Cerita Sejarah #Suroboyolawas

Salah satu wasiat HOS Tjokroaminoto yang terkenal adalah “Lerena mangan sadurunge wareg” yang berarti “berhentilah makan sebelum kenyang”. Pesan yang bersumber dari hadist Nabi ini dimaksudkan agar generasi penerus menghindari sikap rakus dan serakah serta menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi dan golongan. Ia hanya menyampaikan sebuah wasiat tertulis yang disahkan oleh forum sebagai “Pedoman Umat Islam”. Isinya berupa pesan kepada umat Islam supaya menjadi pelopor dalam upaya membawa masyarakat menuju tatanan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Buku Islam dan Sosialisme merupakan karyanya yang paling monumental, bahkan menjadi salah satu karya terbesar HOS Tjokromainoto. Di dalamnya memuat sistem kemasyarakatan yang Sosial-Religius dengan susunan pemerintahan yang bersendikan Demokrasi. Buku ini ditulis untuk menanggulangi faham sosialisme yang diusung oleh kaum atheis dan komunis di Indonesia kala itu.

View on Path

Labuan Bajo: 6 tahun yang lalu

This slideshow requires JavaScript.

Ditengah ramainya kunjungan destinasi ke Pulau Komodo karena publikasi media termasuk dukungan para blogger saat ini, saya mencoba flashback ke belakang. Tepatnya 6 tahun yang lalu.

Saya rasa semua orang terutama penyuka travelling dan backpacker sudah mengetahui Kabupaten Manggarai Barat yang jamak orang lebih mengenal dengan Labuan Bajo. LBJ begitu akronim dalam dunia penerbangan. Bagi yang belum tahu dimana Labuan Bajo. Labuan Bajo sebenarnya nama Kota pelabuhan yang merupakan Kota Kabupaten Manggarai Barat adalah suatu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kabupaten Mangarai Barat merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Manggarai berdasarkan Undang Undang No. 8 Tahun 2003. Wilayahnya meliputi daratan Pulau Flores bagian Barat dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, diantaranya adalah Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Seraya Besar, Pulau Seraya Kecil, Pulau Bidadari dan Pulau Longos. Luas wilayah Kabupaten Manggarai Barat adalah 9.450 km² yang terdiri dari wilayah daratan seluas 2.947,50 km² dan wilayah lautan 7.052,97 km².

Lokasi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Manggarai Barat.svgPeta lokasi Kabupaten Manggarai Barat
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Ibu kota Labuan Bajo
Luas 9.450 km2 (daratan=2.947,50 km²)
 
Populasi
 – Total 234,235 jiwa (2012)[2]
 – Kepadatan 0,02 jiwa/km2
 
Pembagian administratif
 – Kecamatan Komodo, Sano Nggoang, Mbeliling, Lembor, Lembor Selatan, Kuwus, Macang Pacar, Welak, Boleng, Ndoso
 – Kelurahan Labuan Bajo, Wae Kelambu, Tangge, Nantal dan Golo Ru’u
 – Situs web http://www.manggaraibaratkab.go.id/

 Kota Labuan Bajo yang merupakan kota pelabuhan merupakan sebuah kota yang dulunya dijadikan tempat pertemuan orang Manggarai gunung dengan orang laut. Disitu juga perekonomian warga terjadi dengan perdagangan hasil bumi dan laut. Wilayah Sano Nggoang dan Lembor yang kaya akan sayuran dan buah-buahan bertukar dagang dengan masyarakat laut yang didominasi orang-orang Bugis dan orang pesisir sebagai nelayan. Lambat laun di Labuan Bajo dijadikan sentra sebuah kota dan ramai.

6 Tahun yang lalu

Saya sendiri dulunya tidak pernah percaya kalau saya pernah berkunjung selama seminggu di tempat yang sekarang menjadi destinasi wisata andalan Indonesia. 2008 saya berkesempatan ke Labuan Bajo. Saat itu diakhir bulan September 2008 saya bersama 2 orang kakak kelas (Mbak Yupita dan Mbak Eva) berangkat kesana dengan Tim LPPM Unair untuk melakukan penelitian. Seminggu kurang lebih kami disana. Kalau tidak salah waktu itu sebelum Bulan Ramadhan. Karena setelah saya pulang balik ke Surabaya esoknya saya sudah puasa wajib.

Pertamanya saya tidak mengira Kabupaten Manggarai Barat itu adalah Labuan Bajo. Salah satu kabupaten yang menaungi TNK (Taman Nasional Komodo). Setidaknya menurut Balai Taman Nasional Komodo bahwa TNK memiliki luas 173.300 ha meliputi wilayah daratan dan lautan dengan lima pulau utama yakni Pulau Komodo, Padar, Rinca, Gili Motang, Nusa Kode dan juga pulau-pulau kecil lainnya. Kepulauan tersebut dinyatakan sebagai taman nasional untuk melindungi komodo yang terancam punah dan habitatnya serta keanekaragaman hayati didalam wilayah tersebut. Taman lautnya dibentuk untuk melindungi biota laut yang sangat beragam yang terdapat disekitar kepulauan tersebut, termasuk yang terkaya di bumi.

Taman Nasional komodo terletak di kawasan  Wallacea Indonesia. Kawasan Wallacea terbentuk dari pertemuan dua benua yang membentuk deretan unik kepulauan bergunung api, dan terdiri atas campuran burung serta hewan dari kedua benua Autralia dan Asia. Terdapat 254 spesies tumbuhan yang berasal dari Asia dan Australia di Taman Nasional Komodo. Selain itu, juga terdapat 58 jenis binatang dan 128 jenis burung. Perpaduan berbagai vegetasi di Taman Nasional Komodo memberikan lingkungan yang baik bagi berbagai jenis binatang dalam kawasan ini. 

Cerita bermula saat saya semester akhir, merasakan kejenuhan mengerjakan skripsi. Nyali saya yang sudah dari setahunan (2007) menyukai dunia penelitian lapangan merasa perlu untuk sekali lagi merasakan menjadi peneliti lapangan sebelum menanggalkan bangku perkuliahan. Pak Lutfi AS (Dosen Biostatistika) yang saya kenal akrab mengadakan penelitian dan mengajak saya sebagai enumerator dan juga observer lapangan. Saya tidak sendirian waktu itu ada kakak kelas saya Mbak Yupita dan Mbak Eva. Kita bertiga berangkat ke Labuan Bajo.

Naik Kereta…

Bagaimana bisa kami ke Labuan Bajo naik kereta api??

Tentu tidak. Kami bertiga memang sejak awal merencanakan perjalanan kami ini dengan model “backpacker”. Pak Lutfi memberikan anggaran perjalanan selama seminggu di Labuan Bajo memang cukup dan layak tapi jiwa kami bertiga tertantang untuk menghemat perjalanan agar bisa mampir dulu ke Bali. Hehehe. Tiket Pesawat dari Surabaya ke Bali kami “korupsi” agar kami bisa menginap semalam di Bali. Malam hari kami ke Stasiun Gubeng untuk naik Kereta Api Bisnis Mutiara Timur. Banyuwangi adalah stasiun terakhir sebelum akhirnya kami paginya langsung naik Bus PT.KAI untuk diantar ke terminal Ubung Denpasar.

Tepat Siang menjelang Ashar kami sudah sampai di Denpasar. Dan itulah pengalaman kami pertama kalinya ke Bali dengan naik kereta api dari Surabaya. Dan ternyata lumayan panjang duduk dan berganti kursi. Tapi karena kami menikmati perjalanan jadi tidak terasa. Jalur darat Banyuwangi ke Bali menjadi sensasi menarik apalagi mengantri di pelabuhan Ketapang.

Pose dulu di Monumen BOM Bali
Pose dulu di Monumen BOM Bali

Perjalanan Ke Bali ditemani Mas Bambang (Suaminya Mbak Yupita) untuk membantu kami karena barang yang kami bawa lumayan banyak. Sementara saya hanya membawa Satu tas ransel untuk seminggu disana. Wahaha. Pagi buta mas Bambang segera balik ke Surabaya dengan Kereta Api setelah Sore hari kami sempat ke GWK, Pantai Dreamland dan Kuta. Karena penginapan kami di sekitar jalan Legian. Kami sempatkan keliling Bali secara kilat karena besok Pagi kami harus siap-siap ke Ngurah Rai untuk bertolak ke Labuan Bajo dengan pesawat twin otter Trigana Air yang kapasitasnya hanya 19 orang. 😀

Oke, It’s Show time

Tiket ke Labuan Bajo sudah kami kantongi. Setelah semua siap termasuk mengecek barang bawaan dan kebutuhan kami selama seminggu. Kira-kira ja 09.00 WITA kami bertolak ke Labuan Bajo (LBJ). Perjalanan dari Ngurah Rai ke bandara Komodo kurang lebih 1 jam. Kami merasakan sensasi terbang dengan desingan mesin pesawat yang kerasa cukup bising di telinga kami. Begitu kami melewati Lombok pesawat Pilot menyampaikan informasi bahwa pesawat kami berada diatas atau melewati Gunung Rinjani. sontak kami melongok jendela kabin pesawat. Subhanallah udara cerah membuat gunung Rinjani nampak keindahannya. Sayang saya tidak pegang kamera. 😦

Gunung Rinjani berganti dengan deretan pulau Nusa Tenggara Timur yang kalau dari atas nampak seperti pulau yang terbakar dan kering. Saya berfikir kami sudah akan landing. Benar saja pesawat memutari pulau untuk kontak dengan menara pengawas bandara. Sudah terlihat jelas landasan pesawat. Hanya saja yang membuat saya kaget, mobil patroli bandara mengitari landasan dengan membunyikan sirine. setelah landasan aman maka kami mendarat.

Alhamdulillah kami telah sampai di Pelabuhan Udara Komodo. Labuan Bajo!

DSC02238
Sopir Angkot, Calo dan Guide sudah menunggu.
DSC02241
Run way dengan pesawat perintis.

Kami turun dan melihat, pelabuhan udara ini nampak seperti terminal bus antar kota. Membayangkan terminal bus di Lamongan (kota kelahiran saya). Hehehe. Safety Car bandara yang membunyikan sirine tadi ternyata berfungsi untuk menghalau Sapi yang ternyata masuk ke Bandara. Hahaha. Begitu masuk ke Bandara untuk mengambil barang, tas dari bagasi kami keluar dan sudah ditunggu sopir-sopir angkot yang menawarkan jasa angkutan ke Kota. Termasuk calo dan guide lokal. Nampak dari Pelabuhan Udara Komodo saya melihat beberapa turis asing entah dari eropa ataupun Amerika dengan papan Surfing dan peralatan Snorkling. Kami memilih Angkot sebagai taxi untuk mengantar kami ke Kota dan mencari penginapan.

Suasana Kamar Hotel Wisata. Sangat Sederhana. :P
Suasana Kamar Hotel Wisata. Sangat Sederhana. 😛

Perjalanan kami tempuh 30 menit untuk sampai di Kota. Siang hari kami sampai di kota dan di penginapan. Mbak Yupita rupanya sudah booking penginapan saat kami masih berada di Surabaya. Hotel bintang lima sebenarnya waktu itu sudah tersedia. Hotel Bintang Flores. Tapi sekali lagi kami menghemat budget agar bisa eksplore lebih lama. Hehehe. Kami menginap di Hotel Wisata. Relatif murah untuk backpacker. Yap, Seminggu kami jadikan hotel itu sebagai basecamp. Jetlag. Capek. Karena semalam saat di bali boleh dikata tidur kami kurang. Kami mencari rumah makan untuk makan siang. Ada beberapa rumah makan padang dan restoran seafood. Tapi untuk siang ini kami memilih masakan padang di dekat hotel. Nasi padang yang nampak aneh. Tapi itu yang paling murah. Dan paling masuk di perut. Sore menjelang kami menyempatkan diri untuk ke Pantai Pede di sebelah dan ke Pelabuhan Labuan Bajo untuk observasi sebentar.Karena seminggu kedepan kami akan menjadi penduduk musiman. 

Ini Foto-foto seputar kota Labuan Bajo. Dibagian kedua ‘Labuan Bajo: 6 tahun yang lalu’ akan saya ceritakan perjalanan saya di Destinasi wisata. Pulau Kanawa, Pulau Rinca (TNK), Danau Sano Nggoang dan Area Persawahan di desa Cancar yang unik.

DSC02250
Pantai Pede. Sperti Kenjeran di Surabaya.
DSC02260
Anak-anak Pantai.
DSC02267
Pelabuhan Labuan Bajo
DSC02271
Pintu Masuk Pelabuhan dan Pasar Ikan.

Foto Jurnalistik Hari ini

Foto Jurnalistik Hari ini

Pagi ini saya melihat hasil foto kari pewarta foto TEMPO Hariandi Hafid. “Tim Prabowo-Hatta Ambil Alih Posko Dahlan Iskan” begitulah caption dari foto tersebut. Sekilas itu nampak seperti foto biasa. Tapi kalau pemikiran “liar” kita biarkan, maka akan mempunyai penafsiran yang biasa. Dan itu masuk dalam kategori Streetphotography.

Saya mempunyai penafsiran seperti ini dalam foto tersebut:
“Jokowi menangis saat Posko Dahlan Iskan yang menang Konvensi Partai Demokrat digusur oleh Tim Pemenangan Pilpres Prabowo-Hatta”

“Jokowi menangis melihat dia ternyata gagal bersaing dengan Dahlan Iskan pada saat Pilpres dan ternyata melawan Prabowo sebagai kandidat Presiden, dimana dulu pada saat pemilihan Gubernur DKI dia yang diusung Prabowo untuk dipasangkan dengan calon Gerindra (Ahok)”

Nah, bagaimana pendapat anda soal foto cerdas yang sangat “streetphotography” dari Pewarta Foto TEMPO ini?

Periode Kritis Pergantian Jaman (Orde Baru-Reformasi)

Jakarta, 21 Mei 1998 | 09.00 WIB

Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada pukul 09.00 WIB. Pak Soeharto kemudian mengucapkan terima kasih dan mohon maaf kepada seluruh rakyat Indonesia dan meninggalkan halaman Istana Merdeka didampingi ajudannya, Kolonel (Kav) Issantoso dan Kolonel (Pol) Sutanto. Mercedes hitam yang ditumpanginya tak lagi bernomor polisi B-1, tetapi B 2044 AR. Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi presiden baru Indonesia. Jenderal Wiranto menyatakan ABRI akan tetap melindungi presiden dan mantan-mantan presiden, “ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan presiden/mandataris MPR, termasuk mantan Presiden Soeharto beserta keluarga”.

Jaman berganti, Perjuangan belum selesai.

(Berdoa Semoga Demokrasi di Negeri ini tetap Jujur, Aman, Damai, Berkeadilan dan Sejahtera)

View on Path

Keikhlasan SANG SUAMI

Al Kisah

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya…

View original post 635 more words

Mei 1998

Kita tahu sebabnya: ada orang yang percaya bahwa pembunuhan, bahkan pembantaian anak-anak, bisa halal. Ada orang yang percaya bahwa mereka yang tewas itu adalah korban yang diperlukan untuk memperoleh sebuah efek. (Goenawan Mohamad)

Secuil penyataan Goenawan Mohamad (Aktivis dan Budayawan) tersebut diatas menyiratkan bahwa setiap pergantian jaman/pergolakan politik/reformasi/revolusi akan selalu melahirkan martir-martir yang menjadi noda hitam dalam sejarah bangsa. Terlepas mereka dicatat dalam sejarah atau diabaikan sama sekali. Namun yang perlu diingat para martir ini tentunya tidak menumpahkan darahnya untuk sesuatu yang sia-sia. Meskipun implikasi perjuangan mereka tidak kita rasakan secara langsung.

77penculikan aktivis-istMungkin masih segar dalam ingatan kita ketika Hitler dengan faham Ultra Nasionalisnya (NAZI-FASIS) semakin membuas dan menginginkan seluruh Eropa menjadi bagian dari politik Lebensraum (bahasa Jerman: “habitat” atau secara harafiah “ruang hidup”) yang merupakan salah satu tujuan politik genosidal utama Adolf Hitler. Ketika itu seluruh masyarakat Jerman dicurahkan pada politik ultra nasionalis, kecuali kelompok Inge School yang bertahan untuk melakukan resistensi. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata “tidak”. Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pimpinan rezim fasis Nazi yang semua identik. Bahwa bagi mereka hilangnya nyawa, bukanlah persoalan. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir dan sebagai martir bagi kebenaran.  Seperti Soe Hok Gie bilang bahwa tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.

Mei kala itu pada tahun 1998, Saat itu saya masih kecil. Mungkin kalau tidak salah saat itu saya masih kelas 5. Ingatan saya mendalam sampai sekarang karena waktu itu kebetulan saya sakit terkena demam berdarah dan harus istirahat total di rumah. Stasiun televisi swasta waktu itu begitu gamblang menyiarkan kabar mengenai pergolakan massa dari Orde Baru ke Reformasi. Bulan Mei terutama adalah bulan-bulan awal dimana para aktivis mahasiswa (Forum Kota) dan keluarga Besar UI bergerak ke arah Senayan. Setidaknya @FaisalBasri dalam kultwitt nya di @IndonesianYouth beberapa hari yang lalu menjelaskan detail pergerakan Keluarga Besar UI dari kacamata seorang @FaisalBasri . Berikut fragmen @FaisalBasri dalam “Kejadian Mei 1998” di kultwit @IndonesiaYouth 14 Mei 2014 kemarin.

Continue reading Mei 1998