all you’re just a another brick in the wall.

Soal lagu itu saya bukan ingin membahasnya lirik per lirik disini. Tapi ada beberapa hal yang mengusik pikiran saya ketika setiap seduhan kopi di pagi hari kemarin membuka pembuluh darah ke otak saya lebih lancar.

Berguru pada Paulo Fraire

Perguruan tinggi adalah kawah candradimuka bagi para pemikir dan  penentu masa depan bangsa. Dan tidak perlu disangsikan lagi peranannya. Termasuk peran para pendidik (Dosen) yang disitu juga termasuk para Profesor dan Guru Besar. Mereka adalah Saf Kedua Belas saat Alloh membariskan seluruh manusia di Padang Mahsyar (QS An-Naba’:18).

Paulo Freire pernah berkata bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Perguruan tinggi merupakan institusi yang memuat civitas academica. Kampus merupakan sebutan yang menandakan tempat seorang mahasiswa untuk mulai belajar merubah dan membentuk cara berfikir yang sebelumnya masih bersifat ketergantungan. Mahasiswa dituntut untuk bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Bagaimana dengan dosen? Dosen merupakan fasilitator mahasiswa dan membimbing serta mendidik. Dalam proses pembelajaran pola hubungan ideal antara dosen dan mahasiswa adalah subjek vis a vis subjek dengan proses dialogis yang saling membangun. Nah dewasa ini dalam kenyataannya Dosen memainkan peran yang sangat sentral dalam proses pembelajaran. Peran sentral tersebut bersifat objektif atau bahkan subjektif yang dibalut sentimen, semua bertumpu pada Dosen.

Dikatakan objektif, karena hubungan proses pembelajaran dengan mahasiswa memuat nilai realitas yang ada walaupun ada sisi pribadi sebagai dampak dari hubungan interaksi sosial. Dalam hubungan ini jika memang baik, katakan baik dan begitu juga sebaliknya.

Dikatakan Subjektif, ketika seseorang hanya memaki kaca mata pribadi dalam penilaian terhadap sesuatu. Misalnya, ketika kontrak belajar dibuat dan disepakati bersama oleh Dosen dan Mahasiswa. Dalam contoh ini Dosen yang melanggarnya.

Pertanyaannya adalah apakah saat Dosen terlambat masih boleh mengajar di ruang kuliah? Dan apakah sebagai mahasiswa yang membayar uang semester, saya akan membiarkan ruang kuliah menjadi kosong?

Paulo Fraire yang kita kenal sebagai seorang tokoh pendidikan Brasil dan teoritikus pendidikan yang berpengaruh di dunia mengajarkan tentang bagaimana menjadi seorang pendidik (Dosen) serta memposisikan mahasiswa mempunyai kedudukan yang sejajar.

Sejajar disini mengandung pengertian bahwa tidak benar seorang Dosen mempunyai pandangan bahwa dia yang terbaik diatas segalanya. Bahkan mempunyai niat membuat daya kritis mahasiswa menjadi redup. Bayangkan sejenak sebagai seorang mahasiswa kita dituntut mempunyai pemikiran kritis dan analitik yang kuat harus berhadapan dengan model Dosen yang demikian.

Dalam paradigma lama yang saya alami bahwa mahasiswa hanya sebagai objek yang dijejali oleh pemahaman satu arah seorang Dosen. Ruang Kritis tertutup. Apa yang disampaikan dosen tidak bisa salah. Mahasiswa datang ke kampus hanya sebagai pendengar dan penonton orkestra dosen yang bangga akan apa yang dimilikinya. Masalah yang timbul disini adalah bukan pada materi atau konten yang diberikan tetapi ada satu proses yang hilang dan proses ini sangat penting membentuk seorang lulusan yang sukses.

Proses itu yaitu sebuah sikap kritis yang bertanggung jawab yang timbul dari proses interaksi dosen dan mahasiswa. Sikap kritis.

Saya masih berkeyakinan bahwa proses pembelajaran atau perkuliahan yang berkualitas ditandai dengan adanya dialektika antara Dosen dan Mahasiswa, sehingga proses pencarian ilmu yang dinamis akan terjadi. Mengetahui apa yang menjadi kebutuhan mahasiswa merupakan suatu langkah yang baik untuk memperlancar proses dialektika.

Ironi yang muncul saat ini adalah jika diperkuliahan idealnya kita diajarkan untuk kritis dan analitik tapi kenyataannya tidak sedikit juga terdapat beberapa pihak yang menanggapinya dengan sentimentil pribadi sampai kadang budaya pribadi kritis memunculkan konsekuensi ketakutan akan diperlambat kelulusannya. Ancaman nilai C atau D menghantui para ‘kritikus’.

Menumbuhkan Pola Pikir Kritis

Salah satu kompetensi umum seorang lulusan sarjana adalah kemampuan analisis dan mampu mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalah. Dalam pembentukan kompetensi ini maka penumbuhan pola pikir kritis merupakan hal penting. Bagaimana seorang sarjana dapat dengan tepat menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan secara tepat jika dia tidak mempunyai kompetensi itu.

Mansour Fakih menjelaskan hubungan dosen dengan mahasiswa dari perspektif yang mendominasi menjadi hubungan yang membebaskan atau dialogis. Dosen sama dengan mahasiswa dalam hal sifat humanistik, punya hati, rasa, termasuk kadang khilaf, lupa dan marah.

Ia kemudian tidak bisa dikatakan selalu benar. Soal ini saya teringat seorang dosen saat saya belajar tentang Kebijakan Kesehatan yang dalam  setiap kuliahnya meminta mahasiswa untuk mencari dan membaca sendiri topik kuliah sesuai textbook langsung, dan bukan dari kutipan perkuliahannya.

Menumbuhkan pola pikir kritis pada mahasiswa adalah sebuah keharusan, karena lulusan yang berkualitas terbentuk dari budaya itu. Persoalannya adalah bagaimana menciptakan proses perkuliahan yang saling menghormati antara Dosen dan Mahasiswa sesuai dengan posisi masing-masing dengan benar. Keduanya harus benar-benar tahu peranannya.

Proses Dialektika yang menghasilkan dialog merupakan salah satu alternatif menjembatani hubungan keduanya. Membuat kesepakatan-kesepakatan yang bersifat simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) yang dijalani bersama dengan konsisten dan objektif akan turut meningkatkan proses belajar-mengajar.

Kemudian justru Dosen mengkritisi Mahasiswa agar tidak hanya 3D (Duduk, Datang dan Diam) proses ini yang penting. Karena tidak sedikit justru mahasiswa menciptakan proses pembelajaran yang tidak dialogis karena muncul anggapan bahwa mahasiswa kritis akan di cap negatif. Anggapan ini muncul sebagai akibat munculnya budaya hedonisme di kalangan mahasiswa dan surutnya iklim kampus dalam penciptaan iklim yang sarat akan ‘dunia pergerakan’ baik pergerakan internal melalui BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)  ataupun eksternal melalui berbagai ORMEK (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus).

Yang tidak kalah penting adalah mendidik mahasiswa untuk ‘bertanya dan terus bertanya’. Pola pikir kritis muncul diawali oleh ‘budaya bertanya’. Dengan kata lain jika tidak ada proses bertanya maka proses ilmu pengetahuan akan berhenti. Socrates berkata Hidup yang tidak dipertanyakan adalah hidup yang sia-sia.

Bagi saya membeo bukanlah pilihan. Memilih menjadi pemberontak intelektual (menyikapi segala sesuatu dengan kritis dan bertanggungjawab) adalah keharusan. Subcomandante Marcos berkata “Kata adalah senjata” maka selayaknya selama hayat dikandung badan kita harus selalu bersikap kritis. Tak salah jika alunan musik dari Pink Floyd menjadi inspirasi bahwa sebagai mahasiswa kita berhak untuk menjadikan Dosen kita sebagai ‘teman’ dialog dikelas, bukan sebagai Dewa yang tak pernah salah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.