#Diskusifacebookers: “Soal Kapitasi Rp. 19.XXX,00”

Tanggal 19 November kemarin saya menulis status di Facebook untuk memancing opini. Kali itu satu menulis seputar besaran Kapitasi dalam Jaminan Kesehatan Nasional 2014 besok. Berikut ini kurang lebih hasil diskusi dengan teman-teman saya:
Ilham Akhsanu Ridlo
Dengan kapitasi yang kurang lebih 19.000an sebenarnya anda sekalian sudah bisa “untung”…Dan cara berfikirnya bukan mencari untung lho, ingat kapitasi itu pra-upaya lho..Dan kapitasi itu bukan hitungan gaji anda…
  • M Atoillah Isvandiari Mungkin bisa dikasih pencerahan ham? Ini benar2 pertanyaan lho. Karena setahu saya sejauh ini dg kapitasi 19 ribu, dipotong biaya manajemen dan obat maka “keuntungan” itu hanya sekitar 2-3 ribu per orang. Sama dg tukang parkir mobil yang nggak pake pendidikan profesi. Dg besaran itu memang yang dihitung bukan lagi keuntungan. Pengabdian? Menurut saya pelecehan. Karena kalo pengabdian artinya nggak usah digaji. Tidak perlu dinilai kompetensinya karena urusannya hati. Padahal dokter adalah profesi yg sudah selayaknya dihargai sesuai profesionalismenya berdasarkan pendidikannya.
  • Astari Rahayuningtyas 19ribu per pasien itu, klo sakit bisa dikasih apa y? Itu juga jatah per bulan, bukan per kali sakit. Memang 19rb bukan gaji dokterlah, gajinya ya jelas kurang dr itu, klopun ada.
  • Ilham Akhsanu Ridlo Ini yg bapak atau ibu salah kaprah menilai kapitasi…kapitasi itu pra upaya lhoo..dan menghitungnya bukan dilihat dari orang per orang..tapi dikalikan berapa orang yg dilayani per wilayah…katakanlah bapak dan ibu melayani satu wilayah dengan 2000 penduduk..jadi tinggal dikalikan saja..mmg kurang lebih jatuhnya untuk biaya dokter (jasa medis) hanya sekitar 3000 rupiah.. tapi coba dikalikan dengan total kapitasi..dan ingat lagi lho..ini pra upaya..artinya jika bapak dan ibu bisa melakukan langkah2 preventif di wilayahnya dan semua penduduk itu sehat maka kapitasi 3000 rupiah itu utuh. Dan tinggal dikalikan saja sebanyak total penduduk yang ada dalam kontrak…mungkin ini bisa menjadi masalah dan sangat masalah saat teman2 dokter pemegang kontrak hanya menunggu pasien dan tidak melakukan langkah2 managed care di wilayah kontrak dgn bpjs kesehatan..ingat kapitasi itu pra upaya lho yaaaaaa…heheheh..
  • Ilham Akhsanu Ridlo Mungkin saya perlu membuat artikel khusus ttg kapitasi..apa itu..dan apa sistemnya gmn…Atau mungkin kalau Pak Widodo JP punya Facebook saya akan meminta beliau untuk membahas ini..qiqiqiqi…. cc: Djazuly Chalidyanto
  • M Atoillah Isvandiari Wah akan sangat ditunggu fb nya pak wid …-). Tapi penjelasan muridnya cukup mencerahkan juga kok, he he he….personally sebenarnya sistem kapitasi spt itu sdh cukup paham, krn pernah dan sedang membantu mengelola asuransi kesehatan he..he he. Tapi sebagian besar nakes belum terpapar, mungkin perlu sosialisasi yg gencar
  • M Atoillah Isvandiari Hanya saja konsep managed carenya yg blm bisa dibayangkan, bagaimana “mencegah” pasien yg sdh merasa membayar premi untuk berobat batuk pilek misalnya. Apalagi yg sakit lebih serius, karena selama ini puskesmas yg memang konsepnya preventif aja blm berhasil menjalankan fungsinya malah berlomba lomba melayani pelayanan kuratif, apalagi klinik/dokter yg memang dilahirkan untuk kuratif, he he he…kecuali saya lho, yg epidemiolog
  • M Atoillah Isvandiari Dan jumlah penduduk tidak merata distribusinya. Mungkin kalo perlu ditambah: tiap tahun jumlah dokter juga bertambah. Mungkin hrs dikalkulasi tiap tahun kapitasinya?
  • M Atoillah Isvandiari Sekedar mengingatkan saja: yg ditangkap teman-teman nakes adalah biaya per pasien yg relatif tidak sesuai dg risiko per pasien, bukan total 2000 penduduk krn kalo begitu ada 2000 kemungkinan risiko juga kan. Bila tidak dilakukan sosialisasi intensif, yg saya kuatirkan adalah adanya gelombang rujukan ke RS dlm jumlah besar krn nakes di pelayanan primer enggan mengambil risiko demi risiko yg dianggap tdk seimbang dg apresiasinya. Mungkin ini juga sebagai bahan penulisan artikelnya ham…he he he..
  • Ilham Akhsanu Ridlo Itu PR memang pak M Atoillah Isvandiari saya punya ide..saya tahu rekan2 dokter punya basic klinis dan mungkin kegiatan didalam gedung lebih banyak dri di lapangan..nah konsep managed care aka preventif apa gak enak dikasihkan anak2 mahasiswa fkm, kerjasama sm mereka..mereka ditugasi melakukan intervensi atau langkah preventif dan ada itungannya nanti..yg penting harus dipastikan targetnya populasi nya bisa sehat..nah mungkin bisa meringankan tugas teman2 dokter…dan kl ini berjalan bagus kayaknya sama2 untung..masyarakat sehat, dokternya juga dapat insentif yg sesuai dan semuanya senang…hehehehe..hanya usul sihhhh…
  • M Atoillah Isvandiari Asal pasiennya seperti skenario prof Ilham Ridlo tdk terlalu banyak yg ke klinik, mungkin teman2 nakes mampu membayar honor mhsw, ha ha ha. Idenya bagus, bisa diformulasikan secara lebih operasional. Satu pertanyaan, dan ini di IDI juga masih bikin pusing, yang tadi itu: tiap tahun ada dokter baru. Nah ngitung kapitasinya jadi tiap tahun? Bagaimana di daerah yg penduduknya tdk padat tapi nakesnya padat? Sdh gitu terus nambah lagi. Atau di daerah yg sangat sepi.
  • M Atoillah Isvandiari Harus juga diantisipasi fenomena jampersal saat ini: rumah sakit membludak karena bidan enggan melakukan pertolongan, krn hanya dg merujuk mereka sdh dpt fee yg sama dg bila menangani sendiri. Tanpa risiko, lagi….
  • Ilham Akhsanu Ridlo Oya saya lupa itungan nya..kayaknya minimal kalau dokter bpjs mau “untung” setidaknya kurang lebih harus menjaring minimal 1000an peserta(wjp pernah bilang tapi saya lupa pasti itungannya.hehehe)..nah pak jumlah itu tidak mungkin di dapat di perkotaan.. ini menurut saya mempunyai peluang untuk pemerataan nakes…kl kita melihatnya dari sisi positif..singkatnya kalau kita mau “untung” kita harus berani terjun ke pinggiran kota atau ke desa..disamping Faktor resikonya lebih kecil jumlah rasio nakes per penduduk menjadi besar..tapi tentunya kita kesampingkan sedikit soal akses dan keterjangkauan..wkwkwk
  • Ilham Akhsanu Ridlo Soal jampersal memang mempunyai sisi lain mata uang..walaupun berefek positif terhadap turunnya AKI..hehehe..
  • M Atoillah Isvandiari malangnya, dokter spesialis di RS juga menangani setengah hati, karena px membludak, artinya beban bertambah, sementara dg pembiayaan yg ada tdk sesuai dg standard optimum…standard optimum lho ya, bukan minimum. Akhirnya yg dirugikan kembali ke pasien, krn hukum tukang becak yg akhirnya berlaku: murah kok njaluk selamat. He he he…ini fenomena saat ini
  • Ilham Akhsanu Ridlo Ya soal jampersal itu saya bisa memahami..tapi lain kata soal kapitasi lho.,qiqiqi..jampersal dlu pas kuliah sempet kita seminarkan dan kita bahas mmg bahas aspek politisnya, tetapi ya lagi2 nakes jasi korban kepentingan. Walaupun tujuannya baik sih…penguasa selalu diuntungkan.
  • M Atoillah Isvandiari saya kira msh ada kaitannya dg kapitasi. Krn dg besaran kapitasi yg digodog saat ini, maka dokter di yankes primer akan enggan menangani kasus2 selain “puskesmas”. (Pusing, kesel2, masuk angin, he he he maaf puskesmas ya) shg kasus rujukan dampaknya akan meningkat. Bukankah demikian?
  • Mohammad Dendi Priyono Wah makin panas aja obrolan Ilham Ridlo dan M Atoillah Isvandiari, sepertinya para stake holder bpjs aka saat ini PT Askes Persero dan Jamsostek kudu angkat bicara ini, hehehe …
    Karena setahu saya lho ya, dengan Askes Sosial aka Askes PNS yang selama ini exist dengan sistem kapitasi yang kurleb sama, para dokter GP udah berebut pengen jadi dokter keluarga, artinya sistem itu masih dianggap menguntungkan, apalagi buat dokter baru, bisa numpang promo juga tuh lewat jadi dokkel, apalagi ntar jadi bpjs yang open buat seluruh masyarakat Indonesia
  • M Atoillah Isvandiari Koreksi: bukan panas dan jangan dianggap panas lho. Ini critical appraisal, akademis. Woles aja kok
  • Ilham Akhsanu Ridlo Hehehe..woles aja deh..kita udah biasa ngomong ginian karena saya masih separoh akademisi..hihihi…
  • Ilham Akhsanu Ridlo Menggelitik untuk segera dibuat tulisan di blog pak
  • Mohammad Dendi Priyono Iyaa deh kak Ilham Ridlo dan bapak M Atoillah Isvandiari, hehehe ….
    Woles aja
    Just inpo aja sih, ada lho dengan kapitasi askes saat ini, dokkel sebulan bisa dapet 10jt, padahal kunjungan pasien sepi pake banget, dan saya yakin si dokter gak melakukan pra upaya apapun, dan harap dicatet juga, gak ada lho peserta asuransi manapun yang bercita-cita sakit, even masuk angin ataupun bapilnas aka batuk pilek panas, peace …..
  • Ken Srianawati gak mudeng omongane wong nduwuran. Saya yang didaerah hanya pelaksana,prajurit biasa. Hanya bisa senyum” baca tulisane ilham sama pak atok. Ngarasakne dadi wong cilik. Melihat langsung di lapangan tingkah polah temen” nakes. Tidak sesederhana teorinya.
  • Ilham Akhsanu Ridlo Apa yg bikin teori tidak sesederhana itu n bikin tulisan kami begitu tabu mbak Ken Srianawati?apanya kira2
  • Ken Srianawati lheehh…kok malih dadi tabu barang ki njur kepiye? lha wong seneng dapat pandangan baru kok mlah dikiro tabu. sepuntene nek ngoten…pissss
  • Ken Srianawati Kami disini mikirnya simpel aja kok pak atok. Ada program dari atas kami jalankan. Ada program baru kami laksanakan. Melayani dan membantu masyarakat pak,itu yang utama bagi kami.
  • Erna Waty ikuta dikit ya…: terkait kerjaan ‘preventif-promotif’ yang belum biasa dilakukan oleh masyarakat dan provider kesehatan….padahal sudah lamaaaaaa dikumandangkan apa yg disebut sbg paradigma sehat ya pak M Atoillah Isvandiari…..nah tahun depan, mau ga mau..kerjaan preventif-promotif ini harus digalakkan…kalo tidak dalam level mikro maka dokkel/puskesmas/dan provider yankes primer akan merugi…demikian juga dalam level meso dan makro akan terjadi kebangkrutan karena biaya kuratif yang membengkak
  • M Atoillah Isvandiari wah yang ditunggu tunggu cul muncul, bu Erna Waty…itu tadi yang saya tanyakan ke prof Ilham Akhsanu Ridlo. saya suka ide beliau…dengan catatan apa yang dikhawatirkan pak Arief Hargono pada diskusi di whatsapp tadi pagi tidak terjadi.
  • Erna Waty yang dikawatirkan pak Arief Hargono apa ya td sy lupa hehehe….setuju juga usulan Ilham Akhsanu Ridlo ttg pelibatan mhsw fkm, btw…. posisi mhsw fkm hanya ada di kota yg ada fkm-nya, so…sekali lagi mau tidak mau…semua provider yankes primer harus mulai membiasakan diri dg kerjaan promotif-preventif ini, bukan sebaliknya seenaknya main rujuk saja seperti pada kasus jampersal……harus ada punishment bagi provider yankes primer yg seenaknya main rujuk….di sisi lain ada standarisasi mutu untuk provider yankes primer..
  • M Atoillah Isvandiari Yang itu lho bu er: sedikit2 berobat, batuk pilek sedikit berobat, pegel linu sedikit berobat, masuk angin dikit berobat, dll, hanya karena “eman sdh bayar premi”. Penyakit ringan2 gini kan sulit managed carenya karena dasarnya memang hanya subyektifitas pasien dan krn mentang2 bayar premi. Nah bayar mhsw nya susah lha untuk operasional dan obat pegel linu itu aja udah jebol, ha ha ha..masak dari hasil panen buah naga?
  • Ilham Akhsanu Ridlo kenapa FKM tidak memikirkan konsep intership seperti yang dilakukan kawan2 FK? itu sangat produktif…dan revolusioner! hemattt sayaaa Erna Waty M Atoillah Isvandiari Saya dapat gelar Prof. Honoris Causa dari Prof. Atok..wahaha
  • M Atoillah Isvandiari Internship? Nggak salah baca ya saya…
  • Ilham Akhsanu Ridlo apalah itu…pokoknya setelah dapat gelar S.KM ada tawaran mendukung program pemerintah (JKN) memperkuat upaya preventif dan promotif..soal teknisnya ya Prof. M Atoillah Isvandiari yg tahu lah
  • Ken Srianawati Untuk upaya preventif promotif tingkat puskesmas, sebenarnya sudah dilaksanakan. Apalagi sejak ada program BOK sejak akhir 2010. Kalau sungguh sungguh dilaksanakan,kegiatan preventif promotif sudah menjangkau mulai dari tingkat individu hingga lintas sektor. Mulai dari kunjungan rumah hingga advokasi ke sektor lain terkait. Bahkan jika jatah dana BOK habis,kegiatan itu masih tetap dilaksanakan,entah itu gratisan atau dapat talangan dana operasional puskesmas selain BOK.
  • Erna Waty alhamdulillah atas berita baik dari mbak Ken Srianawati,…namun demikian mohon maaf kalau sy tetap ber-opini bahwa upaya preventif promotif selama ini masih kurang dari standard optimalnya…., semisal: sudah terbukti ada bbrp penyakit yg dipicu oleh faktor resiko merokok, maka provider yankes primer hendaknya mempunyai data sesiapa yg perokok diantara member-nya, lalu upaya prom-prev digencarkan pada kelompok ini. demikian pula misal untuk golongan obesitas pada membernya, dan juga pd kelompok faktor resiko lainnya….dan banyak hal lain lagi yang bisa dilakukan mestinya
  • Ken Srianawati wahhh..ide yang bagus bu erna. Saat ini untuk masalah rokok,masih dalam bentuk konseling berhenti merokok. Belum dibentuk per kelompok resiko. Spesial untuk rokok bu,susahnya minta ampun. Untuk sementara yang bisa dilakukan yaitu mencegah yang belum merokok jangan sampai jadi perokok. Sasarannya siswa SD,SMP,SMA.
  • Erna Waty ya…dimasa depan, pada era jkn…hal itu saja ..sangat belum cukup bila kita hendak mengubah budaya kuratif menjadi budaya prev, bila hendak mengubah paradigma sakit mjd paradigma sehat…
  • M Atoillah Isvandiari Ini bener2 nanya ya bu er; pra upaya itu disyaratkan secara hitam putih, kayak daftar tugas mahasiswa/internship gitu, agar dpt pembiayaan, atau hanya anjuran , dlm skema JKN itu? Atau sdh diatur dlm skema pembiayaan yg 19 rebu itu?
  • Erna Waty moga2 ga salah menangkap pertanyaannya pak M Atoillah Isvandiari:…..sdh ada aturannya pak!
  • Ilham Akhsanu Ridlo Ayooo apa perlu aku akhirnya bikin CV. Preventif dan promotif untuk “proyek besar” bernama JKN? Wkwkwk..nanti ada istilah prev n promotif di outsourching kan
  • Maya Sari Dewi nimbrung dikit.. mekanisme asuransi sosial yg dinilai cukup berhasil di inggris, utk meningkatkan gairah dokter keluarga, maka jika cakupan masy yg mjd tanggung jwbnya seluruhnya sehat atau minimal persentase yg sakit cukup sedikit, maka dlm kurun waktu setahun ybs mendpt insentif dr provider as.sosial, baik dokter keluarga maupun masy, dokkel jg wajib monev tiap individu yg mjd tanggung jwbnya, semakin sehat masy..smakin diuntungkan keduanya..paradigma sehat pun terwujud..meski tentu saja butuh waktu utk penataan sistem yg sempurna..jika tak dimulai sekarang, kapan lagi.. ^.^
  • Yogie Khrsna Arsana Bahasannya berat….saya numpang salam senyum aja…..
  • M Atoillah Isvandiari Panjang banged may, he he he..basically kita semua pasti memimpikan terwujudnya paradigma sehat…hanya memang seperti fakta malam ini, sampai saya menulis komen ini saya sedang istirahat setelah menerima pasien ke 30, dan 30%nya adalah pemegang asuransi dan dokkel, dan sekitar 45% nya adalah yg tidak sembuh setelah berobat di puskesmas…inilah yang membuat saya agak ragu tentang efektifnya managed care…tapi mudah2an kekhawatiran ini tidak terjadi
    • Maya Sari Dewi itulah knp hrs ada standarisasi mutu yg”benar” di smua level PPK. bukan “ISO2an”..hehehehe..kita baru mulai menata sistem..must be optimist..negara maju aja butuh wkt puluhan tahun pak..basically, mindset masy kita yg perlu diubah, bukan lg pelan2 tp scr radikal..cenderung merasa ‘rugi’ ga berobat krn uda byr premi, bukannya jaga hidup sehat..meski ga ada org yang mau ‘sakit’ meski cmn ‘puskesmas (minjem istilah pak atok)
    • M Atoillah Isvandiari Untuk itu Perlu juga sinergi dan kontribusi PHP (public health practitioners, bukan pemberi harapan palsu) yg optimal may, atau rekan rekan nakes “puasa” di awal2 program, seperti pada diskusi ini dg ilham di awal2 terkait kapitasi ini, krn -seandainya teman2 PHP ikut mengalami yg dialami di ujung2 tombak- masalahnya sangat kompleks. Karena itulah, walaupun saya PHP tapi krn juga ikut merasakan yg dirasakan teman2 nakes, menganggap wajar adanya kekhawatiran2 rekan2 nakes menjelang implementasi JKN ini
    • Maya Sari Dewi Nah, emangnya PHP bukan nakes ya..ato saya yg salah persepsi..maksudnya kan emang butuh sinergitas smua elemen, bukan hny tanggung jwb dokkel/perawat/bidan semata pak..hehehee..
    • Yogie Khrsna Arsana Sya lewat lagi sekali lempar senyum…agar suasana tetap adem
      Kesimpulannya:
      1. Perlu Sosialisasi lagi tentang konsep KAPITASI dengan para provider terutama PPK1
      2. BPJS Kesehatan harus bisa merespon kekhawatiran PPK1 dan menampung beberapa keluhan tentang keterbatasan sistem
      3. JKN harus tetap jalan di 2014 dengan rasa optimisme yang tinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.