Fragmen ‘Sing penting wareg’

Ungkapan diatas mengingatkan kita pada istilah di kalangan masyarakat akar rumput khususnya di Jawa. Sing penting wareg (red: yang penting kenyang), begitu mendarah daging di masyarakat sebagai kata sakti yang menjadi standar baku pemenuhan kebutuhan perut.

Pertama, Saya mencoba memikirkan apakah ungkapan diatas hanyalah istilah yang sudah umum diwariskan turun temurun di kalangan masyarakat Jawa, ataukah ada hal lain dibalik itu. Sejalan dengan istilah itu muncul banyak istilah lain seperti “Mangan ora mangan sing penting kumpul”.

Kedua, Kita tarik mundur ke jaman Orde Baru, Saat kita dipuja oleh FAO – PBB dengan predikat sebagai negara dengan Swasembada Beras. Ketika pada 1984 Indonesia dinyatakan mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan beras atau mencapai swasembada pangan. Organisasi Pangan Dunia (FAO) pun mengundang Indonesia (Soeharto) untuk menerima penghargaan atas prestasinya. Bahkan pada waktu itu sebagai wujud rasa syukurnya, Soeharto pun juga membawa buah tangan, yaitu gabah sebanyak 100.000 ton yang dikumpulkan secara gotong royong dan sukarela oleh petani Indonesia untuk diteruskan kepada warga-warga yang mengalami kelaparan di berbagai belahan dunia, khususnya di Afrika. Itu sekilas kisah yang mengingatkan kita tentang kejayaan orde baru dalam pemenuhan pangan Nasional.

Ketiga, Bolehlah saya mengingatkan sedikit tentang pola kepemimpinan Orde Baru. Pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto pada dasarnya mengadopsi sistem kebudayaan Jawa yang beku. Pola kepemimpinan yang dia adopsi adalah kebudayaan Jawa versi keraton, sehingga sifat kepemimpinannya menyerupai raja. Selama masa pemerintahan yang 32 tahun, ia juga melakukan rekayasa kebudayaan (cultural engineering)-melalui siaran safari di televisi, penataran P4-untuk melanggengkan kekuasaannya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dr Hans Antlov dari Universitas Guttenberg, Belanda yang dimuat dalam bukunya yang berjudul epemimpinan Jawa: Perintah Halus Kepemimpinan Otoriter. Hans Antlov menjelaskan, pemerintah Orde Baru telah mengambil alih kebudayaan Jawa dan memakainya sebagai sesuatu yang statis, beku. Padahal, kebudayaan harus dimaknai sebagai sesuatu yang hidup, dinamis, dan selalu berubah.

Keempat, Kita dasar bahwa untuk membuat Indonesia ber-Swasembada pangan (beras) merupakan tugas yang sangat berat dan membutuhkan upaya yang PROVOKATIF dengan PROPAGANDA cerdas. Bayangkan saja  pada tahun 1969 Indonesia memproduksi beras sekitar 12,2 juta ton beras tetapi tahun 1984 bisa mencapai 25,8 juta ton. Bagaimana Soeharto bisa menggalang para petani untuk bekerjasama melakukan revolusi pangan (red: Swasembada Beras)?  Kebijakan yang ditempuh kemudian adalah menitikberatkan kepada usaha intensifikasi, dengan menaikkan produksi terutama produktivitas padi pada areal yang telah ada. Pada waktu itu rata-rata petani hanya memiliki setengah hektare dan kemampuan penguasaan teknologi tanam juga belum banyak dikuasai kecuali bercocok tanam secara tradisional. Pemerintah pun mencetak sejumlah tenaga penyuluh pertanian, membentuk unit-unit koperasi untuk menjual bibit tanaman unggul, menyediakan pupuk kimia dan juga insektisida untuk membasmi hama. Sistem pengairan diperbaiki dengan membuat irigasi ke sawah-sawah sehingga banyak sawah yang semula hanya mengandalkan air hujan, kini bisa ditanami pada musim kemarau dengan memanfaatkan sistem pengairan.

Kelima, Masih ingat kala memimpin Indonesia Soeharto terkenal dengan program Rencana Pembangunan Lima Tahun. Berikut intisari dari program Repelita 1 sampai 7 yang pernah dikerjakan:

• Repelita 1 dan 2 (1969-1979)
Swasembada Beras
1969: Tambahan tugas Bulog: Manajemen Stok
Penyangga Pangan Nasional – dan penggunaan neraca pangan nasional sebagai standar ketahanan pangan.
1971: Tambahan tugas Bulog sebagai pengimpor gula dan gandum
1973: Lahirnya Serikat Petani Indonesia
1974: Tambahan tugas Bulog: Pengadaan daging untuk DKI Jakarta
1974: Penggunaan Revolusi Hijau untuk mencapai swasembada beras
1977: Tambahan Tugas Bulog: Kontrol impor kacang
kedelai.
1978: Penetapan harga dasar jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau

• Repelita 3 dan 4 (1979-1989)
Swasembada Pangan
1978: Keppres39/1978, Pengembalian tugas Bulog
sebagai kontrol harga untuk gabah, beras, tepung gandum, gula pasir dll.
1984: Medali dari FAO atas tercapainya Swasembada
Pangan.

• Repelita 5,6 dan 7(1989-1998)
Swasembada Beras
1995: Penganugerahan pegawai Bulog sebagai Pegawai Negeri Sipil
1997: Perubahan fungsi Bulog untuk mengontrol hanya untuk harga beras dan gula pasir.
1998: Penyempitan peran Bulog yang berfungsi sebagai pengontrol harga beras saja.

Dari upaya REPELITA tersebut bisa dibayangkan semuanya bertujuan memperkuat sektor pangan pokok (Beras) yang dalam istilah Public Health dan Gizi kita namakan zat macronutrien dan pemenuhan kebutuhan Karbohidrat. Lalu kenapa proporsi zat micronutrien tidak pernah mendapat porsi yang lebih dalam pemenuhan gizi rakyat? Pertanyaan itu yang nanti menjadi salah satu determinan faktor dalam pembahasan tulisan ini.
Keenam,  Zat Gizi Mikro (Micronutrien) sangat penting untuk pertumbuhan anak. Bila masalah kekurangan (defisiensi) zat gizi mikro tak diatasi sejak dini, akan ada dampak buruk jangka panjang yang bisa menghambat pertumbuhan anak. Menurut Prof. Hardinsyah, kekurangan zat gizi mikro (vitamin, mineral, dan sekelumit/trace minerals) seringkali tersembunyi dan tidak disadari. Namun, kata dia, jika tidak segera diatasi bisa membawa dampak buruk dalam jangka panjang. Ia menambahkan, kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) lebih sering terjadi terutama untuk kasus kekurangan kalsium, zat besi, zinc, asam folat, B12, C, dan D, pada anak, perempuan, dan ibu hamil. “Kekurangan ini seringkali diakibatkan karena diet atau pola makan miskin sumber pangan hewani dan buah,” katanya.  Menurut dia, tanpa pangan hewani dan sayur maka akan sulit bagi tubuh untuk memenuhi kecukupan asupan zat gizi mikro.  Defisiensi zat gizi mikro, lanjutnya, dalam jangka yang lama dapat memberikan dampak nutrisi yang nantinya akan mempengaruhi peningkatan angka kesakitan dan kematian, serta mempengaruhi gangguan serius pada tumbuh kembang anak.

Sebuah Benang merah saya simpulkan walaupun mungkin akan sangat debatable karena masing-masing orang tentunya punya pandangan masing-masing.

Saya berfikir bahwa pengarahan upaya swasembada pangan beras oleh pemerintah orde baru dulu mempunyai dua sisi kebijakan yang ‘mungkin’ disembunyikan. Analogi saya buat untuk mempermudah pemahaman. Jika anda makan nasi (beras) yang mengandung Karbohidrat tinggi maka akan sangat kenyang, jika anda kenyang anda akan merasa nyaman (red: ngantuk), jika anda ngantuk dan kekenyangan maka akan akan cenderung malas untuk berfikir dan bertindak. Nah itulah yang mungkin menjadi kebijakan strategis Orde lama agar rakyatnya nyaman dan cenderung malas untuk bertindak (dalam artian terlena dengan upaya kebijakan otoriternya).

Ah, sekali lagi ini pemikiran liar saya yang saya dapatkan setelah mendengar cerita dari orang tua saya . Bercerita tentang susahnya pada jaman dulu untuk membeli buah-buahan (Nanas, Apel, Melon dsb). Hanya orang kaya yang bisa membelinya, itupun harus pergi ke Kota.

Sembari memakan Melon manis hasil kupasan Ibu saya berfikir ‘Ngawur’.. Coba kalau dulu melon ini bisa di dapat dengan mudah di desa-desa pasti akan lain ceritanya..

Kembali lagi ngasal, saya habiskan dua irisan Melon manis.

Mojorejo, Lamongan (Desa Penghasil Jagung) 21 Agustus 2012

——————————————————————————————————————————————————————

Beberapa sumber artikel yang mendukung tulisan “Ngawur”:

1. http://klipingut.wordpress.com/2008/01/27/soeharto-dan-swasembada-pangan/

2. http://www.beritasatu.com/mobile/kesehatan/63480-pentingnya-zat-gizi-mikro-untuk-pertumbuhan-anak.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.