PUBLIC HEALTH 2.0 | Sebuah Integrasi Cerdas

“Although troubling to many in public health, the use of the Internet for these purposes simply cannot be ignored. Web 2.0 is here to stay and will almost certainly influence health behaviors. Health is a logical area in which individuals will want to seek opinions from others and communicate their experiences. In this new era, public health officials need to learn how to more effectively listen to these messages and, simultaneously, develop more lively and engaging messages themselves to communicate with the public.”

Kumanan Wilson, MD MSC and Jennifer Keelan, PhD Coping with Public Health 2.0, http://www.cmaj.ca/cgi/content/full/180/10/1080

Mencermati Pernyataan Kumanan Wilson diatas tentang konsep dasar penggunaan web generasi 2.0 dengan intregrasi ke dalam dunia kesehatan masyarakat adalah suatu gagasan yang brilian dalam mengikuti perubahan besar-besar dalam era komunikasi massa modern.

Namun sebelum masuk ke dalam perbincangan seputar Public Health 2.0 ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu definisinya:

Public Health 2.0 terdiri dari dua bagian yang saling mendukung yaitu artian Public Health secara konseptual dan 2.0 sendiri (baca: Web 2.0).

Seperti yang kita ketahuai menurut is Winslow bahwa Public Health adalah

“the science and art of preventing disease, prolonging life and promoting health through the organized efforts and informed choices of society, organizations, public and private, communities and individuals” (1920, C.E.A. Winslow)

Sedangkan apa itu Web 2.0?

“‘Web 2.0’ describes a change in the way people interact with information online, moving from passive consumption to active creation of content.”

Jika dua konsep definisi dasar tersebut digabungkan, maka saya merumuskan definisi sebagai berikut:

Public Health 2.0 adalah suatu istilah yang diberikan untuk sebuah gerakan dalam kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mempermudah akses masyarakat umum dalam memperoleh pengetahuan dan informasi tentang kesehatan masyarakat dengan kolaborasi jejaring sosial media dan blogger sehingga lebih user-driven.

Ya sekali lagi adalah akses. Sebagai Negara berkembang yang mempunyai pergerakan yang dinamis di dalam social media dan network berikut segala yang ada didalamnya Indonesia adalah pasar yang potensial untuk menjadi ajang besar dalam gerakan ini.

Kita mengingat bahwa jumlah pengguna Facebook sudah mencapai 33 juta lebih, jumlah ini melebihi Inggris. Sedangkan pengguna Twitter menurut data terbaru dilaporkan ComScore, lembaga riset dan pemasaran di internet, Indonesia menempati peringkat pertama soal penetrasi di Twitter. Dari populasi pengguna internet di Indonesia, sebanyak 20,8 persennya adalah pengguna Twitter.
Soal penetrasi, Indonesia bahkan mengalahkan Amerika Serikat dan Jepang sebagai negara yang semula ramai ‘berkicau’ di situs mikroblogging terpopuler tersebut.


Nah setali tiga uang, Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian para aktivis kesehatan masyarakat dan semua elemen yang giat menjadikan kesehatan masyarakat sebagai domain pergerakan untuk menjadikan sarana web sebagai ajang pembentukan isu, opini, sarana edukasi, pemberdayaan, pencarian dukungan stakeholder, bahkan sarana perlawanan (mungkin).

Web dengan konsep 2.0 menjadi penting untuk dicermati karena dari konsep web 1.0 yang hanya menjadikan masyarakat sebagai sasaran pasif (reading) merubah menjadi konsep yang sangat memberdayakan yaitu writing, sharing, opinion, dan pembentukan communities.

Dari konsep Web 2.0 tersebut ada 10 elemen utama yang menjadikan 2.0 menjadi sebuah ide yang cemerlang bagi sebuah tools baru bagi dunia kesehatan masyarakat yaitu Blog, Wikis, Collaborative writing, user review, GIS, Microblogging (Twitter), Photo and Video Sharing, Social bookmarking, social & Professional Network, Virtual works.

Media diatas jika dimanfaatkan dengan optimal maka dunia kesehatan masyarakat akan bisa mengikuti perkembangan era komunikasi massa yang keberadaannya sangat dinamis. Memang disatu sisi konsep ini tidak bisa dipukul rata karena faktanya pemerataan informasi dan komunikasi di Indonesia masih timpang dan belum merata. Masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk memperbaiki secara terus menerus pemerataan informasi dan komunikasi di seluruh wilayah. Tentu saja secara sinergi disertai dengan peningkatan edukasi masyarakat.

Tetapi melihat double burden penyakit di Indonesia juga menjangkiti sektor lain termasuk edukasi, informasi dan komunikasi maka gerakan ini tetap harus dilakukan untuk mengikuti perkembangan era komunikasi sosial dengan tetap berusaha mendongkrak masyarakat yang terpinggirkan di wilayah lainnya.

Ya, Sebuah Konsep Cemerlang. Public Health 2.0.

Download Slide dari Mellanye Lackey, MSI (Health Sciences Library , University of North Carolina, Chapel Hill) Disini!

Referensi:

1. Mellanye Lackey, MSI (Health Sciences Library , University of North Carolina, Chapel Hill)

2. Kumanan Wilson, MD MSC and Jennifer Keelan, PhD Coping with Public Health 2.0, http://www.cmaj.ca/cgi/content/full/180/10/1080

3. WikiPedia

4. Literatur terkait

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.