Grow with Passion (3/30): “Ilhamnya sekarang sudah bertambah”

image

“Ilhamnya sekarang sudah bertambah”, itulah kata dari Beliau disaat saya dan empat orang teman satu bimbingan dinyatakan lulus sidang Tesis 2 tahun yang lalu. Mungkin semua mengatakan iya dan sepakat memanggil Guru kami itu dengan panggilan yang sederhana yaitu Pak Wid, atau semua orang pasti mengenalnya dari sisi brand identity dengan WJP (W7P). Pak Wid punya brand dan itu sangat melekat di benak kami. Bahkan brand seperti itu yang coba dicontoh beberapa dosen lainnya.

Saya pertama kali mengenal beliau saat S1 di FKM dulu, Pada waktu beliau masih menjabat Pembantu Dekan I (Bagian Akademik dan Kurikulum) di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair. Interaksi pertama kali dengan beliau terjadi saat saya aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Segar diingatan Pak Wid adalah satu sosok dosen yang sangat berkarisma di mata para aktivis kampus. Bagaimana tidak saat teman-teman diminta untuk menjemput beliau di ruang Dekanat karena ada acara Diskusi Mahasiswa semuanya mengurungkan diri bukan karena takut tetapi ‘grogi’. Akhirnya yang diminta menjemput beliau saat itu adalah saya. Itulah interaksi pertama saya yang sampai saat ini memberikan kesan kalau Beliau seorang Guru yang sangat berkarisma.

Begitu juga ketika saya menjadi murid Beliau di S2 Manajemen Kesehatan. Terlebih yang berkesan saat saya menjadi anak bimbing beliau pada tesis. Alhamdulillah kami melalui proses itu dengan baik. Itu semua karena konsistensi beliau untuk menyemangati anak bimbingnya agar mempunyai timeline yang terencana dan setiap proses konsultasi selalu harus ada target. Itu semua menjadikan saya dan teman-teman satu bimbingan menjadi “sedikit” kalang kabut dan harus memprioritaskan studi tesis kami. That’s point, itulah enaknya dibimbing oleh Pak Wid. Testimoni ini tidak cukup menggambarkan kebanggaan, kecintaan dan rasa hormat saya untuk Pak Wid.

Saya pribadi lebih suka memanggil beliau dengan sebutan “Guru” daripada “Dosen” karena bagi saya Pak Wid tidak sekedar Dosen yang mengajar matakuliah kepada mahasiswa. Beliau adalah Guru yang mampu menjadi inspirasi kepada saya selama beliau bimbing dari S1 sampai S2. Memberikan kail dan umpan bukan ikan. Menjadikan anak bimbingnya sebagai tokoh sentral yang bertanggungjawab pada setiap proses keberhasilannya, bukan dirinya. Proses yang utama. Mengharukan sekali tidak menjumpai beliau di dunia akademisi seperti pada kondisi normal, tapi secara personal saya masih berharap jika berjumpa lagi utamanya di Institusi Perumahsakitan beliau masih ingat dengan saya dan akan selalu bertanya “Gimana Pak Ilham, apakah sudah dapat Ilham?” karena kata itulah yang membuat saya termotivasi sampai sekarang.

2 thoughts on “Grow with Passion (3/30): “Ilhamnya sekarang sudah bertambah”

    • Betul sekali mbak.. Beliau adalah seorang Guru buat kami. Dan saat purna tugas September nanti rasanya belum ada yg menyamai sosok beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.