Mei 1998

Kita tahu sebabnya: ada orang yang percaya bahwa pembunuhan, bahkan pembantaian anak-anak, bisa halal. Ada orang yang percaya bahwa mereka yang tewas itu adalah korban yang diperlukan untuk memperoleh sebuah efek. (Goenawan Mohamad)

Secuil penyataan Goenawan Mohamad (Aktivis dan Budayawan) tersebut diatas menyiratkan bahwa setiap pergantian jaman/pergolakan politik/reformasi/revolusi akan selalu melahirkan martir-martir yang menjadi noda hitam dalam sejarah bangsa. Terlepas mereka dicatat dalam sejarah atau diabaikan sama sekali. Namun yang perlu diingat para martir ini tentunya tidak menumpahkan darahnya untuk sesuatu yang sia-sia. Meskipun implikasi perjuangan mereka tidak kita rasakan secara langsung.

77penculikan aktivis-istMungkin masih segar dalam ingatan kita ketika Hitler dengan faham Ultra Nasionalisnya (NAZI-FASIS) semakin membuas dan menginginkan seluruh Eropa menjadi bagian dari politik Lebensraum (bahasa Jerman: “habitat” atau secara harafiah “ruang hidup”) yang merupakan salah satu tujuan politik genosidal utama Adolf Hitler. Ketika itu seluruh masyarakat Jerman dicurahkan pada politik ultra nasionalis, kecuali kelompok Inge School yang bertahan untuk melakukan resistensi. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata “tidak”. Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pimpinan rezim fasis Nazi yang semua identik. Bahwa bagi mereka hilangnya nyawa, bukanlah persoalan. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir dan sebagai martir bagi kebenaran.  Seperti Soe Hok Gie bilang bahwa tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.

Mei kala itu pada tahun 1998, Saat itu saya masih kecil. Mungkin kalau tidak salah saat itu saya masih kelas 5. Ingatan saya mendalam sampai sekarang karena waktu itu kebetulan saya sakit terkena demam berdarah dan harus istirahat total di rumah. Stasiun televisi swasta waktu itu begitu gamblang menyiarkan kabar mengenai pergolakan massa dari Orde Baru ke Reformasi. Bulan Mei terutama adalah bulan-bulan awal dimana para aktivis mahasiswa (Forum Kota) dan keluarga Besar UI bergerak ke arah Senayan. Setidaknya @FaisalBasri dalam kultwitt nya di @IndonesianYouth beberapa hari yang lalu menjelaskan detail pergerakan Keluarga Besar UI dari kacamata seorang @FaisalBasri . Berikut fragmen @FaisalBasri dalam “Kejadian Mei 1998” di kultwit @IndonesiaYouth 14 Mei 2014 kemarin.


@IndonesiaYouth Kala itu saya ketua jurusan. Kantor jurusan kami jadikan markas gerakan tumbangkan Soeharto. Dekan tak pernah menegur.

@IndonesiaYouth Penggeraknya Keluarga Besar UI (KB UI), bukan BEM UI.

@IndonesiaYouth KB-UI mendirikan posko 24 jam. Pentolan2nya kerap rapat di rumah saya yg hanya ratusan meter dr komplek kopassus cijantung

@IndonesiaYouth Pesan Dekan, Prof. Dorodjatun Kuntjoro-Yakti cuma satu: apapun yang terjadi, FEUI sebagai lembaga hr terus maju.

@IndonesiaYouth Sejak 97 kian menyengat bau krisis. Kejatuhan Soeharto tinggal hitungan bulan. Itu hasil konperensi di Berkeley, London, Boon

@IndonesiaYouth Juga diskusi dr beragam komponen di dlm negeri, termasuk militer berpangkat brigjen dan colonel. Rapat berpindah2.

@IndonesiaYouth Tampaknya rezim Soeharto berupaya bertahan dg segala cara, termasuk adu-domba rakyat, misalnya dg membentuk pamswakarsa.

@IndonesiaYouth Boleh jadi ada yg ingin memanfaatkan keadaan dgn menciptakan chaos, lalu mengambil alih kekuasaan. Banyak analisis ttg itu.

@IndonesiaYouth beberapa kejadian paling mencekam:1. malam sebelum mhs UI duduki DPR. Saya diminta unt warning ke mhs sleeping (red: Sweeping)

@IndonesiaYouth 2.ketika pamswakarsa yg bawa pedang/golok nyaris berhadap2an dgn rakyat di flyover sudirman arah tatah (red: tanah) abang.

@IndonesiaYouth 3.massa dikejar2 tentara dan polisi bersepeda motor sampai ke gang2 di kawasan pejompongan seberang hotel Hilton.

@IndonesiaYouth gas air mata kian kerap disemprotkan. juga di trisakti sehari setelah penembakan.

@IndonesiaYouth Di jalanan dan diskusi hamprr hampir selalu berjumpa dgn Hermawan Sulistio dan satu lagi saya lupa namanya, alumni ITB.

@IndonesiaYouth Sangat yakin tdk ada satu pun kekuatan sipil yg mampu lakukan tindakan biadab serempak di berbagai kota. Ini kerjaan rezim.


Dari kultwit Faisal Basri bisa dibayangkan betapa peliknya serentetan peristiwa yang terjadi pada bulan Mei 1998 silam. Saya sampai sekarang masih ingat saat simpatisan FORKOT dihajar habis-habisan dengan popor senapan. Saya sangat geram menyaksikan peristiwa tersebut, walaupun hanya melihatnya dari TV dan masih SD. Kurang lebih jika saya tuliskan dalam paragraf runtutan peristiwa Mei 1998 yang merupakan awalan dari peristiwa berdarah yang mengorbankan darah anak bangsa.

1 Mei 1998 Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri Hartono dan Menteri Penerangan Alwi Dahlan mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai tahun 2003. Dan sehari setelah pernyataan yang cukup membuat telinga aktivis “panas” tanggal 2 Mei 1998 pernyataan tersebut di ralat dan kemudian dinyatakan bahwa reformasi bisa dilakukan sejak sekarang (1998). Selepas pernyataan ini maka kenaikan bahan bakar minyak menyulut serangkaian aksi mahasiswa di Medan, bandung dan Yogyakarta dan demonstrasi ini disikapi dengan represif oleh aparat. Di beberapa kampus terjadi bentrokan. (Kompas)

12low-interlaced-00052539_0345394 Mei 1998 Harga BBM melonjak tajam hingga 71%, disusul 3 hari kerusuhan di Medan dengan korban sedikitnya 6 meninggal. Tiga hari berikutnya (7 Mei 1998) Peristiwa Cimanggis terjadi: bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan terjadi di kampus Fakultas Teknik Universitas Jayabaya, Cimanggis, yang mengakibatkan sedikitnya 52 mahasiswa dibawa ke RS Tugu Ibu, Cimanggis. Dua di antaranya terkena tembakan di leher dan lengan kanan, sedangkan sisanya cedera akibat pentungan rotan dan mengalami iritasi mata akibat gas air mata. 8 Mei 1998 berlanjut dengan Peristiwa Gejayan, 1 orang mahasiswa tewas terbunuh.

Soeharto berangkat seminggu ke Mesir untuk menghadiri pertemuan KTT G-15 pada tanggal 9 Mei 1998. Ini merupakan lawatan terakhirnya keluar negeri sebagai Presiden RI. Letupan demonstrasi yang disertai tindakan anarkis dan dibalas tindakan represif aparat menjadi headline setiap hari di TV. Sampai akhirnya pada tanggal 12 Mei 1998 meletuslah Tragedi Trisakti yang mengakibatkan 4 mahasiswa Universitas Trisakti terbunuh. Kemudian inilah yang menjadi bulan-bulanan dalam pemberitaan media massa maupun eletronik. 13 Mei 1998 kerusuhan meluas dan pecah di Jakarta, kemudian Solo.

Presiden Soeharto yang waktu itu sedang menghadiri pertemuan negara-negara berkembang G-15 di Kairo, Mesir, memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Sebelumnya, dalam pertemuan tatap muka dengan masyarakat Indonesia di Kairo, Soeharto menyatakan akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. ini sinyal pertama Presiden Soeharto untuk meletakkan jabatan sebagai kepala negara. Gelombang eksodus yang saat itu mengarah pada isu SARA terutama etnis mengakibatkan eksodus besar-besaran etnis Tionghoa meninggalkan Indonesia.

09low-interlaced-00042207_034524Terhitung mulai tanggal 14 Mei 1998 demonstrasi terus bertambah besar hampir di semua kota di Indonesia, demonstran mengepung dan menduduki gedung-gedung DPRD di daerah. Kerusuhan di Jakarta berlanjut, ratusan orang meninggal dunia akibat kebakaran yang terjadi selama kerusuhan terjadi. Keesokan harinya (15 Mei 1998) setelah selesai mengikuti KTT G-15, Presiden Soeharto kembali ke tanah air dan mendarat di lapangan Bandar Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta, subuh dini hari. Menjelang siang hari, Presiden Soeharto menerima Wakil Presiden B.J. Habibie dan sejumlah pejabat tinggi negara lainnya.

Antara tanggal 17 sampai dengan 21 Mei 1998 menjadi hari-hari menentukan perpindahan era dan jaman. Kabinet Pembangunan VII yang saat itu sudah dibentuk oleh Presiden Soeharto tidak berumur panjang saat tanggal 17 Mei 1998  Sejumlah menteri mengajukan surat pengunduran diri diawali oleh Abdul Latief yang waktu itu dikenal salah satu petingga istana yang loyal. 18 Mei 1998 pukul 15.20 WIB Ketua MPR yang juga ketua Partai Golkar, Harmoko, di Gedung DPR, yang dipenuhi ribuan mahasiswa, dengan suara tegas menyatakan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, pimpinan DPR, baik Ketua maupun para Wakil Ketua, mengharapkan Presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. Harmoko saat itu didampingi seluruh Wakil Ketua DPR, yakni Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad. Pukul 21.30 WIB, empat orang menko (Menteri Koordinator) diterima Presiden Soeharto di Cendana untuk melaporkan perkembangan.

Pukul 23.00 WIB Menhankam/Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto mengemukakan, ABRI menganggap pernyataan pimpinan DPR agar Presiden Soeharto mengundurkan diri itu merupakan sikap dan pendapat individual, meskipun pernyataan itu disampaikan secara kolektif. Wiranto mengusulkan pembentukan “Dewan Reformasi”.

18 Mei 1998 juga merupakan gelombang pertama mahasiswa dari FKSMJ dan Forum Kota memasuki halaman dan menginap di Gedung DPR/MPR. Esok harinya pukul 09.00-11.32 WIB, Presiden Soeharto bertemu ulama dan tokoh masyarakat, yakni Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Abdurrahman Wahid, budayawan Emha Ainun Nadjib, Direktur Yayasan Paramadina Nucholish Madjid, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ali Yafie, Prof Malik Fadjar (Muhammadiyah), Guru Besar Hukum Tata Negara dari Universitas Indonesia Yusril Ihza Mahendra, KH Cholil Baidowi (Muslimin Indonesia), Sumarsono (Muhammadiyah), serta Achmad Bagdja dan Ma’ruf Amin dari NU. Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir 2,5 jam (molor dari rencana semula yang hanya 30 menit) itu para tokoh membeberkan situasi terakhir, dimana eleman masyarakat dan mahasiswa tetap menginginkan Soeharto mundur. Soeharto lalu mengajukan pembentukan Komite Reformasi.

Dari hasil pertemuan esok harinya Presiden Soeharto mengemukakan, akan segera mengadakan reshuffle Kabinet Pembangunan VII, dan sekaligus mengganti namanya menjadi Kabinet Reformasi. Presiden juga membentuk Komite Reformasi. Nurcholish Madjid sore hari mengungkapkan bahwa gagasan reshuffle kabinet dan membentuk Komite Reformasi itu murni dari Soeharto, dan bukan usulan mereka. Pernyataan Cak Nur ini menjawab isu diluar kalau Presiden Soeharto sukses “melobi” tokoh agama. Pukul 16.30 WIB, Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita bersama Menperindag Mohamad Hasan melaporkan kepada Presiden soal kerusakan jaringan distribusi ekonomi akibat aksi penjarahan dan pembakaran. Bersama mereka juga ikut Menteri Pendayagunaan BUMN Tanri Abeng yang akan melaporkan soal rencana penjualan saham BUMN yang beberapa peminatnya menyatakan mundur. Pada saat itu, Menko Ekuin juga menyampaikan reaksi negatif para senior ekonomi; Emil Salim, Soebroto, Arifin Siregar, Moh Sadli, dan Frans Seda, atas rencana Soeharto membentuk Komite Reformasi dan me-reshuffle kabinet. Mereka intinya menyebut, tindakan itu mengulur-ulur waktu. Ini yang disebut beberapa pihak sebagai aksi cepat dan spekulan beberapa pihak entah itu kaum reformis ataupun golongan pengambil untung dari peralihan kekuasaan. Negera Chaos!

Gedung_DPR_mei_1998Ribuan mahasiswa sudah tak tertahankan berhasil menduduki Gedung DPR/MPR RI di Senayan Jakarta. Amien Rais mengajak massa mendatangi Lapangan Monumen Nasional untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Amien Rais lahir menjadi Lokomotif terdepan reformasi. Nampaknya Amien Rais sudah sangat “gemas” karena dia adalah aktivis jebolan doktor ilmu politik dari Universitas Chicago yang getol menyerang Soeharto.

20 Mei 1998 Amien Rais membatalkan rencana demonstrasi besar-besaran di Monas, setelah 80.000 tentara bersiaga di kawasan Monas. Rupanya menurut sumber sumir ada operasi intelejen yang berusaha menjadikan Amien Rais sebagai target operasi. Hanya saja info ini sumir dan masih belum bisa dijadikan rujukan. Cerita berkembang ada seorang pimpinan ABRI waktu itu yang dekat dengan tokoh/aktivis Muhammadiyah ini memberikan bocoran kepadanya. Tapi bukan soal ini yang menjadikan Amien Rais urung menggelar rencana demonstrasi di Monas. Ya, faktor keamanan karena beberapa hari sebelumnya korban di kalangan mahasiswa dan aktivis sudah terjadi dengan serangkaian penculikan oleh pasukan gelap tanpa emblem kesatuan.

Harmoko yang era itu berada pada persimpangan masa, “menodong” Soeharto untuk sebaiknya mengundurkan diri pada Jumat, 22 Mei, atau DPR/MPR akan terpaksa memilih presiden baru. Pukul 14.30 WIB, 14 menteri bidang ekuin mengadakan pertemuan di Gedung Bappenas. Dua menteri lain, yakni Mohamad Hasan dan Menkeu Fuad Bawazier tidak hadir. Mereka sepakat tidak bersedia duduk dalam Komite Reformasi, ataupun Kabinet Reformasi hasil reshuffle. Semula ada keinginan untuk menyampaikan hasil pertemuan itu secara langsung kepada Presiden Soeharto, tetapi akhirnya diputuskan menyampaikannya lewat sepucuk surat. Alinea pertama surat itu, secara implisit meminta agar Soeharto mundur dari jabatannya.

Inilah mulai fase “cari selamat” oleh para loyalis Soeharto. Perasaan ditinggalkan, terpukul, telah membuat Soeharto tidak mempunyai pilihan lain kecuali memutuskan untuk mundur. Pukul 20.00 WIB, surat “pengkhinatan” 14 menteri bidang ekuin yang menyatakan secara implisit meminta Presiden Soeharto mundur disampaikan kepada Kolonel Sumardjono. Surat itu kemudian disampaikan kepada Presiden Soeharto. Soeharto kemudian bertemu dengan tiga mantan Wakil Presiden; Umar Wirahadikusumah, Sudharmono, dan Try Sutrisno. Pukul 23.00 WIB, Soeharto memerintahkan ajudan untuk memanggil Yusril Ihza Mahendra, Mensesneg Saadillah Mursjid, dan Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto. Soeharto sudah berbulat hati menyerahkan kekuasaan kepada Wapres BJ Habibie. Wiranto sampai tiga kali bolak-balik Cendana-Kantor Menhankam untuk menyikapi keputusan Soeharto. Wiranto perlu berbicara dengan para Kepala Staf Angkatan mengenai sikap yang akan diputuskan ABRI dalam menanggapi keputusan Soeharto untuk mundur. Setelah mencapai kesepakatan dengan Wiranto, Soeharto kemudian memanggil Habibie.

“Pak ini sudah tidak bisa di tawar lagi, rakyat sudah menghendaki bapak berhenti, ini tuntutan rakyat, bagaimana jika ini dibiarkan” -Yusril Ihza Mahendra

Hampir tengah malam tanggal 20 Mei 1998 pukul 23.20 WIB, Yusril Ihza Mahendra bertemu dengan Amien Rais. Dalam pertemuan itu, Yusril menyampaikan bahwa Soeharto bersedia mundur dari jabatannya. kata-kata yang disampaikan oleh Yusril itu, “The old man most probably has resigned“. Yusril juga menginformasikan bahwa pengumumannya akan dilakukan Soeharto 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB. Kabar itu lalu disampaikan juga kepada Nurcholish Madjid, Emha Ainun Najib, Utomo Danandjaya, Syafii Ma’arif, Djohan Effendi, H Amidhan, dan yang lainnya. Lalu mereka segera mengadakan pertemuan di markas para tokoh reformasi damai di Jalan Indramayu 14 Jakarta Pusat, yang merupakan rumah dinas Dirjen Pembinaan Lembaga Islam, Departemen Agama, Malik Fadjar. Di sana Cak Nur – panggilan akrab Nurcholish Madjid – menyusun ketentuan-ketentuan yang harus disampaikan kepada pemerintahan baru.

Fase Kritis Pergantian Kekuasaan.

JAKARTA AFTER SUHARTO'S RESIGNATIONSenyampang dengan pergolakan diluar, pergolakan di internal istana dan internal tokoh agama menjadi sebuah titik titik ordinat yang pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi satu titik koordinat. Koordinat pergantian jaman. Koordinat pergantian kekuasaan. Dini hari pukul 01.30 WIB, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Amien Rais dan cendekiawan Nurcholish Madjid (almarhum) menyatakan, “Selamat tinggal pemerintahan lama dan selamat datang pemerintahan baru”.

Keesokan paginya pukul 09.00 WIB, saya masih ingat betul di SCTV saya melihat dengan bersandar di guling dan dengan badan demam melihat Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada pukul 09.00 WIB. Soeharto kemudian mengucapkan terima kasih dan mohon maaf kepada seluruh rakyat dan meninggalkan halaman Istana Merdeka didampingi ajudannya, Kolonel (Kav) Issantoso dan Kolonel (Pol) Sutanto. Mercedes hitam yang ditumpanginya tak lagi bernomor polisi B-1, tetapi B 2044 AR. Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi presiden baru Indonesia. Jenderal Wiranto mengatakan ABRI akan tetap melindungi presiden dan mantan-mantan presiden, “ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan presiden/mandataris MPR, termasuk mantan Presiden Soeharto beserta keluarga”.

“saya ini orang muhammadiyah pak amien, tapi sebagai jenderal saya tidak bisa berbuat lain kecuali melaksanakan perintah perintah panglima tertinggi, kalau orang demo sampai ujung jalan thamrin..tembak!” – Mayjend Muchdi PR via Telepon dengan Amien Rais.

Diluar terjadi perdebatan tentang proses transisi ini. Yusril Ihza Mahendra, salah satu yang pertama mengatakan bahwa proses pengalihan kekuasaan adalah sah dan konstitusional. Habibie seperti yang sering kita lihat merupakan tokoh dipersimpangan dan dihadapkan pada ekosistem politik yang masih bayi. Dan lahirlah Kabinet Reformasi tanggal 22 Mei 1998 dengan diiringi peristiwa pencopotan Panglima Kostrad Letjen Prabowo Subianto. Pada saat itu sempat terjadi friksi antara loyalis Habibie dengan Mahasiswa yang masih bertahan di Gedung DPR/MPR. Mahasiswa ini menganggap Kabinet Reformasi bentukan Habibie adalah bagian dari Orde Baru.

Para Martir terlahir dari peristiwa besar ini. Beberapa aktivis ada yang masih hilang, dikembalikan dan tewas. Sumber  dari Kontras (Komisi Untuk Orang Hilang) setidaknya menghimpun data sebagai berikut:

Korban yang Masih Hilang

No.

Nama

Keterangan

Waktu Hilang

1

Yani Afri (Rian) Pendukung PDI Megawati, ikut koalisi Mega Bintang dalam Pemilu 1997 Hilang di Jakarta pada 26 April 1997

2

Sonny Pendukung PDI Megawati Hilang di Jakarta pada 26 April 1997

3

Deddy Hamdun Pengusaha, aktif di PPP dan dalam kampanye 1997 Mega-Bintang Hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997

4

Noval Alkatiri Pengusaha, aktivis PPP Hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997

5

Ismail Sopir Deddy Hamdun Hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997

6

Wiji Thukul Penyair aktivis JAKER/PRD Hilang di Jakarta pada 10 Januari 1998

7

Suyat Aktivis SMID/PRD di Solo pada 12 Februari 1998

8

Herman Hendrawan Aktivis SMID/PRD di Jakarta, 12 Maret 1998

9

Petrus Bima Anugerah Aktivis SMID/PRD Hilang di Jakarta pada 30 Maret 1998

10

Ucok Munandar Siahaan Mahasiswa Perbanas Diculik  14 Mei 1998 di Jakarta

11

Yadin Muhidin Alumnus Sekolah Pelayaran Hilang di Jakarta 14 Mei 1998

12

Hendra Hambali Siswa SMU Hilang di Glodok, Jakarta, 15 Mei 1998

13

Abdun Nasser Kontraktor Hilang saat 14 Mei 1998, Jakarta

Korban yang Dikembalikan

No.

Nama Korban

Tanggal Hilang

Keterangan

1

Aan Rusdiyanto 13 Maret 1998 Diambil paksa di Rumah Susun Klender, Jakarta Timur

2

Andi Arief 28 Maret 1998 Diambil paksa di Lampung

3

Desmon J Mahesa 4 Februari 1998 Diambil paksa di Jakarta

4

Faisol Reza 12 Maret 1998 Dikejar dan ditangkap di RS Ciptomangunkusumo, Jakarta Pusat

5

Haryanto Taslam 2 Maret 1998 Saat mengendarai mobil dikejar dan diambil paksa di depan pintu Taman Mini Indonesia Indah

6

Mugiyanto 13 Maret 1998 Diambil paksa di Rumah Susun Klender, Jakarta Timur

7

Nezar Patria 13 Maret 1998 Diambil paksa di Rumah Susun Klender, Jakarta Timur

8

Pius Lustrilanang 4 Februari 1998 Diambil paksa di Jakarta

9

Raharja Waluya Jati 12 Maret 1998 Dikejar dan ditangkap di RS Ciptomangunkusumo, Jakarta Pusat

Korban Meninggal

Nama
Keterangan
Leonardus Nugroho Iskandar (Gilang) Meninggal

Sampai saat ini Kontras mengajak masyarakat luas agar memberikan dukungan mereka melalui petisi online di alamat www.14tahunhilang.com yang mana isi dari setiap suara yang masuk di petisi ini akan langsung dikirimkan via email kepada Presiden Republik Indonesia. Kejadian hingga periode Mei 1998 diikuti selanjutnya oleh Semanggi I (11-13 November 1998) sebagai martir setidaknya ada 17 orang tewas (tidak termasuk yang hilang), Semanggi II (24 September 1999) 11 martir tewas dengan salah seorang diantaranya mahasiswa Trisakti serta 217 korban luka-luka. Semua ini adalah bagian dari pergantian rezim. Harga yang harus dibayar oleh sebuah kebenaran? ataukah mereka para martir adalah korban dari kaum perebut keuntungan dari proses kekuasaan? Wallahu A’lam Bishawab.

____________________________

Referensi:
1. Konstras | http://www.kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&id=1573
2. @FaisalBasri
3. Berbagai Sumber.
4. Foto: yahoo dan source bebas internet.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.