Pertemuan Singkat dengan Mas Dono Widiatmoko

Sebenarnya perjumpaan kami tidak direncanakan sebelumnya. Ya kemarin saat HUT ISMKMI (Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia) Nasional yang ke 21 yang kebetulan diadakan di Surabaya disitulah kami berjumpa. Di acara itu sebetulnya pada malam hari ada acara sharing Alumni dan memang kebetulan saya juga hadir. Tapi perjumpaan kami dengan Mas Dono kemarin keesokan harinya dan diluar jam yang sudah ditentukan panitia.

561097_10200182775074852_2091258775_n
Ki-Ka: Nilna (Sekjen ISMKMI), Arifi (Alumni ISMKMI), Rachmad Pg (Mantan Sekjen ISMKMI), Dono Widiatmoko

Sebelum saya menceritakan perihal pertemuan saya, mungkin kawan-kawan bertanya “Siapakah mas Dono?”

Dono Widiatmoko begitulah nama panjangnya. Saat ini beliau tinggal di Inggris (UK) sebagai Senior Lecturer in Evidence-Based Practice and Health Economics. School of Health and Social Care, Teesside University, Middlesbrough. Kalau mau tahu lebih banyak kawan-kawan bisa langsung saja ketik namanya di mesin pencari online google.

Nah, saya mulai menyambung paragraf pertama tadi. Mas Dono memang datang ke acara HUT ISMKMI di Surabaya kemarin karena beliau adalah salah satu pendiri dan pencetus pergerakan senat mahasiswa kesehatan masyarakat Indonesia. Kiprahnya diawali saat menjadi mahasiswa di jurusan FKM di Universitas Indonesia angkatan 1989 dan lulus 1994. Saat kemarin tidak ada agenda khusus memang untuk mengundang beliua ke Surabaya. Karena memang kita tahu kalau mas Dono sedang di UK. Tapi ternyata Alloh berkata lain, pada hari-hari terakhir menjelang acara, panitia di beri kabar bahwa dia bisa meluangkan waktunya untuk mampir ke Surabaya. Ya, kemarin mas Dono pulang ke Indonesia karena ada keperluan keluarga di tanah kelahirannya di Gunung Kidul, Jogja. Diluangkanlah waktunya untuk tidak langsung ke Jogja melainkan dari Jakarta ke Surabaya via pesawat terbang. Setelah dari Surabaya barulah sorenya dia bertolak ke Jogja via Kereta Api.

Sekitar jam 14.00 WIB Mas Dono (begitulah kami memanggil) sudah sampai di penginapan peserta di Mess Atlit KONI setelah dijemput di Juanda oleh panitia. Sekitar jam segitu saya langsung ke tempat acara karena sudah di SMS oleh Panitia. Sebelumnya saya sudah punya bayangan tentang sosok mas Dono seperti yang diceritakan Mas Rachmad Pg (Mantan Sekjen ISMKMI), pasti mas Dono ini “sok” british dan bla bla bla. Namun semua itu tidak terbukti, mas Dono sangat bersahaya bahkan kalau orang melihatnya tidak mengetahui kalau beliau adalah staf pengajar di Teesside University dan mengawali karirnya dengan sederet pengalaman beasiswa di UK.

Saat itu langsung kami jadwalkan untuk mengumpulkan adik-adik ISMKMI wilayah di ruangan tengah dengan lesehan. Kebetulan mas Dono ditemani mas rachmad pg dan saya. Setelah berkumpul maka Arifi memoderasi sharing sore itu dengan ringkas karena jam 18.00 harus ke stasiun Gubeng untuk ke Jogja.

Pertama mas Dono menceritakan pengalamannya semasa kuliah dan jaman pergerakan. Begitu memotivasi kawan-kawan dengan gaya bahasa yang memang agak sedikit berubah walaupun dia orang Jawa asli. Logatnya khas in English yang British. Dia menceritakan bahwa dia adalah satu dari beberapa orang yang beruntung. Mas Dono dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan, tapi pada kondisi itu tidak membuat dia berada pada posisi comfort zone. Setelah lulus kuliah di UI pengalaman beliau diawali semasa menjadi dosen honorer dan asisten peneliti dosen di UI. Berbagai opportunity didapatkan disitu.

Tahun 1994 adalah tahun yang mengawali langkahnya dalam studi lanjutannya di University of York dengan kajian Health Economics. Perlu diketahui ternyata mas Dono sewaktu S1 bukanlah mahasiswa peminatan AKK (administrasi Kebijakan Kesehatan), tetapi mahasiswa peminatan K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja). Dalam benaknya kemarin mas Dono memaparkan alasannya kenapa dia banting minat. Salah satu alasannya adalah karena dia melihat Public Health sebagai kajian yang holistik dan luas (Multi sektor) dan ditambahi dengan opportunity beasiswa dan sewaktu di UI dia banyak di area AKK makan pilihan itu dia pilih.

Mengenai beasiswa mas Dono banyak memberikan semangat kepada kami. Bagaimana sebuah mimpi itu bisa menjadi kenyataan dan kesempatan tidak ada satupun yang tahu. Dia mencontohkan dirinya sendiri saat penerima beasiswa S2 nya di University of York, jadi ada 5 kursi waktu itu. 2 kursi diambil mahasiswa dari Inggris, 1 dari Jerman, 1 untuk mas Dono, dan 1 lagi tebak siapa yang dapat? ya 1 orang lagi dari Indonesia. Berbagai cerita yang memotivasi kami diceritakan dengan gayanya yang cerdas dan humoris.

Mimpi, harus berani bermimpi itu kata mas Dono. jangan sampai bermimpi saja kita tidak bisa. Kesempatan itu juga faktor lain dari kesuksesan (beasiswa).

Ya sebenarnya ceritanya masih banyak yang belum tersampaikan di sini. Mungkin kawan-kawan bisa kontak langsung dengan beliau via Twitter: @donowidiatmoko atau sosial media lain dengan nama akun Dono Widiatmoko. Saya yakin beliau sangat senang dan terbuka.

2 thoughts on “Pertemuan Singkat dengan Mas Dono Widiatmoko”

  1. beliau memberikan inspirasi kita makna dari sebuah organisasi dan tujuan dari oraganisasi ini, saya sangat senang dapat melihat sosok beliau dari tulisan ini. terima kasih mas ilham.

    salam Tri Murti, Kaltim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.