“Sanitation is more important than independence“

“Sanitation is more important than independence“

Ungkapan tersebut tidak main-main dilontarkan oleh seorang Mahatma Gandhi, 1925. Ya kalau diartikan bahwa Sanitasi (Kebersihan) lebih utama daripada sebuah kemerdekaan. Kenapa?

Menurut saya sangat beralasan Gandhi 87 tahun yang lalu melontarkan itu. jika kita pikirkan lebih dalam bahwa masalah Sanitasi memiliki hubungan yang kuat tidak hanya pada kebersihan pribadi (Self Hygiene) tetapi juga tentang martabat manusia dan kesejahteraan masyarakat bahkan pendidikan. Gandhi membuat kebersihan dan sanitasi merupakan bagian integral dari cara hidupnya. Bahkan pada tahun yang sama dia memimpikan sanitasi total untuk semua (India).

Sanitasi adalah salah satu cara termudah dan pertama menyelamatkan masyarakat dari berbagai ancaman penyakit menular (mewabah). Hal ini menyangkut juga tentang sebuah local wisdom yang nantinya menjadi sebuah kebiasaan. Nah cara pandang kebiasaan itu bisa berbeda-beda di masyarakat.

Dengan sanitasi juga kehidupan anak di dunia bisa diselamatkan setiap 20 detiknya, jika air minum didapat dengan cara yang aman dan sanitasi dasar yang tersedia sangat baik. Bayangkan! Peningkatan kualitas sanitasi ini juga bisa mengurangi 80% dari semua penyakit. Terlebih lagi itu bisa menyelamatkan nyawa manusia per tahun lebih banyak daripada kematian karena perang.

Perbaikan kesehatan tentang Sanitasi dan kualitasnya akan memungkinkan sebuah masyarakat dengan gaya hidup yang lebih bermartabat, generasi yang berkualitas. Dan tidak lupa Quality of Life akan lebih baik.

Buang air besar dan kecil juga merupakan kebutuhan dasar manusia seperti halnya makan, minum, tidur atau bernapas. Setiap manusia harus mampu memenuhi kebutuhan dasar yang bermartabat. Sudah saatnya kita menyadari potensi sanitasi yang berkualitas bagi pembangunan manusia. Sudahkah anda menjadi bagian dari kampanye besar untuk kualitas Sanitasi yang lebih baik? Dimulai dari diri sendiri, dari yang terdekat, dari keluarga!

Dan Akhirnya saya menyampaikan Selamat Hari Toilet Sedunia (World Toilet Day) 2012. 19 November 2012.

dr. Soebandi, Kepala Staf Resimen 40 Damarmulan Divisi VIII Damarwulan

Mungkin nama ini tidak asing saat kita berkunjung di kota Jember, terutama bagi yang pernah juga dirawat atau berobat ke RSUD Jember. Karena memang nama dr. Soebandi menjadi nama resmi Rumah Sakit tersebut, seperti RSUD dr. Soetomo dan lainnya. Namun ada beberapa hal yang ingin saya bagi kepada teman-teman soal siapakah dr. Soebandi. Ya seorang tentara yang seorang dokter.

Kemudian nama dr. Soebandi juga tidak bisa dilepaskan dari sosok Direktur RS Bedah Surabaya dr. Widorini Sunaryo, M.ARS yang kebetulan juga direktur saya sendiri. Ya Bu rini (saya biasanya memanggilnya) adalah anak dari dr. Soebandi. Banyak yang bisa saya bagi lewat penuturan langsung dari beliau seputar sepak terjang Ayahandanya di medan pertempuran selama masa agresi Belanda I dan II.

Baiklah kurang lebih saya akan tulis penuturan dari Bu rini..

Bukan hal yang mudah bagi bu Rini untuk membuat dan menjelaskan cerita tentang sang ayah karena saat itu beliau masih kecil. Yang bu Rini ingat karena cerita-cerita dari kakaknya ibu Widiyastuti. Bu rini adalah anak terakhir dari 3 bersaudara (Widiyastuti, Widiyasmani, Widorini).

Di era itu, dia bersama saudara dan sang ibu, almarhum Rr Soekesi hampir tidak pernah bertemu dengan sang kepala keluarga. “Waktu itu, bapak banyak di-front pertempuran, Jarang sekali pulang” kenangnya.

Dalam masa peperangan di era agresi I dan II, memanglah masa yang penuh keprihatinan. Masih diingatnya pada masa itu ketika, Soebandi bersama Brigade III Damarwulan diminta hijrah ke Blitar, dia bersama saudara dan sang ibu hanya bisa mendoakan dari Jember. Bahkan pada saat itu keluarga tidak pernah mendengar kabar dari Ayahanda. Dengan pertimbangan khusus maka Ibunda Soekesi nekat pergi menyusul ke Blitar bersama kakak-kakaknya dan dia.

Di Blitar, akhirnya mereka berjumpa, tapi tidak berselang lama kebersamaan itu harus ditinggalkan saat dr. Soebandi diminta bergabung bersama Brigade III Damarwulan. Saat itu dr. Soebandi menjabat sebagai kepala dokter dan merangkap sebagai Residen Militer Daerah Besuki. Selanjutnya, rombongan ini diminta kembali bertugas di Jember. Tak mau mempersulit keluarganya, Soebandi meninggalkan Soekesi dan tiga anaknya di Blitar.

Dalam pertempuran bersama Letkol Sroedji di Desa Karangkedawung, Kecamatan Mumbulsari, akhirnya Alloh SWT menjemput dr. Soebandi. Jenasahnya diketemukan di Sawah. Dan masih dingat oleh Widorini menurut penuturan kakaknya bahwa keluarga baru mengetahui kepastian bahwa Soebandi telah gugur di medan juang satu tahun kemudian.

“Kami baru diberi tahu setelah jenasah ditemukan. Tidak ada pejuang teman bapak, yang berani memberitahu. Kabar itu kami terima setelah bapak meninggal satu tahun,” itu menurut penuturannya.

Kemampuan Soebandi sebagai pejuang dan dalam bidang kedokteran memang sangat membantu satu sama lainnya. Dilahirkan di Klakah, Lumajang, pada 17 Agustus 1917, Soebandi termasuk orang yang beruntung di zaman itu. Putra pertama dari dua bersaudara ini, berhasil masuk di Ika Daigoku (sekolah kedokteran di Jakarta). Sebelumnya, dia mengikuti pendidikan di HIS, MULO, dan NIAS.Setelah lulus dari Ika Daigoku pada 12 November 1943, Soebandi melanjutkan pendidikannya di Pendidikan Eise Syo Dancho. Selanjutnya, setelah lulus, dia diangkat sebagai Eise Syo Dancho. Yang kemudian di tempatkan di Daidan Lumajang. Pada saat itu, selain sebagai tentara, Soebandi juga bertugas sebagai dokter tentara. Ketika PETA dibubarkan pada 19 Agustus 1945 karena Jepang menyerah pada Sekutu, dia ditugaskan di RSU Probolinggo sebagai dokter.

Pada waktu pembentukan BKR, Soebandi yang sudah berpangkat letnan kolonel dipanggil ke Malang. Di sana dia ditugaskan menjadi dokter di RST Claket Malang dengan pangkat kapten. Ketika BKR diubah menjadi TKR pada 5 Oktober 1945 dan berubah menjadi TRI , dia diberi pangkat mayor.

Pada masa Agresi militer pertama, tahun 1946, Soebandi kembali ditugaskan ke Jember. Dia yang ditugaskan sebagai kepala DKT dengan pangkat Mayor, dipindahkan ke resimen IV Divisi III, yang kemudian berubah menjadi Resimen 40 Damarwulan Divisi VIII.

Pada rentang 1945-1947, Soebandi banyak bertugas di front pertahanan Surabaya selatan, Sidoarjo, Tulangan Porong, dan Bangil. Bahkan, pernah ditugaskan di front pertahanan Bekasi Jawa Barat sebagai dokter perang. Pada tahun 1947, setelah tentara Belanda menduduki Jember, dia pernah ditangkap dan dijadikan tahanan kota. Karena terpergok menolong seorang prajurit yang terluka di DKT.

Ya, kurang lebih begitu penuturan Bu Rini dan sumber lain yang memperkuat tulisan saya. Dengan mata berkaca-kaca beliau mengingatkan kepada teman-teman di Rumah Sakit yang beliau pimpin saat ini RS Bedah Surabaya, bahwa perjuangan para pahlawan yang sedemikian beratnya dulu, harus kita hargai dengan penuh semangat. Termasuk dalam bekerja di lingkungan Institusi sosial kesehatan seperti Rumah Sakit beliau juga berpesan “bekerja harus ikhlas”. Itulah yang juga menjadi alasan bagi Bu Rini untuk memilih menjadi seorang dokter dan Direktur Rumah Sakit.

———————————————–

Referensi:

Penuturan dr. Widorini Sunaryo, M.ARS (Direktur Rumah Sakit Bedah Surabaya)

http://arl.blog.ittelkom.ac.id/blog/2010/05/dr-soebandi-kastaf-resimen-40-damarwulan-divisi-viii-damarwulan/

http://sejarah.kompasiana.com/2012/10/07/dr-soebandi/

Social Media sebagai backbone Riset??

Menurut salah satu riset yang menggunakan media jejaring sosial (Facebook) yang berjudul Analisis Potensi Penyebaran Informasi Kesehatan Melalui Jejaring Sosial (Studi Kasus Pada Forum Jejaring Peduli AIDS), maka didapat suatu hasil analisis sebagai berikut yang dapat dibaca dari hasil abstraknya:

Diprediksikan pada tahun 2015 terjadi peningkatan dari 924 000 kasus ke kasus dengan prevalensi 0,49%, dan meningkat tajam menjadi 2.117.000 kasus pada tahun 2025 dengan prevalensi 1,00%. Peningkatan ini dapat dicegah sampai kurang dari setengah bahwa ketika target akses universal dapat dicapai pada tahun 2014. Untuk pencegahan, FJPA menggunakan Facebook sebagai media penyampaian informasi. Upaya ini menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Perkembangan ini menjadi menarik untuk mempelajari, bagaimana efektivitas Facebook Jaringan Media Sosial dalam proses difusi informasi yang berkaitan dengan HIV/AIDS? Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah content analysis. Pengamatan dilakukan pada tahun 2010, sejak awal pembukaan account di Facebook pada 18 Maret 2010 sampai dengan tanggal 31 Desember 2010. Hasilnya menunjukkan peningkatan tajam dalam keanggotaan FJPA di Facebook yang mencapai 2.821 anggota pada tahun 2010. Keanggotaan telah melampaui batas-batas negara, termasuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir sama, usia didominasi. FJPA halaman di Facebook sepuluh bulan terakhir telah diakses 4.278 kali, puncak interaksi dalam bulan pertama (Maret 2010) 430 interaksi, dan enam bulan berikutnya interaksi 77–132 per bulan, dan mencapai puncaknya kembali pada bulan Desember 309. Posting entri yang terdiri dari 126 wall post, link 31, dan 35 catatan. Berdasarkan fakta hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Jaringan Media Sosial melalui Internet sangat efektif sebagai media difusi informasi yang melampaui wilayah geografi s dan administratif. Jaringan Sosial juga merupakan media yang efektif untuk penyebaran informasi untuk menargetkan remaja dan usia. Rekomendasi ini; Media Jaringan Sosial sebagai media perlu upaya difusi lebih intensivef memproses informasi kesehatan, terutama dengan tujuan usia produktif; review ini juga perlu dikembangkan untuk melihat efektivitas media jejaring sosial. Seperti Twitter, Koprol, Blog, dan sebagainya.

Nah, kawan suatu keniscayaan adalah sarana sosial media dapat dijadikan backbone suatu riset terutama dengan menggunakan metode content analysis.  Seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan di US dengan konsep Public Health 2.0 nah mungkin tidak ada salahnya peneliti riset partisipatory di bidang Kesehatan Masyarakat mulai memikirkan pemanfaatan jejaring Sosial Media, Wiki, Blog dan lainnya untuk backbone pendukung riset.

Peneliti juga harus jeli karena terjadi pergeseran era. Dan era web 2.0 adalah salah satu bukti bahwa jejaring sosial media adalah media sharing dan advokasi alternatif yang sukses. Kemudian belum lagi era segmentasi baru yang menempatkan Netizen sebagai tokoh segmentasi penting yang berpengaruh saat ini. Netizen itu apa? silahkan buka artikel saya sebelum ini.

Seperti yang dilakukan Peneliti dari LitbangKes Depkes dan Dosen FKM Unair (Agung Dwi Laksono dan Ratna Dwi Wulandari) yang melakukan ANALISIS POTENSI PENYEBARAN INFORMASI KESEHATAN MELALUI JEJARING SOSIAL. Dan setelah dilakukan penelitian maka dapat disimpulkan berdasarkan fakta hasil kajian dapat diambil kesimpulan bahwa Media Jejaring Sosial melalui internet sangat efektif sebagai sebuah media difusi informasi yang melampaui kendala geografis maupun administratif wilayah. Media Jejaring Sosial juga efektif untuk penyebaran informasi dengan sasaran remaja dan usia produktif.