Polusi Koronaria

Sebut saja namanya nikotin, pembunuh utama manusia di Indonesia, terutama kaum adam. Tak kasat mata, berasal dari asap mainstream sebuah putung rokok. Ya, rokok, pabrik kecil yang bisa menghasilkan 4000 jenis bahan kimia itu, beberapa diantaranya adalah zat beracun (ibarat wanita, ternyata rokok juga racun dunia). Tahukah Anda asap mainstream? Sejatinya ada dua sumber kepulan asap dari sebatang rokok. Salah satu disebut asap mainstream, yang keluar dari ujung dihisapnya putung rokok; dan jelas masuk ke dalam tubuh. Sedangkan yang lain adalah asap sidestream, yang keluar dari ujung berseberangan. dari ujung rokok yang terbakar; bergesekan langsung dengan udara luar yang bebas.


Nikotin adalah bahan padat yang terdapat dalam asap mainstream, seperti juga tar. Begitu kecil, begitu mudah melayang-layang dan menempel, singgah di kompleks tubuh mana yang disuka. Ketika terhisap di dalam rongga mulut, nikotin akan melewati faring dan sampai juga di ujung epligotis. Laring adalah tempat berikutnya yang dikunjungi. Di sepanjang saluran napas ini, banyak sekali ditumbuhi silia, yaitu rambut-rambut halus yang ada di permukaan dalam saluran pernapasan yang berfungsi sebagai penyaring benda-benda asing yang masuk bersama udara pernapasan. Mulailah nikotin beraksi melumpuhkan silia, bahkan mengendap di sana.

Akibatnya, perokok akan sering mengalami gangguan pada sistem pernapasannya, terutama batuk di malam hari.
Tidak hanya berhenti di laring, nikotin akan terus mengikuti aliran udara dan akhirnya masuk ke paru. Di sini proses ventilasi dan pernapasan internal akan terjadi, terutama di alveoli (jamak dari alveolus), bagian paling kecil dari sebuah paru, tempat bertukarnya gas oksigen dan karbonbondioksida. Andaikata alveoli digelar secara mendatar, akan seluas lapangan sepak bola. Seluas itu pula nikotin akan menempati alveoli dan ikut dalam pertukaran gas. Absorbsi nikotin berlangsung sangat cepat dan secara cepat pula didistribusikan.

Akhirnya sampailah nikotin di lautan darah, yang mengalir dalam lubang pembuluh, mirip pipa panjang yang lentur dan elastis, vena pulmonalis namanya. Pembuluh darah tersusun oleh otot polos yang sifatnya involunter, tubuh bekerja sendiri mengatur dinamika kehidupannya tanpa secara sadar kita perintah. Aliran darah ini menuju jantung, yang secara anatomi memiliki empat ruang. Dan nikotin masih saja bisa bertahan dengan guncangan pompa jantung yang dinamis, cepat, dan ritmik. Aliran darah di vena pulmonalis akan menuju ruang atrium kiri jantung. Dari atrium kiri melewati katup trikuspidalis ke ruang ventrikel kiri. Gerakan ruang di sisi kanan sinergis dengan sisi kiri.

Dengan hentakan menawan, darah akan keluar dari kedua ruang ventrikel jantung untuk didistribusikan; bagian kanan akan menuju paru lagi, sedangkan bagian kiri akan mengalir ke seluruh tubuh. Hentakan paling kuat disebut dengan tekanan sistole. Saat inilah nikotin mencapai kejayaan karena bebas mengalir ke seluruh tubuh dan merusak organ lain. Saat hentakan paling lemah, tekanan diastole namanya, jantung mengalirkan darah untuk memberi nutrisi bagi dirinya sendiri, melalui arteri koronaria. Nah, di lubang pembuluh yang diameternya tidak lebih dari 3 mm inilah nikotin membunuh manusia dengan nama Penyakit Jantung Koroner (PJK). Prosesnya disebut atherosclerosis, lambat tapi pasti.

Atherosclerosis dapat disebut polusi koronaria. Patogenesisnya berawal dari kerusakan sel endotel pembuluh dan otot polos di bawahnya. Akibatnya sel otot polos migrasi ke tunica intima, lapisan terdalam pembuluh darah dan kemudian memperbanyak diri atau proloferasi akibat kerusakan itu. Para ahli menyebutkan hipotesis respons terhadap jejas nikotin menjadi salah satu sebabnya. Faktor utama lain yang berpengaruh adalah hiperlipidemia, hipertensi, dan angiopati diabetic. Jejas endotel yang paling penting pada atherosclerosis menimbulkan kelainan struktur dan metabolik disfungsional tanpa menghilangnya sel-sel ini. Disfungsi endotel disertai bertambahnya permeabilitas terhadap unsur-unsur plasma, termasuk lipid, maupun melekatnya monosit dan trombosit ke endotel.

Faktor yang berasal dari trombosit dan monosit yang diaktifkan -misalnya platelet derived growth factor (PDGF)- menyebabkan migrasi otot polos dari tunica media ke tunica intima (tunica media adalah lapisan tengah pembuluh darah). Peristiwa ini diikuti oleh proliferasi dan sintesis matriks ekstraseluler (kolagen, serabut elastis, proteoglikan). Sel otot polos juga menimbun lipid, terutama kolesterol, sehingga menjadi sel buih. Inilah yang disebut fatty streak. Selanjutnya akan timbul sejenis plak, disebut fibrous plaque. Makrofag juga menyumbangkan enzim dan sitokin (misalnya IL-1 dan TNF), serta unsur lain yang menyebarkan jejas. Plak yang terbentuk akan semakin besar dan memperkecil lubang pembuluh. Semakin kecil lubang pembuluh, aliran darah tentu akan terhambat dan pasokan oksigen dan nutrisi untuk jantung akan berkurang. Hal ini tentu membahayakan fungsi organ jantung. Kalau timbunan plak itu pecah, penderita akan mudah mengalami serangan jantung yang biasanya hanya berawal dari nyeri ringan dan sering diabaikan.

Nikotin ada di dalam timbunan plak itu. Semakin banyak rokok yang dihisap, semakin banyak nikotin akan mengendap dan menimbulkan polusi koronaria, semakin akan merusak jantung. Rokok kretek lebih banyak mengandung tar dan nikotin yang lebih berbahaya karena bercampurnya kandungan cengkih dan tembakau sekaligus. Padahal sebanyak 94% perokok memilih rokok kretek sebagai teman hidupnya. Nah, selamat datang PJK! (vit)

Posting dari kawan: http://rumahvita.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.