Gotong Royong untuk 86,4 Juta Orang Miskin

Catatan Dahlan Iskan

Senin, 21 Oktober 2013

Pagi ini di Sukabumi seluruh direktur utama BUMN berkumpul. Di Sukabumi mereka membubuhkan tanda tangan pertanda ikut gotong royong. Mengikutkan seluruh karyawan dan keluarga mereka ke program BPJS Kesehatan.

Bapak Presiden SBY hadir di acara ini. Beliau tidak hanya menyaksikan. Beliau ingin program bersejarah yang terjadi di era kepemimpinan beliau ini sukses.

BPJS memang akan mengubah sistem jaminan kesehatan nasional. Tahun pertama baru menyangkut 86,4 juta orang. Tapi, inilah dasar yang kukuh untuk sistem kesehatan negara modern nanti.

Karyawan BUMN dan keluarganya tidak termasuk yang 86,4 juta itu. Keikutsertaan BUMN bisa menambah kualitas layanan untuk yang 86,4 juta orang itu.

Siapakah 86,4 juta orang itu? Mereka adalah rakyat miskin dan hampir miskin. Mulai 1 Januari 2014, kesehatan mereka ditanggung pemerintah. Melalui layanan Askes yang berganti nama BPJS Kesehatan.

Baru kali ini terjadi dalam sejarah Republik Indonesia pengobatan untuk seluruh orang miskin dan hampir miskin ditanggung oleh…

View original post 364 more words

SURVIVOR

image
Pak Mo melestarikan masa lalu

SURVIVOR. Satu dari beberapa “survivor” peradaban adalah Pak Mo. Ditengah gempuran Permen atau manisan impor dari China dan pabrikan kembang gula modern, dia masih tetap menjajakan “Harum Manis” lokal sampai sekarang. Jika dilihat ada yang khas dari para penjual kudapan tradisional ini yaitu alat musik gesek yang biasa disebut “Ngik Ngok”. Kenapa begitu? Karena bunyinya ngik ngok, jauh dari kesan suara biola. Tetapi khas! Sampai kapan bertahan? Sampai Pak Mo dan teman-temannya kuat berjalan dan pembeli masih bertahan dengan ingatan masa kecil. The Netizen Journal/iaridlo.

Oktober Setahun Lalu

image
Rumah. Tidak masuk logika.

Di luar kontek adalah saat kita melakukan sebuah tindakan yang dipandang tidak lumrah atau kata anak sekarang adalah anti mainstream. Mungkin tulisan ini yang kiranya cukup mewakili bait pertama barusan.

Blog ini memang kemarin saya isi tentang beberapa hal yang membahas keilmuan saja. Tapi mulai tulisan ini dibuat nampaknya saya tepiskan segera.

Bulan ini adalah Oktober, setahuan yang lalu merupakan bulan yang berat bagi saya sebagai anak muda yang jauh dari rumah dengan sebutan rantau. Memang sih jaraknya tidak seperti saat Ikal dalam trilogi Laskar Pelangi merantau ilmu sampai Sorbonne, Perancis. Hanya sebatas Surabaya-Lamongan. Hehehe. Kenapa begitu berat? Karena saya harus memutuskan memilih untuk menetap atau menentukan untuk tinggal berdomisili. Surabaya. Kota ini yang 9 tahun terakhir ini kutinggali walaupun KTP saya masih Lamongan.

Banyak alasan memilih Surabaya sebagai tempat tinggal domisili saya. Selain karena saya sudah familiar dari sajian kulinernya (Tempe Penyet, Tahu Telor atau Rawon Setan dll.) dan tempat dimana Keilmuan dikembangkan, Kota Pahlawan ini adalah kota yang ideal menurut pemahaman pribadi saya. Tidak jauh dari Rumah Orang tua, Kota yang bersih dan teratur, Kehidupan masyarakatnya sangat egaliter diluar udara panasnya yang sangat khas.

Pergulatan dan timbang menimbang itulah nampaknya membuat saya memutuskan untuk memilih kata “Ya”. Ya, saya memutuskan menetap di Surabaya dan berkarir di sini. Keputusan itu sangat berdampak bagi kehidupanku. Dan kata orang semua hasil akhir adalah dimulai saat pertama kali kita memilih keputusan kita. Sebagai akibat keputusan saya tadi saya harus berfikir keras. “Bagaimana bisa kita dikatakan mentakdirkan diri tinggal menetap di Surabaya tanpa mempunyai tempat tinggal tetap?”

Ya, saya tidak punya keluarga di kota ini. Dan dari jaman SMP dulu saya sudah mencicipi kasur khas kost-kostan. Saya masih tinggal in the kost sampai tulisan ini dibuat. Oktober tahun lalu itu, yang menentukan. Saya akhirnya memilih mengkredit rumah sederhana.

Nekat. Ya, itulah. Prinsip saya mumpung masih muda, nampaknya harus bekerja keras dan ekstra berhemat apalagi saat keputusan untuk menetap di Kota Surabaya sudah dipilih. Bagi saya membeli rumah itu merupakan hal yang baru. Mulai memberanikan diri membayar Tanda Jadi yang hanya dengan bekal sisa tabungan. Dan mencicil Uang Muka yang menurut saya konyol, karena kalau dipikir saya tidak punya uang sebanyak itu. Dan pada satu kesimpulan saya Nekad!

Sampai keputusan untuk membeli tipe juga bisa dibilang juga Nekad bagi seorang yang penghasilan tidak banyak seperti saya. Saya kadang berfikir manusia itu hanya butuh keberanian. Dan sedikit usaha. Karena saat itu sudah dilakukan, kita hanya butuh pasrah pada Alloh SWT. Dia-lah yang membuka pintu-pintu penyelesaian segala urusan manusia. Itu juga berlaku dalam pengurusan KPR, SHM sampai notaris. Semua terjadi dengan mulus seolah-olah sesuai rencana. Soal ini doa orang tua di rumah sepertinya pendorongnya.

Sekarang, sudah lewat setahun. Dan baru bisa terasa dan jika dipikir tentang apa yang saya lakukan dulu sepertinya tidak bisa dan tidak masuk dilogika. Tapi saya jadi sangat sadar kalau itu adalah sebagai buah dari usaha yang nekat dan do’a.

Ya, tulisan ini tidak berarti apa-apa, karena setelah ini blog saya ini akan saya isi juga tentang beberapa hal perjalanan hidup dan berharap awal tahun 2014 saya menulis blog dari rumah tinggal yang Nekat itu.