Beda Generasi. Dr. Rahmat hargono,dr., MS.,MPH atau biasanya kami panggil “Bapak” adalah salah satu dosen ikon kami selama di FKM Unair. Begitu dekat dengan mahasiswa didiknya. Dan itu berlaku sampai sekarang. Mahasiswa datang dan pergi, dosen tetap disini. – at Fakultas Kesehatan Masyarakat

View on Path

#Diskusifacebookers: “Soal Kapitasi Rp. 19.XXX,00”

Tanggal 19 November kemarin saya menulis status di Facebook untuk memancing opini. Kali itu satu menulis seputar besaran Kapitasi dalam Jaminan Kesehatan Nasional 2014 besok. Berikut ini kurang lebih hasil diskusi dengan teman-teman saya:
Ilham Akhsanu Ridlo
Dengan kapitasi yang kurang lebih 19.000an sebenarnya anda sekalian sudah bisa “untung”…Dan cara berfikirnya bukan mencari untung lho, ingat kapitasi itu pra-upaya lho..Dan kapitasi itu bukan hitungan gaji anda… Continue reading #Diskusifacebookers: “Soal Kapitasi Rp. 19.XXX,00”

Melakukan ‘Fusion’ dengan Surabaya

image
Menjadi Peserta Foto Bercerita

Setelah 9 (sembilan) tahun tinggal di Surabaya akhirnya Minggu kemarin saya ikut menjadi bagian dari penyelenggaraan “Parade Surabaya Juang”. Tidaklah hal yang aneh bagi penduduk asli Surabaya bahwa acara ini merupakan acara wajib yang diadakan pemerintah kota untuk memperingati hari pahlawan 10 November.

Tidaklah perlu saya menceritakan lagi kenapa tanggal 10 November setiap tahun menjadi tanggal sakral bagi kota Surabaya. Ya, tanggal itu merupakan bentuk penghargaan terukur bagi perjuangan arek-arek Suroboyo (Red: Panggilan khas penduduk kota Surabaya) mempertahankan kemerdekaan dari jajahan Belanda (NICA) yang mendompleng Tentara Inggris yang berkeinginan melucuti tentara Jepang pasca kejadian Hiroshima-Nagasaki 14 Agustus 1945.

Jika ingin menjadi bagian dari suatu kota maka ketauhilah sejarah dan seluk beluk kota itu. Itu adalah kata bijak untuk saya. Dan apa hubungannya dengan Parade Surabaya Juang? Karena sebutan bahwa Surabaya adalah kota Pahlawan. Maka sebagai bentuk penyatuan saya terhadap kota ini maka sudah selayaknya saya berkunjung ke beberapa Museum kota. Termasuk Tugu Pahlawan dan Museumnya tidak terkecuali.

Museum sudah dikunjungi, berikut kawasan historial kota. Tapi saya rasa belum cukup. Dari tahun lalu saya sangat tertarik untuk ikut menjadi peserta parade. Ya dengan dandanan ala Bung Tomo atau Doel Arnowo. Hahahaha. Baru pada tahun ini keinginan saya terwujud. Bukan sebagai peserta parade tapi sebagai peserta lomba fotografinya.

Hobi fotografi memang menghadirkan nuansa tersendiri bagi hari-hari saya di Surabaya. Teman baru, persaudaraan, dan eksplorasi hal-hal baru. Membantu sekali memahami Surabaya secara keseluruhan. Lomba fotografi yang diadakan pemerintah kota Surabaya (Humas) ini memang diadakan tiap tahun selama acara Parade Surabaya Juang digelar. Hadiahnya lumayan banyak, dan kemarin kurang lebih ada 200 orang peserta dan 100 peserta pertama dapat jatah makan siang gratis. Saya kebetulan yang beruntung mendapat giliran nomor 91. Lumayan.

Sebagai seorang penghobi fotografi saya tidak banyak berharap muluk memenangkan lomba, karena tujuan awal saya hanya untuk merasakan atmosfer berbeda di acara itu. Dan pengalaman itu melebihi hadian jutaan rupiah yang dihadirkan panitia. Pengalaman dari sisi berbeda adalah saat harus berpakaian ala pejuang tempo dulu, meliput dan membuat foto cerita, berada di tengah peserta parade yang dilihat ratusan orang, berlarian mengambil angle dan harus berjalan beriringan dengan panser ANOA. Wah itu seru!

image
Bu Risma, menaiki panser Anoa

Kulit gosong adalah impact dari keseluruhan acara. Seperti yang semua tahu Surabaya adalah salah satu kota pesisir pantai yang udaranya panas. Pantas sajalah disebut Surabaya membara! Sore hari menjelang magrib menjadi batas selesainya acara parade. Dan lumayan capek karena berjalan dari Tugu Pahlawan sampai Taman Surya melewati Jl. Tunjungan. Lagi-lagi kata teman, itu semua gak akan kita lakukan kalau kita berjalan kaki sendirian. Apalagi dengan hunting foto.

Dan mengikuti acara-acara populer di Kota ini (Surabaya) entah sebagai apa adalah salah satu cara mendekatkan diri dan menyatukan diri sebagai penduduk kota. Jangan sampai kita sebagai penduduk (walaupun saya bukan orang asli Surabaya) tidak bisa merasakan dan menyatu dengan kotanya. Acuh tak acuh memangsalah satu sifat penduduk metropolis, tapi saya bukan salah satu dari mereka. Saya yakin kota ini menawarkan sikap egaliter yang menyenangkan.