dr. Soebandi, Kepala Staf Resimen 40 Damarmulan Divisi VIII Damarwulan

Mungkin nama ini tidak asing saat kita berkunjung di kota Jember, terutama bagi yang pernah juga dirawat atau berobat ke RSUD Jember. Karena memang nama dr. Soebandi menjadi nama resmi Rumah Sakit tersebut, seperti RSUD dr. Soetomo dan lainnya. Namun ada beberapa hal yang ingin saya bagi kepada teman-teman soal siapakah dr. Soebandi. Ya seorang tentara yang seorang dokter.

Kemudian nama dr. Soebandi juga tidak bisa dilepaskan dari sosok Direktur RS Bedah Surabaya dr. Widorini Sunaryo, M.ARS yang kebetulan juga direktur saya sendiri. Ya Bu rini (saya biasanya memanggilnya) adalah anak dari dr. Soebandi. Banyak yang bisa saya bagi lewat penuturan langsung dari beliau seputar sepak terjang Ayahandanya di medan pertempuran selama masa agresi Belanda I dan II.

Baiklah kurang lebih saya akan tulis penuturan dari Bu rini..

Bukan hal yang mudah bagi bu Rini untuk membuat dan menjelaskan cerita tentang sang ayah karena saat itu beliau masih kecil. Yang bu Rini ingat karena cerita-cerita dari kakaknya ibu Widiyastuti. Bu rini adalah anak terakhir dari 3 bersaudara (Widiyastuti, Widiyasmani, Widorini).

Di era itu, dia bersama saudara dan sang ibu, almarhum Rr Soekesi hampir tidak pernah bertemu dengan sang kepala keluarga. “Waktu itu, bapak banyak di-front pertempuran, Jarang sekali pulang” kenangnya.

Dalam masa peperangan di era agresi I dan II, memanglah masa yang penuh keprihatinan. Masih diingatnya pada masa itu ketika, Soebandi bersama Brigade III Damarwulan diminta hijrah ke Blitar, dia bersama saudara dan sang ibu hanya bisa mendoakan dari Jember. Bahkan pada saat itu keluarga tidak pernah mendengar kabar dari Ayahanda. Dengan pertimbangan khusus maka Ibunda Soekesi nekat pergi menyusul ke Blitar bersama kakak-kakaknya dan dia.

Di Blitar, akhirnya mereka berjumpa, tapi tidak berselang lama kebersamaan itu harus ditinggalkan saat dr. Soebandi diminta bergabung bersama Brigade III Damarwulan. Saat itu dr. Soebandi menjabat sebagai kepala dokter dan merangkap sebagai Residen Militer Daerah Besuki. Selanjutnya, rombongan ini diminta kembali bertugas di Jember. Tak mau mempersulit keluarganya, Soebandi meninggalkan Soekesi dan tiga anaknya di Blitar.

Dalam pertempuran bersama Letkol Sroedji di Desa Karangkedawung, Kecamatan Mumbulsari, akhirnya Alloh SWT menjemput dr. Soebandi. Jenasahnya diketemukan di Sawah. Dan masih dingat oleh Widorini menurut penuturan kakaknya bahwa keluarga baru mengetahui kepastian bahwa Soebandi telah gugur di medan juang satu tahun kemudian.

“Kami baru diberi tahu setelah jenasah ditemukan. Tidak ada pejuang teman bapak, yang berani memberitahu. Kabar itu kami terima setelah bapak meninggal satu tahun,” itu menurut penuturannya.

Kemampuan Soebandi sebagai pejuang dan dalam bidang kedokteran memang sangat membantu satu sama lainnya. Dilahirkan di Klakah, Lumajang, pada 17 Agustus 1917, Soebandi termasuk orang yang beruntung di zaman itu. Putra pertama dari dua bersaudara ini, berhasil masuk di Ika Daigoku (sekolah kedokteran di Jakarta). Sebelumnya, dia mengikuti pendidikan di HIS, MULO, dan NIAS.Setelah lulus dari Ika Daigoku pada 12 November 1943, Soebandi melanjutkan pendidikannya di Pendidikan Eise Syo Dancho. Selanjutnya, setelah lulus, dia diangkat sebagai Eise Syo Dancho. Yang kemudian di tempatkan di Daidan Lumajang. Pada saat itu, selain sebagai tentara, Soebandi juga bertugas sebagai dokter tentara. Ketika PETA dibubarkan pada 19 Agustus 1945 karena Jepang menyerah pada Sekutu, dia ditugaskan di RSU Probolinggo sebagai dokter.

Pada waktu pembentukan BKR, Soebandi yang sudah berpangkat letnan kolonel dipanggil ke Malang. Di sana dia ditugaskan menjadi dokter di RST Claket Malang dengan pangkat kapten. Ketika BKR diubah menjadi TKR pada 5 Oktober 1945 dan berubah menjadi TRI , dia diberi pangkat mayor.

Pada masa Agresi militer pertama, tahun 1946, Soebandi kembali ditugaskan ke Jember. Dia yang ditugaskan sebagai kepala DKT dengan pangkat Mayor, dipindahkan ke resimen IV Divisi III, yang kemudian berubah menjadi Resimen 40 Damarwulan Divisi VIII.

Pada rentang 1945-1947, Soebandi banyak bertugas di front pertahanan Surabaya selatan, Sidoarjo, Tulangan Porong, dan Bangil. Bahkan, pernah ditugaskan di front pertahanan Bekasi Jawa Barat sebagai dokter perang. Pada tahun 1947, setelah tentara Belanda menduduki Jember, dia pernah ditangkap dan dijadikan tahanan kota. Karena terpergok menolong seorang prajurit yang terluka di DKT.

Ya, kurang lebih begitu penuturan Bu Rini dan sumber lain yang memperkuat tulisan saya. Dengan mata berkaca-kaca beliau mengingatkan kepada teman-teman di Rumah Sakit yang beliau pimpin saat ini RS Bedah Surabaya, bahwa perjuangan para pahlawan yang sedemikian beratnya dulu, harus kita hargai dengan penuh semangat. Termasuk dalam bekerja di lingkungan Institusi sosial kesehatan seperti Rumah Sakit beliau juga berpesan “bekerja harus ikhlas”. Itulah yang juga menjadi alasan bagi Bu Rini untuk memilih menjadi seorang dokter dan Direktur Rumah Sakit.

———————————————–

Referensi:

Penuturan dr. Widorini Sunaryo, M.ARS (Direktur Rumah Sakit Bedah Surabaya)

http://arl.blog.ittelkom.ac.id/blog/2010/05/dr-soebandi-kastaf-resimen-40-damarwulan-divisi-viii-damarwulan/

http://sejarah.kompasiana.com/2012/10/07/dr-soebandi/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.