Positive Deviance – Suatu pendekatan berbasis masyarakat

Bagi kawan-kawan di area ‘Public Health’ mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah Positive Deviance. Isitilah ini juga merupakan bahasa yang sehari-hari mungkin menjadi konsen bagi kawa-kawan yang bergerak dalam dunia Gizi Kesmas serta pemberantasan Gizi buruk.

Definisi

Positive Deviance is an approach to behavioral and social change based on the observation that in any community, there are people whose uncommon but successful behaviors or strategies enable them to find better solutions to a problem than their peers, despite facing similar challenges and having no extra resources or knowledge than their peers. These individuals are referred to as positive deviants.[1][2][3]

Sejarah Awal

Konsep Positive Deviance (penyimpangan positif) pertama kali muncul dalam tulisan Wilkins (1964:46) yang menggambarkan penyimpangan (deviance) seperti sebuah kurva berbentuk lonceng, dimana tindakan-tindakan penuh dosa (penyimpangan negatif) berada di sebelah kiri dan tindakan-tindakan penuh suci (Positive Deviance) berada di sebelah kanan Sedangkan tindakan-tindakan normal terdapat di tengah-tengah kurva. Dalam masyarakat terdapat sangat sedikit tindakan-tindakan yang secara ekstrim penuh suci atau sangat membantu dalam masyarakat dan sangat sedikit pula tindakan-tindakan yang secara ekstrim penuh dosa atau tindakan criminal yang serius. Pada umumnya (mayoritas) dari tindakan-tindakan manusia dalam kebudayaan adalah “normal”. Konsep tersebut merupakan bentuk dari sebuah analisis Statistik tentang sebuah studi Deviasi (positif dan negatif) yang diterapkan dan ditarik kepada sebuah kajian Sosiologi.

Pada penelitian lainnya Sternin mendasarkan  hasil kerjanya seperti yang dilakukan oleh Marian Zeitlin di Universitas Tufts pada akhir 1980-an melakukan penelitian di beberapa rumah sakit di komunitas yang sedang berkembang untuk mengetahui mengapa sebahagian kecil anak-anak yang menderita kekurangan gizi (para penyimpang) mengatasi kondisi tersebut dengan lebih baik dibanding dengan sebahagian besar anak-anak penderita kekurangan gizi lainnya, apa yang membuat mereka mampu dengan cepat mengatasinya? (David Dorsey; 2000)

Dari penelitian ini muncul pemikiran untuk memperkuat penyimpangan positif sebagai sebuah teori yang diuji oleh Sternin dan istrinya Monique pada tahun 1990-an dalam situasi yang berbeda. Ide ini muncul sebagai tanggapan dari permintaan pemerintah Vietnam untuk membantu mengurangi angka malnutrisi yang luar biasa. Sternin tidak memakai solusi konvensional karena solusi itu hanya tentang: sistim sanitasi yang buruk, ketidakpedulian, pola distribusi makanan, kemiskinan, dan buruknya akses terhadap air bersih. Sementara ribuan bahkan jutaan anak tidak dapat menunggu sampai masalah tersebut bisa diatasi. Akhirnya Sternin dan istrinya memutuskan untuk memperkuat penyimpangan positif.

Positive Deviance (PD) atau penyimpangan positive adalah sebuah program baru di dalam dunia kesehatan, yang bertujuan untuk menangani kasus gizi buruk atau gizi kurang bagi anak-anak Balita yang ada di seluruh Indonesia. Disebut dengan penyimpangan positive karena anak-anak penderita gizi buruk yang berada di satu lingkungan bisa mencontoh perilaku hidup sehat anak-anak yang tidak menderita gizi buruk. Program PD ini lebih mengembangkan konsep pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat secara penuh untuk mengatasi masalah gizi buruk, sangat jauh berbeda dengan program PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang dikembangkan oleh pemerintah.

Model ini adalah bagaimana merubah perilaku masyarakat, sehingga kondisi gizi buruk menjadi baik, mempertahankan gizi baik serta meningkatkannya. Secara umum Positive Deviance dapat dilakukan dengan beberapa tahapan.

Konsep Umum Positive Deviance

Dalam positive deviance, secara teoritis ada tahapan yang harus dilakukan yang disebut dengan istilah 6 “D” sebagai langkah yang harus dilalui dengan catatan yang melakukannya adalah komunitas yang bersangkutan yang didampingi oleh fasilitator. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

Define, tetapkan atau definisikan masalah dan solusinya, dengarkan apa penyebabnya (analisis situasi) menurut mereka/komunitas sehingga lahir problem statement dari komunitas. Misalnya, dalam suatu kelompok masyarakat, anak-anak keluarga miskin mengalami kekurangan gizi.

Determine, tentukan apakah ada orang-orang dari komunitas mereka yang telah menunjukkan prilaku yang diharapkan atau menyimpang (deviants) dari keluarga miskin yang lain. Misalnya, ada anak dari keluarga miskin yang gizinya baik, sementara mereka berasal dari tempat yang sama dan menggunakan sumber yang sama

Discover, cari tahu apa yang membuat “penyimpang” mampu menemukan solusi yang lebih baik dari pada tetanggganya. Misalnya, “penyimpang” memberikan makanan secara aktif kepada anaknya, memberikan makanan yang bergizi (bersumber lokal) walau tidak biasa dikonsumsi oleh orang lain, memberi makan lebih sering kepada anaknya. Pastikan “penyimpang“ tidak mendapatkan subsidi dari sanak keluarganya yang mampu, baik yang berada di perkampungan itu maupun di daerah lain, sehingga itu juga merupakan penyebab anak tersebut menjadi lebih sehat.

Design, rancang dan susun strategi yang memampukan orang lain mengakses dan mengadopsi prilaku baru tersebut. Misalnya, membuat program gizi dan peserta diwajibkan membawa food contributions berupa makanan “penyimpang” dan mempraktekkannya secara aktif. Atau ada strategi lain yang bersumber kepada kebiasaan lokal yang bisa mendukung pengadopsian prilaku “penyimpang” yang sehat tadi.

Discern, amati tingkat efektivitas intervensi melalui pengawasan dan monitoring yang dilakukan secara terus menerus. Misalnya, mengukur status gizi anak-anak yang ikut program gizi dengan penimbangan dan dampaknya kepada anak-anak sepanjang waktu. Juga jangan lupa mengukur tingkat kepedulian anggota masyarakat lain terhadap peningkatan gizi anak, karena ini juga merupakan peningkatan kapasitas masyarakat terhadap kesehatan terutama gizi anak.

Disseminate, sebarluaskan kesuksesan kepada kelompok lain yang sesuai. Misalnya, bentuk sebuah “Universitas Hidup” (laboratorium sosial) sebagai tempat belajar bagi orang lain yang tertarik untuk mengadopsi prilaku mereka sendiri di tempat lain dan siap berpartisipasi dalam program tersebut. Untuk pendukung juga lebih bagus dilakukan kampanye terhadap peningkatan status gizi anak yang lebih efektif dan efisien daripada pola yang konvensional. Jadikan isu ini menjadi isu komunitas, tidak isu pribadi hanya keluarga yang terkena kasus gizi buruk saja.

Kembali lagi bahwa konsep diatas merupakan suatu kearifan lokal individu dalam sebuah komunitas yang dianggap sebagai suatu ‘penyimpangan’ oleh komunitasnya. Dengan kata lain penyimpangan tidak selalu berhenti pada pemikiran atau stigma negatif. Lihat dulu sejauhmana penyimpangan itu bergeser. Jika ke arah positif maka itu bisa dilakukan sebagai suatu perilaku yang layak dicontoh bagi komunitasnya tentunya by case (kasus per kasus).

Referensi

  1. Tuhus-Dubrow, R. The Power of Positive Deviants: A promising new tactic for changing communities from the inside. Boston Globe. November 29, 2009.
  2. Sternin, J., & Choo, R. (2000). The power of positive deviancy. Harvard Business
  3. Singhal, Arvind, and Lucia Dura. Protecting Children from Exploitation and Trafficking Using the Positive Deviance Approach in Uganda and Indonesia. Save the Children Federation, Inc., 2010.
  4. Disadur dari http://www.pdrc.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=287:positive-deviance-sebuah-pendekatan-untuk-perubahan-sosial&catid=66:article&Itemid=32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.