Surat Ibu untuk Seorang PNS

Senja temaram sudah sedari tadi berubah menjadi malam kelam.Gerimis pun sudah lama jatuh di luar, menambah sejuk udara kamar yang memang berpendingin itu.Namun, mata Sang Ibu –seorang direktur di salah satu BUMN– belum juga mau terpejam.Tangannya masih saja menimang surat anaknya yang sejak tiga bulan yang lalu ditempatkan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu kabupaten di kawasan Sumatera Tengah.

Sampai malam ini, sudah lima kali dia baca surat pertama anaknya itu.Selama ini mereka selalu bertukar kabar melalui telepon.Termasuk dengan suaminya atau papa anaknya itu, –seorang pejabat eselon satu di Departemen Hankam yang kini tengah mengikuti short coursetentang manajemen krisis di Boston University, Amerika Serikat– komunikasiselalu jalan melalui telepon atau internet.

Karena itu, Sang Ibu merasa agak sulit dan berat untuk menulis membalas surat anaknya itu.Tanpa disadari, ternyata kemajuan teknologi komunikasi telah melunturkan semangat dan tradisi tulis-menulis surat dalam arti yang sebenarnya, yang dapat meng-gambarkan jiwa si penulis surat, yakni surat dengan tulisan tangan.

Namun, kali ini apa boleh buat, anaknya meminta suratnya dibalas dengan surat juga.Alasannya: kangen dengan tulisan tangan Sang Ibu.Memang, tulisan tangan Sang Ibudengan model “tulisan halus-kasar” tempo doeloe, senantiasa menyimpan keteduhan dan ketulusan.Tulisan tangan Sang Ibu seolah menyimpan kasih sayang yang tak bertepi dan dapat melepas kerinduan.Maka, demi memenuhi permintaan anaknya itu, mulailah Sang Ibu menggoreskan pena di kertas putih, menulis surat untuk anaknya.

“Anakku, janganlah Engkau berkecil hati bekerja sebagai PNS yang ditempatkan di kabupaten.Mengabdi membangun republik ini tidak selalu harus di kota-kota atau di Jakarta saja, Nak.Pada era otonomi daerah sekarang ini, orang pintarseperti engkau tidak mestiberada di Jakarta atau di ibukota provinsi, sebaliknya justru mesti berada di kabupaten.

Anakku, janganlah Engkau pernah berkecil hati hidup sederhana sebagai PNS di suatu kabupaten.Tidak ada kewajiban bagimu untuk dapat seperti ayahmu atau menjadi orang seperti ibu.Juga tidak ada kewajibanmu, untuk dapat seperti kakakmu yang sekarang sedang mengejar gelar Ph.D di Cornell University.Setiap orang punya jalan hidupnya sendiri-sendiri. Maka, be yourself.Jadilah dirimu sendiri.

Anakku, ibu takkan pernah berkecil hati, jika sampai ibu tiada, dengan gajimu sebagai PNSitu Engkau tidak pernah mampu membelikan sesuatu untuk ibu.Sebab, tugas seorang anak bukanlah mem-bahagiakanorangtuanya dengan sukses materi.Bagi ibu, tugasmu sebagai anak, pertama, tidak memberi malu orang tua.Kedua, sedapatnya memberi ke-banggaan pada orang tua melalui dedikasi dan prestasimu di tengah dan kepada masyarakat, bangsa, dan agama.

Sebagai penutup, ibu coba terjemahkansecara bebas puisi Doughlas Malloch yang berjudul “Akar-akar Pohon” untukmu.Semoga, maknanya dapat Engkau renungkan.

Bila Anda tak bisa menjadi pohon cemara di atas bukit.Jadilah belukar di lembah.Tapi jadilah belukar indah di pinggir parit.Jadilah perdu bila tak bisa jadi pohon.Bila tak bisa jadi perdu jadilah rumput.Dan buatlah jalan-jalan jadi semarak.

Bila tak bisajadi gurame jadilah teri.Tetapi teri yang paling indah di tambak.Tidak semua kita bisa menjadi boss atau komandan.Harus ada yang jadi anak buah atau pasukan.Semua itu, masing-masing sama pentingnya.Ada pekerjaan yang besar, ada pekerjaan yang kecil.Semuanya harus dilakukan.Dan tugas yang kita kerjakan adalah yang terdekat dengan kita.

Bila Anda tak bisa jadi jalan besar jadilah pematang.Bila Anda tak bisa jadi matahari jadilah bintang.Bukan besarnya yang mengukur anda kalah atau menang.Yang penting jadilah wajar dan matang.”

Akhirnya, Sang Ibu merasa puas dan lega dapat menulis surat untuk anaknya, apalagi juga dengan mengutip puisi Doughlas Malloch yang sejak dia mahasiswi dulu sudah amat disukainya.Dilipatnya kertas putih yang telah ditulisnya itu dan di-masukkannya ke dalam amplop.Besok pagi, dia sendiri yang akanmemposkansurat ituke kantor pos –suatu kegiatanyang sudah lama tidak dilakukannya.***

by : Anonymous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.