Petilasan Mahapatih Gadjah Mada

DSCF1677

Bapak menunjuk letak petilasan Joko Modo.

Disela-sela masa cuti, saya menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman di Lamongan. Rumah saya di Lamongan, tetapi jangan dibayangkan hanya 1 jam dari Surabaya lho. Kampung saya lebih mendekati wilayah Bojonegoro dan Jombang. Tetapi tetap masuk wilayah Lamonga. Tepatnya di Desa Mojorejo, Kecamatan Modo. Kira-kira mengapa saya mengajak teman-teman membaca tulisan saya saat blogwalking di blog ini adalah menceritakan keberadaan Maha Patih Gadjah Mada.

Mungkin teman-teman patut mengingat lagi sejarah Jawa Kuno era Kerajaan Majapatih. Kerajaan Agraris terbesar di Nusantara.

Gajah Mada adalah salah satu tokoh besar pada zaman Majapahit. Menurut berbagai kitab zaman Jawa Kuno, ia menjabat sebagai patih (menteri besar), kemudian mahapatih (perdana menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Ia terkenal dengan sumpahnya, yaitu Amukti Palapa, yang menyatakan bahwa ia tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara.

Sampai sekarang belum diketahui berkenaan dengan sumber sejarah yang menyatakan mengenai kapan dan di mana Gajah Mada lahir. Menurut Pararaton, ia memulai karirnya di Majapahit sebagai komandan pasukan khusus bhayangkara (bekel bhayangkara). Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Rakryan Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada tahun 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Arya Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan wilayah Keta dan Sadeng yang saat itu penduduknya sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya ditaklukkan. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat secara resmi oleh Ratu Tribhuwana Tunggadewi sebagai Patih Amangkhubumi Majapahit.

Ada beberapa pendapat bahwa Gajah Mada dianggap dari daerah Modo di Lamongan, di mana di daerah Cancing Ngimbang banyak ditemukan prasasti-prasasti yang diduga kuat peninggalan Majapahit, lagipula daerah ini adalah yang terdekat dengan perbatasan Lamongan-Mojokerto, tepatnya di daerah Mantup, 20 kilometer ke selatan Lamongan. Jadi ada kemungkinan bila Gajah Mada berasal dari Lamongan, mengingat bukti bukti prasasti yang ada di daerah ini bahkan tempatnya juga sangat teratur sebagai tanah perdikan, termasuk adanya beberapa makam kuno prajurit, dan juga makam kuno yang diduga kuat sebagai makam ibunda Gajah Mada, yaitu Nyai Andong Sari, yang masih menjadi tanda tanya.

DSCF1633

Desa Sumberagung Kecamatan Modo, Lamongan

Nah menarik menyusuri jejak petilasannya. Dari kecil saya mendengar bahwa di Modo banyak terdapat situs peninggalannya. Entah itu hanya dongeng maupun kenyataan saya tidak mempermasalahkannya. Salah satunya di desa Sumberagung, Kecamatan Modo. Kebetulan di desa itu saudara saya tinggal jadi saya kemarin melihat salah satu petilasannya yang sekarang sudah musnah karena faktor lingkungan.

Dari Kecamatan Modo, perjalanan saya tempuh bersama Bapak 30 menit, sebenarnya tidak jauh tapi karena jalanan desa yang tidak terlalu bagus. Setelah mampir ke Rumah ‘Lek’ (Red: Sebutan untuk saudara Bapak/Ibu di Jawa) untuk minum melepas lelah maka kami ke tempat yang menjadi tujuan kami tadi. Ya petilasan ini dulunya digunakan penduduk untuk mandi dan mencuci pakaian karena bentuk petilasan ini adalah ‘sendang’ (Red:sumber air).

Dulunya sih menurut cerita adalah tempat Joko Modo (red: panggilan Gadjah Mada semasa kecil) mandi. Bentuk petilasan atau situs ini berupa gundukan batu yang memancarkan sumber mata air. ada yang menyerupai bentuk kaki (tapak kaki) dan bekas batu yang diduduki. Tetapi sayang keberadaan situs ini sudah terbengkalai oleh penduduk sekitar, karena sudah sejah tahun 2010 sudah tidak digunakan lagi untuk mandi dan keperluan cuci-mencuci karena mata airnya sudah kering. Tapi status tanah situs ini adalah tanah desa, sehingga tidak digunakan oleh penduduk untuk keperluan pribadi.

DSCF1634

Letak petilasan ‘Joko Modo’ ada dibelakang perkampungan

Masuk ke tempat petilasan saya harus memarkir sepeda motor di rumah penduduk karena letaknya dibelakang perumahan dan di tepian kali desa. Saya terakhir kali ketempat ini sewaktu SD untuk mandi, dan sudah agak lupa. Setelah bertanya warga sekitar tepatlah kami tujuan kami. Ya benar, seperti cerita ‘Lek’ kalau sekarang kondisinya memprihatinkan. Nyaris tidak ada yang saya kenali lagi seperti dulu.

Kebetulan di petilasan tadi kami menjumpai warga sekitar sedang mengambil pohon bambu yang tumbuh disekitar petilasan. Setelah mengenalkan diri, saya membuka beberapa pertanyaan. Salah satunya kenapa kok kondisi sumber air yang dulu melimpah sekarang kering kerontang.

Si Bapak menjawab karena keberadaan beberapa sumur bor (artesis) yang dibuat warga sekitar. Sehingga sumber utama di petilasan ini mengering. Sumur-sumur tersebut tidak hanya di gunakan di perumahan tetapi juga di Sawah untuk menyirami bibit Tembakau. Dan menurut pengamatan mata saya sih memang sebagian besar penduduk menggunakan sumur bor dan sekarang sudah membuat kamar mandi di rumahnya masing-masing.

DSCF1636

Seperti inilah keadaannya sekarang. Kering dan jika musim hujan banjir.

Si Bapak (red: warga sekitar yg saya temui on the spot) menceritakan banyak hal yang tidak kami tanyakan. Heheh. Termasuk soal pesugihan atau pusaka yang ada disini. Walaupun Kami bukan pecinta Tahayul dan Kurafat serta Insya Alloh menghindarinya, kami cuma manggut-manggut saja. Si Bapak (Saya menulis ini karena lupa nama Bapaknya siapa. :P) menceritakan sesungguhnya di petilasan ini dulunya adalah tempat pertapaan Joko Modo. Bahkan ada beberapa orang yang mengambil pusaka di tempat ini (Katanya lhoo.)

Wah perkiraan saya salah dong, diawal saya mendengar cerita kalau petilasan Sumberagung adalah tempat mandinya Joko Modo. Ahaai tapi namanya legenda sah sah saja bukan salah sedikit. Paling-paling Joko Modo habis bertapa kan juga Mandi. Hehe.

Kembali ke topik, luas petilasan ini kurang lebih satu Hektar (termasuk tanah desa) dulunya memang tepian sungai. Si Bapak mengantarkan saya pada petilasan utama. Berupa sumber air yang paling besar. Dan benar, sumber air itu sudah kering dan penuh sampah daun. Ada dua sumber utama yaitu Sumber air yang berupa bekas Joko Modo duduk dan bekas telapak kakinya. sedangkan bekas bangunan yang lain adalah modifikasi warga yang dibuat untuk pemandian umum dan tempat cuci pakaian. Setelah Puas memotret maka saya dan Bapak pamit dan kembali pulang. Tidak banyak cerita yang kami dapat karena ya memang kebenaran sebuah legenda itu adalah tanda tanya besar. Paling tidak dari petilasan ini memperbanyak khasanah kalau Joko Modo (Gadjah Mada) itu masa kecilnya di desa saya. Hehehehe.

Berikut ini beberapa foto hasil keluyuran saya dengan Bapak….

DSCF1649

Sumber Air yang bentuknya ‘mirip’ bekas duduk.

DSCF1637

Bapak sedang menunjuk keberadaan petilasan

DSCF1639

Si Bapak menunjuk Gundukan tanah yang menutup tempat pertapaan.

DSCF1665

Tempat pertapaan yang ditunjuk Si Bapak tadi. Sudah tertutup tanah.

DSCF1658

Sisa-sia pemandian yang dibuat warga.

DSCF1659

Sumber Air yang sudah kering.

DSCF1664

Sumber Utama yang paling besar. Juga Kering

Literatur tambahan :

http://jejaknusantara.com/gajahmada

5 thoughts on “Petilasan Mahapatih Gadjah Mada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.