Grow with Passion (1/30): “Bekerja” sebagai pasien di Rumah Sakit sendiri

“Bekerja” sebagai pasien di Rumah Sakit sendiri

Agak susah sepertinya harus mengetik di touchscreen 7 inchi dengan satu tangan sementara tangan lain tertancap jarum infus. Well, akhirnya sebagai orang normal saya pertamakalinya merasakan MRS (Red: Masuk Rumah Sakit). Sejak kecil dulu memang seingat saya belum pernah sama sekali masuk ke rawat inap. Keluarga saya lebih suka merawat saya di rumah dgn obat jalan dari dokter. Soal alasannya kenapa mungkin bukan saya yang menjelaskan. Selanjutnya juga swamedika lebih banyak saya lakukan semasa kuliah karena banyak teman dan relasi dokter. Saya sepertinya tidak usah menjelaskan apa yang menyebabkan saya MRS karena saya bukan fokus pada ini.

Oke lupakan sejenak paragraf diatas. Mungkin sudah waktunya tubuh ini dimanjakan oleh pelayanan dokter yang “always” smile, perawat yang berdedikasi, dan teman-teman yang setia mensupport. Dan dirawat di Rumah Sakit Sendiri (red: RS Bedah Surabaya). Nah ini adalah malam kedua MRS, sebagai seorang Supervisor SDM saya diperlihatkan di lapangan bahwa inilah pelayanan sesungguhnya yang bisa saya observasi langsung dari sudut pandang pasien.

Dari sisi sebagai seorang HRD, maka saya bisa sangat tahu akhirnya bagaimana komposisi tenaga dan ritme kerja yang berujung pada beban kerja khususnya perawat rawat inap yang dua malam ini merawat saya dengan MAKP Tim. Sebagai Rumah Sakit yang baru berusia 2 tahun (10-10-2010 — 10-10-2012) kami seperti bayi yang baru merangkak tapi harus dipaksa berlari oleh persaingan mutu. Tapi bukan gerutuan melainkan kewajiban. Toh akreditasi dasar 5 pelayanan sudah kita pegang, walaupun ini belum cukup, karena tahun depan kami harus berbenah ke persiapan JCI. Ada banyak yang mestinya harus saya ketahui sebagai seorang HRD yang mungkin tertutup oleh rutinitas rutin tentang sudut pandang pasien.

Yang pertama, mengenai MAKP Tim dan Discharge Planning apakah sudah menjadi kebiasaan. Operan perawat saya lihat sudah berjalan dengan baik. Walapun perlu ditingkatkan lagi dengan budaya menulis di buku “operan”.

Kedua, saya mendadak “berdosa” dengan ketenagaan yang memang beberapa bulan kemarin saya efisienkan mengingat berfikir keseimbangan kebutuhan investasi dan produksi. Tapi sejak MRS kemarin pemikiran itu saya buang. Karena faktanya dengan staffing di Rawat inap yang sekarang produksi berada pada tahap stagnan. Pemikiran diatas sepertinya akan saya balik setelah saya KRS (red: Keluar Rumah Sakit).

Ketiga, memang dua tahun bagi kami ini seperti trial and error. Dan efek positif kami dapatkan dengan membludaknya secara pasti jumlah pasien. Karena faktor dokter, image yang mulai terbangun, jaringan yang dirintis dan pemasaran. Nah sepertinya setelah tahun kedua kapasitas SDM dan kuantitas akan menjadi kewajiban bagi saya dan tim di HRD.

Sebenarnya banyak yang berkecamuk di kepala saya untuk saya tulis. Tapi tidak nyaman mengetik dengan satu jari dengan posisi tidur. Hehehe.Rupanya ini menjadi hikmah yang baik, karena saya sebagai HRD tahu banyak hal dari kacamata pasien dan staf (Keperawatan).

Nanti saya lanjut lagi.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.