Labuan Bajo: 6 tahun yang lalu

This slideshow requires JavaScript.

Ditengah ramainya kunjungan destinasi ke Pulau Komodo karena publikasi media termasuk dukungan para blogger saat ini, saya mencoba flashback ke belakang. Tepatnya 6 tahun yang lalu.

Saya rasa semua orang terutama penyuka travelling dan backpacker sudah mengetahui Kabupaten Manggarai Barat yang jamak orang lebih mengenal dengan Labuan Bajo. LBJ begitu akronim dalam dunia penerbangan. Bagi yang belum tahu dimana Labuan Bajo. Labuan Bajo sebenarnya nama Kota pelabuhan yang merupakan Kota Kabupaten Manggarai Barat adalah suatu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kabupaten Mangarai Barat merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Manggarai berdasarkan Undang Undang No. 8 Tahun 2003. Wilayahnya meliputi daratan Pulau Flores bagian Barat dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, diantaranya adalah Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Seraya Besar, Pulau Seraya Kecil, Pulau Bidadari dan Pulau Longos. Luas wilayah Kabupaten Manggarai Barat adalah 9.450 km² yang terdiri dari wilayah daratan seluas 2.947,50 km² dan wilayah lautan 7.052,97 km².

Lokasi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Manggarai Barat.svgPeta lokasi Kabupaten Manggarai Barat
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Ibu kota Labuan Bajo
Luas 9.450 km2 (daratan=2.947,50 km²)
 
Populasi
 – Total 234,235 jiwa (2012)[2]
 – Kepadatan 0,02 jiwa/km2
 
Pembagian administratif
 – Kecamatan Komodo, Sano Nggoang, Mbeliling, Lembor, Lembor Selatan, Kuwus, Macang Pacar, Welak, Boleng, Ndoso
 – Kelurahan Labuan Bajo, Wae Kelambu, Tangge, Nantal dan Golo Ru’u
 – Situs web http://www.manggaraibaratkab.go.id/

 Kota Labuan Bajo yang merupakan kota pelabuhan merupakan sebuah kota yang dulunya dijadikan tempat pertemuan orang Manggarai gunung dengan orang laut. Disitu juga perekonomian warga terjadi dengan perdagangan hasil bumi dan laut. Wilayah Sano Nggoang dan Lembor yang kaya akan sayuran dan buah-buahan bertukar dagang dengan masyarakat laut yang didominasi orang-orang Bugis dan orang pesisir sebagai nelayan. Lambat laun di Labuan Bajo dijadikan sentra sebuah kota dan ramai.

6 Tahun yang lalu

Saya sendiri dulunya tidak pernah percaya kalau saya pernah berkunjung selama seminggu di tempat yang sekarang menjadi destinasi wisata andalan Indonesia. 2008 saya berkesempatan ke Labuan Bajo. Saat itu diakhir bulan September 2008 saya bersama 2 orang kakak kelas (Mbak Yupita dan Mbak Eva) berangkat kesana dengan Tim LPPM Unair untuk melakukan penelitian. Seminggu kurang lebih kami disana. Kalau tidak salah waktu itu sebelum Bulan Ramadhan. Karena setelah saya pulang balik ke Surabaya esoknya saya sudah puasa wajib.

Pertamanya saya tidak mengira Kabupaten Manggarai Barat itu adalah Labuan Bajo. Salah satu kabupaten yang menaungi TNK (Taman Nasional Komodo). Setidaknya menurut Balai Taman Nasional Komodo bahwa TNK memiliki luas 173.300 ha meliputi wilayah daratan dan lautan dengan lima pulau utama yakni Pulau Komodo, Padar, Rinca, Gili Motang, Nusa Kode dan juga pulau-pulau kecil lainnya. Kepulauan tersebut dinyatakan sebagai taman nasional untuk melindungi komodo yang terancam punah dan habitatnya serta keanekaragaman hayati didalam wilayah tersebut. Taman lautnya dibentuk untuk melindungi biota laut yang sangat beragam yang terdapat disekitar kepulauan tersebut, termasuk yang terkaya di bumi.

Taman Nasional komodo terletak di kawasan  Wallacea Indonesia. Kawasan Wallacea terbentuk dari pertemuan dua benua yang membentuk deretan unik kepulauan bergunung api, dan terdiri atas campuran burung serta hewan dari kedua benua Autralia dan Asia. Terdapat 254 spesies tumbuhan yang berasal dari Asia dan Australia di Taman Nasional Komodo. Selain itu, juga terdapat 58 jenis binatang dan 128 jenis burung. Perpaduan berbagai vegetasi di Taman Nasional Komodo memberikan lingkungan yang baik bagi berbagai jenis binatang dalam kawasan ini. 

Cerita bermula saat saya semester akhir, merasakan kejenuhan mengerjakan skripsi. Nyali saya yang sudah dari setahunan (2007) menyukai dunia penelitian lapangan merasa perlu untuk sekali lagi merasakan menjadi peneliti lapangan sebelum menanggalkan bangku perkuliahan. Pak Lutfi AS (Dosen Biostatistika) yang saya kenal akrab mengadakan penelitian dan mengajak saya sebagai enumerator dan juga observer lapangan. Saya tidak sendirian waktu itu ada kakak kelas saya Mbak Yupita dan Mbak Eva. Kita bertiga berangkat ke Labuan Bajo.

Naik Kereta…

Bagaimana bisa kami ke Labuan Bajo naik kereta api??

Tentu tidak. Kami bertiga memang sejak awal merencanakan perjalanan kami ini dengan model “backpacker”. Pak Lutfi memberikan anggaran perjalanan selama seminggu di Labuan Bajo memang cukup dan layak tapi jiwa kami bertiga tertantang untuk menghemat perjalanan agar bisa mampir dulu ke Bali. Hehehe. Tiket Pesawat dari Surabaya ke Bali kami “korupsi” agar kami bisa menginap semalam di Bali. Malam hari kami ke Stasiun Gubeng untuk naik Kereta Api Bisnis Mutiara Timur. Banyuwangi adalah stasiun terakhir sebelum akhirnya kami paginya langsung naik Bus PT.KAI untuk diantar ke terminal Ubung Denpasar.

Tepat Siang menjelang Ashar kami sudah sampai di Denpasar. Dan itulah pengalaman kami pertama kalinya ke Bali dengan naik kereta api dari Surabaya. Dan ternyata lumayan panjang duduk dan berganti kursi. Tapi karena kami menikmati perjalanan jadi tidak terasa. Jalur darat Banyuwangi ke Bali menjadi sensasi menarik apalagi mengantri di pelabuhan Ketapang.

Pose dulu di Monumen BOM Bali

Pose dulu di Monumen BOM Bali

Perjalanan Ke Bali ditemani Mas Bambang (Suaminya Mbak Yupita) untuk membantu kami karena barang yang kami bawa lumayan banyak. Sementara saya hanya membawa Satu tas ransel untuk seminggu disana. Wahaha. Pagi buta mas Bambang segera balik ke Surabaya dengan Kereta Api setelah Sore hari kami sempat ke GWK, Pantai Dreamland dan Kuta. Karena penginapan kami di sekitar jalan Legian. Kami sempatkan keliling Bali secara kilat karena besok Pagi kami harus siap-siap ke Ngurah Rai untuk bertolak ke Labuan Bajo dengan pesawat twin otter Trigana Air yang kapasitasnya hanya 19 orang. 😀

Oke, It’s Show time

Tiket ke Labuan Bajo sudah kami kantongi. Setelah semua siap termasuk mengecek barang bawaan dan kebutuhan kami selama seminggu. Kira-kira ja 09.00 WITA kami bertolak ke Labuan Bajo (LBJ). Perjalanan dari Ngurah Rai ke bandara Komodo kurang lebih 1 jam. Kami merasakan sensasi terbang dengan desingan mesin pesawat yang kerasa cukup bising di telinga kami. Begitu kami melewati Lombok pesawat Pilot menyampaikan informasi bahwa pesawat kami berada diatas atau melewati Gunung Rinjani. sontak kami melongok jendela kabin pesawat. Subhanallah udara cerah membuat gunung Rinjani nampak keindahannya. Sayang saya tidak pegang kamera. 😦

Gunung Rinjani berganti dengan deretan pulau Nusa Tenggara Timur yang kalau dari atas nampak seperti pulau yang terbakar dan kering. Saya berfikir kami sudah akan landing. Benar saja pesawat memutari pulau untuk kontak dengan menara pengawas bandara. Sudah terlihat jelas landasan pesawat. Hanya saja yang membuat saya kaget, mobil patroli bandara mengitari landasan dengan membunyikan sirine. setelah landasan aman maka kami mendarat.

Alhamdulillah kami telah sampai di Pelabuhan Udara Komodo. Labuan Bajo!

DSC02238

Sopir Angkot, Calo dan Guide sudah menunggu.

DSC02241

Run way dengan pesawat perintis.

Kami turun dan melihat, pelabuhan udara ini nampak seperti terminal bus antar kota. Membayangkan terminal bus di Lamongan (kota kelahiran saya). Hehehe. Safety Car bandara yang membunyikan sirine tadi ternyata berfungsi untuk menghalau Sapi yang ternyata masuk ke Bandara. Hahaha. Begitu masuk ke Bandara untuk mengambil barang, tas dari bagasi kami keluar dan sudah ditunggu sopir-sopir angkot yang menawarkan jasa angkutan ke Kota. Termasuk calo dan guide lokal. Nampak dari Pelabuhan Udara Komodo saya melihat beberapa turis asing entah dari eropa ataupun Amerika dengan papan Surfing dan peralatan Snorkling. Kami memilih Angkot sebagai taxi untuk mengantar kami ke Kota dan mencari penginapan.

Suasana Kamar Hotel Wisata. Sangat Sederhana. :P

Suasana Kamar Hotel Wisata. Sangat Sederhana. 😛

Perjalanan kami tempuh 30 menit untuk sampai di Kota. Siang hari kami sampai di kota dan di penginapan. Mbak Yupita rupanya sudah booking penginapan saat kami masih berada di Surabaya. Hotel bintang lima sebenarnya waktu itu sudah tersedia. Hotel Bintang Flores. Tapi sekali lagi kami menghemat budget agar bisa eksplore lebih lama. Hehehe. Kami menginap di Hotel Wisata. Relatif murah untuk backpacker. Yap, Seminggu kami jadikan hotel itu sebagai basecamp. Jetlag. Capek. Karena semalam saat di bali boleh dikata tidur kami kurang. Kami mencari rumah makan untuk makan siang. Ada beberapa rumah makan padang dan restoran seafood. Tapi untuk siang ini kami memilih masakan padang di dekat hotel. Nasi padang yang nampak aneh. Tapi itu yang paling murah. Dan paling masuk di perut. Sore menjelang kami menyempatkan diri untuk ke Pantai Pede di sebelah dan ke Pelabuhan Labuan Bajo untuk observasi sebentar.Karena seminggu kedepan kami akan menjadi penduduk musiman. 

Ini Foto-foto seputar kota Labuan Bajo. Dibagian kedua ‘Labuan Bajo: 6 tahun yang lalu’ akan saya ceritakan perjalanan saya di Destinasi wisata. Pulau Kanawa, Pulau Rinca (TNK), Danau Sano Nggoang dan Area Persawahan di desa Cancar yang unik.

DSC02250

Pantai Pede. Sperti Kenjeran di Surabaya.

DSC02260

Anak-anak Pantai.

DSC02267

Pelabuhan Labuan Bajo

DSC02271

Pintu Masuk Pelabuhan dan Pasar Ikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.