Filosofi Kesehatan Masyarakat – Rethinking Public Health

Sebelum memulai topik pembahasan tentang kaitan dunia kesehatan masyarakat dalam kajian filsafat, Penting untuk kita ketahui terminologi “Filsafat” itu sendiri. Filsafat diartikan dengan lugas adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika.

Analogi menggabungkan filsafat dan Kesehatan masyarakat seperti menciptakan permadani raksasa yang membutuhkan pasokan benang-benang yang tak terbatas. Hasil tenunan permadani tersebut dapat dihasilkan dalam bentuk bukti obyektif dari studi dalam biologi, epidemiologi, dan ilmu sosial, fakta inilah yang memberikan dasar rasionalitas untuk melakukan intervensi yang dirancang untuk kegiatan pencegahan penyakit, cedera ataupun kematian.


DASAR FILOSOFIS KESEHATAN MASYARAKAT

 Alur pemikiran filosofi memotong ranah kesehatan masyarakat dari keseluruhan alam ontologi, epistemologi, dan etika karena pijakan dasar berfikir adalah bagaimana memahami dan berusaha mengerti akan kesehatan masyarakat itu sendiri.

Garis tebal dari dasar filosofis kesehatan masyarakat adalah mengenai keseimbangan antara kepentingan masyarakat, populasi dan individu. Kepentingan-kepentingan itu muncul dan bermuara pada satu hal yaitu pencegahan penyakit dan promosi kesehatan.

Metode ilmiah, analisis dan sintesis memainkan peran kunci dalam filosofi kesehatan masyarakat.  Kesehatan masyarakat bergantung pada kekuatan kreatif seorang praktisi kesehatan masyarakat, penemuan ilmiah dan akumulasi pengetahuan yang secara obyektif bertumpu pada peristiwa probabilistik.

Dalam perluasan berfikir maka filosofi kesehatan masyarakat juga menggabungkan nilai dan tradisi masyarakat yang relevan dan memberikan landasaran intelektual untuk tindakan yang terorganisir yang meningkatkan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri.

Meskipun memiliki entitas yang unik, filosofi kesehatan masyarakat terkait erat dengan filsafat politik, ekonomi, sejarah, dan hokum dan beberapa filosofi lainnya.

Sebuah perjalanan panjang ke depan!

Welcome to Public Health 2.0: Exploring innovative and participatory technologies!

Sebuah alasan

Cukup beralasan jika pada tanggal 23 September tahun lalu School of Public Health Toronto mengadakan The Public Health 2.0 Conference. Cara ini saya pandang sebagai langkah cerdas para pegiat kesehatan masyarakat disana memetakan geliat perkembangan dunia yang sekarang tanpa batas.Kenapa?

Dalam perkembangannya dunia public health  yang old-school harus dipaksa masuk kedalam era global. Sehingga keberadaan nya yang saya sebut old-school sudah sepantasnya berubah dalam pergerakannya. Cara yang mungkin saya kategorikan sebagai old-school adalah kampanye dan advokasi memakai cara yang konvensional (baku) misalnya penyuluhan langsung, media audio visual, dan advokasi melalui jalur baku legislatif. Itu semua menurut saya salah langkah baku atau dibilang “basic”.

Nah, bagaimana munculnya era yang dinamakan PUBLIC HEALTH 2.0 adalah dimulainya pergeseran dalam  penggunaan media web. Web yang dimaksud adalah web generasi kedua (Web 2.0). Web 2.0, adalah sebuah istilah yang dicetuskan pertama kali oleh O’Reilly Media pada tahun 2003, dan dipopulerkan pada konferensi web 2.0 pertama di tahun 2004, merujuk pada generasi yang dirasakan sebagai generasi kedua layanan berbasis web—seperti situs jaringan sosial, wiki, perangkat komunikasi, dan folksonomi—yang menekankan pada kolaborasi online dan berbagi antar pengguna. O’Reilly Media, dengan kolaborasinya bersama MediaLive International, menggunakan istilah ini sebagai judul untuk sejumlah seri konferensi, dan sejak 2004 beberapa pengembang dan pemasar telah mengadopsi ungkapan ini.

Walaupun kelihatannya istilah ini menunjukkan versi baru daripada web, istilah ini tidak mengacu kepada pembaruan kepada spesifikasi teknis World Wide Web, tetapi lebih kepada bagaimana cara si-pengembang sistem di dalam menggunakan platform web. Mengacu pada Tim Oreilly, istilah Web 2.0 didefinisikan sebagai berikut:

Web 2.0 adalah sebuah revolusi bisnis di dalam industri komputer yang terjadi akibat pergerakan ke internet sebagai platform, dan suatu usaha untuk mengerti aturan-aturan agar sukses di platform tersebut.

Sejalan dengan Tim Oreilly maka Kumanan Wilson, MD MSC and Jennifer Keelan, PhD membuat definisi tentang Public Health 2.0 sebagai berikut

“Although troubling to many in public health, the use of the Internet for these purposes simply cannot be ignored. Web 2.0 is here to stay and will almost certainly influence health behaviors. Health is a logical area in which individuals will want to seek opinions from others and communicate their experiences. In this new era, public health officials need to learn how to more effectively listen to these messages and, simultaneously, develop more lively and engaging messages themselves to communicate with the public.”

Mencermati Pernyataan Kumanan Wilson diatas tentang konsep dasar penggunaan web generasi 2.0 dengan intregrasi ke dalam dunia kesehatan masyarakat adalah suatu gagasan yang brilian dalam mengikuti perubahan besar-besar dalam era komunikasi massa modern.

Saya berusaha membuat definisi singkat yang mengkaitkan beberapa pernyataan diatas sebagai berikut

Public Health 2.0 adalah suatu istilah yang diberikan untuk sebuah gerakan dalam kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mempermudah akses masyarakat umum dalam memperoleh pengetahuan dan informasi tentang kesehatan masyarakat dengan kolaborasi jejaring sosial media dan blogger sehingga lebih user-driven.

Netizen sebagai Tokoh Utama

Saya masih ingat betul sewaktu  mengamati pergeseran segmentasi pasar yang disampaikan oleh Hermawan Kartajaya yang merubah segmentasi jadul Senior, Men and Citizen menjadi Youth, Woman and Netizen. Mungkin kawan-kawan masih ingat sewaktu kuliah dulu tentang siapa pengambil keputusan di dalam keluarga yang berpengaruh pada pengambilan keputusan? Kalau sudah lupa tolong dibuka lagi. Ya itu menjadi penting dalam pembahasan kali ini.

Tidak usah lama saya menjelaskan soal apa kaitannya segmentasi pasar dalam era baru. Saya mengambil satu segmen  penting dalam ulasan mengenai Public Health 2.0 yaitu  NETIZEN.

Apa itu Netizen ?

Kata Netizen Pertama kali di buat oleh Michael Hauben Pada tahun 1992 ia menciptakan istilah netizen untuk menggambarkan pengguna internet yang memiliki rasa tanggung jawab sebagai warga  internet. Atau netizen merupakan istilah yang dibentuk dari kata Net (internet) dan Citizen (warga). Jika di satukan, artinya kurang lebih “warga internet” atau “penduduk dunia internet”  Sederhananya, netizen adalah pengguna internet yang berpartisipasi aktif (berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, berkolaborasi) dalam media internet.

Siapakah Netizen itu?

Netizen adalah semua orang yang mengakses dan menggunakan internet. Semua orang yang menggunakan Internet bisa di sebut Netizen mulai yang hanya menggunakan Mobile Internet, komputer rumah yang terkonek internet,mahasiswa yang doyan nongkrong berlama-lama di kampus hanya karena FB-an, ibu-ibu yang ngrumpi di twitter atau aktivis yang doyan blogging.

Ketika sedang offline, Netizen tidak berbeda dengan citizen (warga) lainnya. Mungkin ada beberapa perilaku unik yang membedakan seorang netizen dengan citizen seperti kebutuhan aktualisasi diri yang tinggi terhadap pengoptimalan mobile technology. Dan mungkin bersifat addict.

Mengapa Netizen di katakan Penting dalam Public Health 2.0  ?

Netizen menjadi sangat valuable dan berpengaruh karena mereka mereka sangat aktif menyuarakan pendapatnya lewat Sosial Media. Netizen menyuarakan hal-hal yang sejalan dengan nilai yang dianutnya. Netizen tidak dibayar atau dikomando, melainkan berpartisipasi aktif dengan suka cita. Netizen dengan senang hati akan mengulas apapun yang menjadi perhatian personalnya.

Contoh terkini mengenai pengaruh netizen Indonesia di ranah global adalah topik-topik lokal yang menembus trending topic di twitter. Masih juga ingat soal Cicak vs. Buaya yang gerakannya mendukung KPK melalui fans page Facebook. Atau soal kasus Prita dengan RS Omni yang masuk ranah hokum.

Di twitter, kebanyakan dari para influncer yang memiliki follower yang banyak mereka sangat mampu membuat suatu topik menjadi trending topic di twitter. Begitu juga blogger, seorang blogger yang blognya dibaca oleh 5000 orang setiap harinya memiliki ‘channel’ untuk mempengaruhi 5000 pembaca tersebut. Sebagian  pembaca yang terinspirasi dan akan dapat mendiskusikan tulisan yang diterbitkan di blog tersebut di channel social media yang lain atau bahkan merekomendasikan tulisan tersebut kepada ‘follower’ yang mengikutinya melalui twitter atau blog sang pembaca.Begitu hebatnya sosial media saat ini sehingga mampu membuat opini public dan secara masif mampu mempengaruhi policy maker.

 

Era Public Health 2.0 Indonesia Semakin dekat

Indonesia merupakan negara dengan  jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China (1,346 juta jiwa), India (1,198 juta jiwa), dan Amerika Serikat (315 juta jiwa). Sensus yang dilakukan oleh BPS pada tahun 2010 menyebutkan bahwa  populasi penduduk Indonesia tahun  diperkirakan mencapai 237,6 juta jiwa, bertambah 32,5 juta jiwa dibandingkan dengan hasil sensus penduduk yang terakhir dilakukan oleh BPS tahun 2000 yaitu sebesar 205,1 juta jiwa.

Hal yang juga sangat menggembirakan adalah angka penetrasi penggunaan internet oleh rumah tangga di Indonesia secara umum yang mencapai 27% di perkotaan dan 8% di daerah pedesaan. Di daerah perkotaan (urban) angka penetrasi penggunaan internet oleh rumah tangga paling tinggi berada di Yogyakarta (50%), Bukit Tinggi (49%), Makassar (42%), Manado (41%), dan Padang (37%). Sedangkan di kawasan pedesaan (rural), penetrasi internet paling tinggi berada di kabupaten Minahasa (18%), Kabupaten Bantul (15%), Kabupaten Kutai Kartanegara (12%), Kota Prabumilih (11,5%), dan Kabupaten Gresik (11%).  Dengan semakin tingginya penggunaan internet di Indonesia dan dukungan pemerintah untuk memberikan akses internet di seluruh desa di Indonesia yang diperkirakan akan terealisasikan di tahun 2011, hal ini akan memiliki implikasi besar terhadap perubahan sikap, kebiasaan, dan perilaku masyarakat termasuk juga dalam bidang kesehatan masyarakat.

Netizen (pengguna internet) sebagai penentu dalam meraih heart share. Heart share yang dimaksud disini adalah emotional (emosi) target market (Sasaran media promosi kesehatan) yang menjatuhkan pilihannya lebih dari daya nalar pikiran dan mempunyai kekuatan bertahan terhadap apa yang dipilih secara emosional. Netizen bias berdaya sebagai penentu dalam Public Health 2.0 dengan didukung olek akses teknologi dan jaringan. Soal yang satu  ini di Indonesia perkembangannya dapat diapresiasi lebih.

Akses, dapat dipandang sebagai kata kunci. Entah itu akses terhadap jaringan itu sendiri atau terhadap sarana pendukungnya.

Ya sekali lagi adalah akses. Sebagai Negara berkembang yang mempunyai pergerakan yang dinamis di dalam social media dan network berikut segala yang ada didalamnya Indonesia adalah pasar yang potensial untuk menjadi ajang besar dalam gerakan ini.

Kita mengingat kembali bahwa jumlah pengguna Facebook sudah mencapai 33 juta lebih, jumlah ini melebihi Inggris. Sedangkan pengguna Twitter menurut data terbaru dilaporkan ComScore, lembaga riset dan pemasaran di internet, Indonesia menempati peringkat pertama soal penetrasi di Twitter. Dari populasi pengguna internet di Indonesia, sebanyak 20,8 persennya adalah pengguna Twitter.
Soal penetrasi, Indonesia bahkan mengalahkan Amerika Serikat dan Jepang sebagai negara yang semula ramai ‘berkicau’ di situs mikroblogging terpopuler tersebut.


Nah setali tiga uang, Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian para aktivis kesehatan masyarakat dan semua elemen yang giat menjadikan kesehatan masyarakat sebagai domain pergerakan untuk menjadikan sarana web sebagai ajang pembentukan isu, opini, sarana edukasi, pemberdayaan, pencarian dukungan stakeholder, bahkan sarana perlawanan (mungkin).

Web dengan konsep 2.0 menjadi penting untuk dicermati karena dari konsep web 1.0 yang hanya menjadikan masyarakat sebagai sasaran pasif (reading) merubah menjadi konsep yang sangat memberdayakan yaitu writing, sharing, opinion, dan pembentukan communities.

Dari konsep Web 2.0 tersebut ada 10 elemen utama yang menjadikan 2.0 menjadi sebuah ide yang cemerlang bagi sebuah tools baru bagi dunia kesehatan masyarakat yaitu Blog, Wikis, Collaborative writing, user review, GIS, Microblogging (Twitter), Photo and Video Sharing, Social bookmarking, social & Professional Network, Virtual works.

Media diatas jika dimanfaatkan dengan optimal maka dunia kesehatan masyarakat akan bisa mengikuti perkembangan era komunikasi massa yang keberadaannya sangat dinamis. Memang disatu sisi konsep ini tidak bisa dipukul rata karena faktanya pemerataan informasi dan komunikasi di Indonesia masih timpang dan belum merata. Masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk memperbaiki secara terus menerus pemerataan informasi dan komunikasi di seluruh wilayah. Tentu saja secara sinergi disertai dengan peningkatan edukasi masyarakat.

Tetapi melihat double burden (beban ganda) di Indonesia juga menjangkiti sektor lain termasuk edukasi, informasi dan komunikasi maka gerakan ini tetap harus dilakukan untuk mengikuti perkembangan era komunikasi sosial dengan tetap berusaha mendongkrak masyarakat yang terpinggirkan di wilayah lainnya.

 

Grow with Passion (1/30): “Bekerja” sebagai pasien di Rumah Sakit sendiri

“Bekerja” sebagai pasien di Rumah Sakit sendiri

Agak susah sepertinya harus mengetik di touchscreen 7 inchi dengan satu tangan sementara tangan lain tertancap jarum infus. Well, akhirnya sebagai orang normal saya pertamakalinya merasakan MRS (Red: Masuk Rumah Sakit). Sejak kecil dulu memang seingat saya belum pernah sama sekali masuk ke rawat inap. Keluarga saya lebih suka merawat saya di rumah dgn obat jalan dari dokter. Soal alasannya kenapa mungkin bukan saya yang menjelaskan. Selanjutnya juga swamedika lebih banyak saya lakukan semasa kuliah karena banyak teman dan relasi dokter. Saya sepertinya tidak usah menjelaskan apa yang menyebabkan saya MRS karena saya bukan fokus pada ini.

Oke lupakan sejenak paragraf diatas. Mungkin sudah waktunya tubuh ini dimanjakan oleh pelayanan dokter yang “always” smile, perawat yang berdedikasi, dan teman-teman yang setia mensupport. Dan dirawat di Rumah Sakit Sendiri (red: RS Bedah Surabaya). Nah ini adalah malam kedua MRS, sebagai seorang Supervisor SDM saya diperlihatkan di lapangan bahwa inilah pelayanan sesungguhnya yang bisa saya observasi langsung dari sudut pandang pasien.

Dari sisi sebagai seorang HRD, maka saya bisa sangat tahu akhirnya bagaimana komposisi tenaga dan ritme kerja yang berujung pada beban kerja khususnya perawat rawat inap yang dua malam ini merawat saya dengan MAKP Tim. Sebagai Rumah Sakit yang baru berusia 2 tahun (10-10-2010 — 10-10-2012) kami seperti bayi yang baru merangkak tapi harus dipaksa berlari oleh persaingan mutu. Tapi bukan gerutuan melainkan kewajiban. Toh akreditasi dasar 5 pelayanan sudah kita pegang, walaupun ini belum cukup, karena tahun depan kami harus berbenah ke persiapan JCI. Ada banyak yang mestinya harus saya ketahui sebagai seorang HRD yang mungkin tertutup oleh rutinitas rutin tentang sudut pandang pasien.

Yang pertama, mengenai MAKP Tim dan Discharge Planning apakah sudah menjadi kebiasaan. Operan perawat saya lihat sudah berjalan dengan baik. Walapun perlu ditingkatkan lagi dengan budaya menulis di buku “operan”.

Kedua, saya mendadak “berdosa” dengan ketenagaan yang memang beberapa bulan kemarin saya efisienkan mengingat berfikir keseimbangan kebutuhan investasi dan produksi. Tapi sejak MRS kemarin pemikiran itu saya buang. Karena faktanya dengan staffing di Rawat inap yang sekarang produksi berada pada tahap stagnan. Pemikiran diatas sepertinya akan saya balik setelah saya KRS (red: Keluar Rumah Sakit).

Ketiga, memang dua tahun bagi kami ini seperti trial and error. Dan efek positif kami dapatkan dengan membludaknya secara pasti jumlah pasien. Karena faktor dokter, image yang mulai terbangun, jaringan yang dirintis dan pemasaran. Nah sepertinya setelah tahun kedua kapasitas SDM dan kuantitas akan menjadi kewajiban bagi saya dan tim di HRD.

Sebenarnya banyak yang berkecamuk di kepala saya untuk saya tulis. Tapi tidak nyaman mengetik dengan satu jari dengan posisi tidur. Hehehe.Rupanya ini menjadi hikmah yang baik, karena saya sebagai HRD tahu banyak hal dari kacamata pasien dan staf (Keperawatan).

Nanti saya lanjut lagi.

image