Struktur Pembiayaan Kesehatan Masyarakat di Era BPJS (2014)

bpjs

Seperti yang sebelumnya kita ketahui bahwa mulai tahun 2014 terjadi perubahan yang fundamental dan agaknya radikal terhadap sistem pembiayaan kesehatan. Bagaimana tidak seluruh rakyat Indonesia niscaya akan dicover dalam tajuk National coverage. Saya tidak perlu lagi menjelaskan tentang itu, mungkin ada baiknya anda melihat di posting saya sebelumnya.

Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti salah satu seminar tentang sistem rujukan kesehatan dalam menghadapi BPJS yang diadakan oleh teman-teman S2 AKK FKM Unair, dari beberapa materi yang disampaikan oleh pembicara saya agaknya lebih tertarik oleh closing statement yang dibawakan oleh Bapak Widodo J. P yang juga mantan dosen pembimbing tesis saya.

Beliau membuat analisa perkiraan yang dituangkan dalam infografis, seperti diagram diatas.

Dari grafis diatas dapat dilihat beberapa segmentasi kelas sosial yang dikategorikan kelas atas, mewah, menengah, Mendekati Miskin, Miskin dan Sangat Miskin. Berikut dengan pasangan sistem pembiayaannya saat ini.

Dilihat dari grafis tersebut bahwa kelompok kelas sosial atas dengan sistem out of pocket memegang piramida atas. Dibawahnya kelas mewah dengan pembiayaan asuransi swasta. Nah kelompok menengah yang didominasi oleh kalangan pegawai negeri, TNI dan swasta hingga ke kelas sangat miskin nampaknya akan menjadi pekerjaan pemerintah yang sangat krusial mengingat kelompok ini yang menjadi aktor dan objek sistem pembiayaan kesehatan ke depan. Karena di kelompok ini masih sangat tergantung pada sistem.

Pada kelas majority (umum) di infografis diatas saya membayangkan khususnya kelompok Mendekati miskin sampai dengan sangat miskin menjadi beban silang yang patut diperhatikan.

Nah bagaimanakah nantinya tentu skenario tentang transformasi pembiayaan kesehatan sudah diatur. Tinggal bagaimana penggabungan antara kebijakan, aktualisasinya serta pengendaliannya bisa berjalan bersama.

Dan tak lupa juga yang terpenting adalah akses!

Karena kelas sosial Mendekati Miskin, Miskin dan Sangat Miskin mempunyai penyebaran yang ekstrim dan dari segi kuantitas masih menjadi majority di negeri ini.

Bagaimana bisa RUANG GERAK ROKOK terbatas?

Image

Beberapa waktu yang lalu tepatnya hari rabu tanggal 9 Januari 2013 salah satu teman di Kementrian Kesehatan memposting pemberitahuan tentang Terbitnya Peraturan Pemerintah No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Sontak saya kaget.

Kekagetan saya bukan karena “surprise” karena akhirnya PP ini disahkan, tetapi lebih karena kenapa baru sekarang? Sewaktu saya masih di bangku perkuliahan dulu draft mengenai Peraturan Pemerintah ini menjadi pertentangan bak lingkaran setan. Tapi buang saja pendapat saya barusan, Toh pada akhirnya kemarin Presiden SBY sudah menekennya. 24 Desember kemarin SBY “diam-diam” sudah menekennya. Pemberlakuan PP ini berlaku efektif 18 Bulan lagi. Berarti juga 18 bulan lagi masih ada persiapan untuk melakukan langkah antisipatif entah di pihak yang pro maupun kontra.

Butuh setidaknya 3 tahun bagi pemerintah untuk menimbang-nimbang desakan para aktivis anti rokok untuk meneken Peraturan Pemerintah. Seperti pernyataan Ketua Umum Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Prijo Sidipratomo yang dikutip jadi Jawa Pos kemarin bahwa walaupun tertatih-tatih, akhirnya Indonesia masuk ke negara yang beradap karena sudah mempunyai Peraturan Pemerintah yang mengatur pengendalian rokok.

Beberapa salinan penting mengenai PP No.109 tahun 2012 adalah bahwa produk tembakau wajib mencantumkan peringatan kesehatan, informasi mengenai kadar nikotin dan tar sesuai hasil pengujian, dilarang memuat kata-kata promotif rokok.

Melihat angka total produksi rokok 2010-2012 dari 249,1 miliar batang menjadi 263 miliar batang pada tahun kemarin. Memang Pemerintah harus rela dan berani untuk mengambil kebijakan non populis macam ini.

Untuk lebih jelas mengenai Peraturan Pemerintah ini bisa didownload disini

Saya jadi bergumam, semoga saja saya tahun ini melihat bungkus rokok sudah memuat gambar-gambar yang menyeramkan seperti di posting blog saya sebelumnya yang memuat kebijakan mengenai bungkus rokok di Australia. Dan saya tidak lagi menjumpai baliho besar di jalan raya yang dikuasai media media provokatif industri rokok.

Semoga…

 

New Public Health Blog from PLOS blogs!

Public Health Science Communication 2.0

I can’t believe that this is my post number 101. Actually, I had planned to do something special with blog post no. 100, but I only realised that it was my anniversary post when it was published. So the celebration will have to wait for post number 500.

However, post number 101 can also be special and actually I think the topic is quite appropriate: A public health science blog hosted by PLOS blogs has arrived! It is simply called ‘Public Health‘ and has five contributors coming from different backgrounds but all with an interest in Public Health.

PLOS Blogs public healthThe blog looks very promising and the posts currently posted are well written and interesting. I look forward to following the blog and hope for many discussions.

Public Health 2.0

Not surprisingly, I am especially happy to see that the topic of social media and public health is discussed on…

View original post 275 more words