Oktober Setahun Lalu

image
Rumah. Tidak masuk logika.

Di luar kontek adalah saat kita melakukan sebuah tindakan yang dipandang tidak lumrah atau kata anak sekarang adalah anti mainstream. Mungkin tulisan ini yang kiranya cukup mewakili bait pertama barusan.

Blog ini memang kemarin saya isi tentang beberapa hal yang membahas keilmuan saja. Tapi mulai tulisan ini dibuat nampaknya saya tepiskan segera.

Bulan ini adalah Oktober, setahuan yang lalu merupakan bulan yang berat bagi saya sebagai anak muda yang jauh dari rumah dengan sebutan rantau. Memang sih jaraknya tidak seperti saat Ikal dalam trilogi Laskar Pelangi merantau ilmu sampai Sorbonne, Perancis. Hanya sebatas Surabaya-Lamongan. Hehehe. Kenapa begitu berat? Karena saya harus memutuskan memilih untuk menetap atau menentukan untuk tinggal berdomisili. Surabaya. Kota ini yang 9 tahun terakhir ini kutinggali walaupun KTP saya masih Lamongan.

Banyak alasan memilih Surabaya sebagai tempat tinggal domisili saya. Selain karena saya sudah familiar dari sajian kulinernya (Tempe Penyet, Tahu Telor atau Rawon Setan dll.) dan tempat dimana Keilmuan dikembangkan, Kota Pahlawan ini adalah kota yang ideal menurut pemahaman pribadi saya. Tidak jauh dari Rumah Orang tua, Kota yang bersih dan teratur, Kehidupan masyarakatnya sangat egaliter diluar udara panasnya yang sangat khas.

Pergulatan dan timbang menimbang itulah nampaknya membuat saya memutuskan untuk memilih kata “Ya”. Ya, saya memutuskan menetap di Surabaya dan berkarir di sini. Keputusan itu sangat berdampak bagi kehidupanku. Dan kata orang semua hasil akhir adalah dimulai saat pertama kali kita memilih keputusan kita. Sebagai akibat keputusan saya tadi saya harus berfikir keras. “Bagaimana bisa kita dikatakan mentakdirkan diri tinggal menetap di Surabaya tanpa mempunyai tempat tinggal tetap?”

Ya, saya tidak punya keluarga di kota ini. Dan dari jaman SMP dulu saya sudah mencicipi kasur khas kost-kostan. Saya masih tinggal in the kost sampai tulisan ini dibuat. Oktober tahun lalu itu, yang menentukan. Saya akhirnya memilih mengkredit rumah sederhana.

Nekat. Ya, itulah. Prinsip saya mumpung masih muda, nampaknya harus bekerja keras dan ekstra berhemat apalagi saat keputusan untuk menetap di Kota Surabaya sudah dipilih. Bagi saya membeli rumah itu merupakan hal yang baru. Mulai memberanikan diri membayar Tanda Jadi yang hanya dengan bekal sisa tabungan. Dan mencicil Uang Muka yang menurut saya konyol, karena kalau dipikir saya tidak punya uang sebanyak itu. Dan pada satu kesimpulan saya Nekad!

Sampai keputusan untuk membeli tipe juga bisa dibilang juga Nekad bagi seorang yang penghasilan tidak banyak seperti saya. Saya kadang berfikir manusia itu hanya butuh keberanian. Dan sedikit usaha. Karena saat itu sudah dilakukan, kita hanya butuh pasrah pada Alloh SWT. Dia-lah yang membuka pintu-pintu penyelesaian segala urusan manusia. Itu juga berlaku dalam pengurusan KPR, SHM sampai notaris. Semua terjadi dengan mulus seolah-olah sesuai rencana. Soal ini doa orang tua di rumah sepertinya pendorongnya.

Sekarang, sudah lewat setahun. Dan baru bisa terasa dan jika dipikir tentang apa yang saya lakukan dulu sepertinya tidak bisa dan tidak masuk dilogika. Tapi saya jadi sangat sadar kalau itu adalah sebagai buah dari usaha yang nekat dan do’a.

Ya, tulisan ini tidak berarti apa-apa, karena setelah ini blog saya ini akan saya isi juga tentang beberapa hal perjalanan hidup dan berharap awal tahun 2014 saya menulis blog dari rumah tinggal yang Nekat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.